Home Olahraga Mengawali Giat Tahun Baru 2022, BNB CC Gowes Kunjungi Pasar Tradisional Yogyakarta

Mengawali Giat Tahun Baru 2022, BNB CC Gowes Kunjungi Pasar Tradisional Yogyakarta

73
0
Anggota BNB CC saat gowes kunjungi Pasar Ngasem yang merupakan bagian dari heritage wilayah Njeron Beteng Kraton Yogyakarta, Sabtu (1/1/2022). Foto: Kiriman Susilo.

BERNASNEWS.COM — Salah satu referensi menyatakakan pasar tradisional merupakan pasar di mana kegiatan penjual dan pembelinya dilakukan secara langsung dalam bentuk eceran dalam waktu sementara atau tetap dengan tingkat pelayanan terbatas. Selanjutrnya Widiyanto  (2009)  menyebutkan pasar tradisional merupakan pasar yang berkembang di masyarakat dengan pedagang asli pribumi.

“Pasar tradisional biasanya muncul dari kebutuhan masyarakat umum yang membutuhkan tempat untuk menjual barang yang dihasilkan. Sedangkan konsumen yang membutuhkan barang tertentu untuk kebutuhan hidup sehari-hari bisa mendapatkannya di situ,” terang Widiyanto, di dalam buku karyanya.

Pasar Tradisional Pawirotaman di Jalan Parangtritis Yogyakarta merupakan pasar tradisional berkonsep modern yang dibangun oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, Sabtu (1/1/2022). Foto: Kiriman Susilo.

Di  Kota Yogyakarta terdapat pasar tradisional yang bersejarah yaitu Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan dan Pasar Legi Kotagede. Pasar tradisional yang lain misalnya Pasar Ngasem, Pasar Prawirotaman dan Pasar Sentul. Dinamikian kegiatan di pasar tradsional cukup menarik untuk dikemas sebagai obyek wisata, oleh karena itu Komunitas Bersepeda Normal Baru Cycling Club (BNB CC) bertepatan tahun baru menyelenggarakan gowes kunjungi pasar tradisional, Sabtu (1/1/2022).

“Dinamika ekonomi masyarakat tercermin dari aktivitas yang terjadi di pasar tradisional,” ungkap Ahmad Ma’ruf, Dosen FEB UMY yang juga pengurus ISEI Cabang Yogyakarta.

Menurut Ma’ruf, kegiatan jual beli di pasar tradisional menunjukkan bahwa roda ekonomi masyarakat tetap dapat berjalan. Secara makro, masyarakat tetap melakukan konsumsi sehingga variabel konsumsi ini secara agregat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. “Untuk diketahui, variabel konsumsi di DIY menyumbang kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi baik sebelum dan sesudah pandemi,” ujar Ma’ruf.

Perekayasa BRIN Bakti Wibawa mengatakan, bahwa pasar tradisional di Kota Yogyakarta dapat menjadi salah satu obyek wisata. Pasar tradisional di Kota Yogyakarta setelah dilakukan revitalisasi kondisinya saat ini pada umumnya cukup bersih dan rapi. Kebersihan dan kerapian pasar tersebut tetap perlu ditingkatkan sehingga menjadi pasar yang nyaman dan aman bagi pengunjungnya.

“Selanjutnya penataan parkir kendaraan pengunjung ketertiban dan kerapiannya juga perlu ditingkatkan,” harap Bakti Wibawa yang juga Wakil Ketua ISEI Cabang Yogyakarta.

Salah satu pasar tradisional yang menjadi ikon Kota Yogyakarta dalam penyediaan bahan-bahan kuliner yaitu Pasar Pathuk. (Foto: Kiriman Susilo)

Sementara itu Koordinator BNB CC, Y. Sri Susilo dalam kesempatan tersebut menambahkan, bahwa sebagian besar pengunjung dan pedagang cukup baik menerapkan protokol kesehatan, khususnya dalam mengenakan masker.

“Protokol kesehatan yang relatif sulit diterapkan adalah menjaga jarak sehingga kerumunan tetap terjadi. Untuk itu diperlukan kesadaran dari pengunjung and pedagang untuk menegakkan protokol kesehatan dengan disiplin,” tegas Dosen FBE UAJY yang hobi gowes dan kuliner itu.

Aktivitas gowes susur pasar tradisional menempuh jarak sekitar 15 km. Rute yang ditempuh dimulai dari Langenastran Lor , Pasar Kluwih Suryoputran, Kraton, Pasar Ngasem, Pasar Pathuk, Pasar Senen, Pasar Serangan, Pasar Legi Patangpuluhan, Pasar Condonegaran, Pasar PASTY, Pasar Prawirotaman , Pasar Gading dan berakhir di Langenastran Kidul.

“Sabtu mendatang kami masih akan mendatangi pasar tradisonal di Kota Yogyakarta dan sekitarnya yang belum sempat kami kunjungi,” Y. Sri Susilo dalam rilisnya. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here