Home News Mengajak Pemuda Desa Peduli Sampah Melalui “KaMu BTS”

Mengajak Pemuda Desa Peduli Sampah Melalui “KaMu BTS”

572
0
Staf pengajar dan mahasiswa Stikes Bethesda Yogyakarta bersama warga Padukuhan Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, berkomitmen untuk mengelola sampah di lingkungan setempat. Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM – Teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah sudah sering diciptakan oleh berbagai perguruan tinggi. Namun mengelola sampah dari sumbernya, yakni langsung mengedukasi publik dalam mengolah sampah menjadi hal yang penting dilakukan, terutama lembaga akademik.

Hal inilah yang terlihat di Padukuhan Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman selama sepekan terakhir, di bulan November 2020 ini. Bersama pemuda dan warga setempat, salah satu civitas akademika di Yogyakarta, melalui program pengabdian masyarakat berbaur dan bersinergi bersama warga mengelola sampah anorganik guna dijadikan barang yang bermanfaat. Salah satunya aksesoris pakaian.

Seorang staf pengajar Stikes Bethesda Yogyakarta Mei Rianita E Sinaga S.Kep.,Ns.,M.Kep., memberikan edukasi pengelolaan sampah dan lingkungan kepada warga Padukuhan Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Foto : Istimewa

Kepala Padukuhan Wonorejo Monika Esti Widyaningsih mengungkapkan kegiatan seperti ini sebagai sarana membangun relasi antara warga masyarakat dan perguruan tinggi. “Kami juga bertambah relasi, tambah pengetahuan, juga tambah ketrampilan, khususnya dalam mengolah sampah organik dan anorganik,” terangnya.

Esti menambahkan, kaum muda di wilayahnya juga terbantu dalam merencanakan, merumuskan dan melaksanakan program-program kerja. Terlebih dalam membentuk kader muda peduli sampah.

Hal senada disampaikan Staf Dosen Stikes Bethesda Yakkum Yogyakarta, Mei Rianita Elfrida Sinaga, S.Kep,Ns,M.Kep. Pihaknya menyampaikan, kegiatan tersebut dalam rangka pengabdian masyarakat yang dilakukan institusi pendidikan sebagai wujud kepedulian dan Tri Dharma perguruan tinggi.

Sejumlah warga Padukuhan Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman sedang mempraktekkan pembuatan bros sebagai aksesoris baju dari bahan daur ulang sampah anorganik di padukuhan setempat. Foto : Istimewa

“Kegiatan ini kami beri nama Strategi Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat “KaMu BTS” singkatan dari Kader Muda Bergerak Tuk Sampah,” paparnya.

Sejumlah program dilakukan sejak 23 Oktober hingga 8 Desember 2020, mulai dari (1) pembentukan kader muda, (2) pemberian materi terkait PHBS, pengelolaan sampah dan dampaknya, (3) pelatihan membuat kreativitas kerajinan tangan dari sampah anorganik, dan (4) pemasaran hasil kreativitas dari pemuda setempat.

Program ini dilakukan secara online dan offline. Dengan melibatkan pemuda dan pemudi Padukuhan Wonorejo sejumlah 20 orang. Juga 10 mahasiswa dari berbagai tingkat program studi S1 keperawatan. Mulai semester 3 program regular maupun lintas jalur, 5, dan 7.

“Kegiatan ini didampingi 3 dosen yang fokus di bidang keperawatan komunitas. Ini juga untuk pencegahan Covid-19 melalui kader pemuda yang sadar lingkungan,” terang Mei.

Seorang warga Wonorejo Artika Novitasari berujar dengan kegiatan tersebut, wawasan tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS) jadi lebih baik. Juga pengelolaan sampah yang dianggap sepele jadi barang yang lebih berharga.

“Meski awalnya ragu, karena yang akan dilibatkan para pemuda. Setelah berprose jadi lebih dinamis. Harapannya bisa terbentuk bank sampah,” ungkap Yossi Dina Pratiwi, mahasiswa (S1) jurusan Keperawatan.

Kegiatan yang melibatkan sejumlah dosen dan mahasiswa juga pemuda desa ini, ingin mengajak publik mengenal lebih dekat aktivitas pemuda sebagai kelompok potensial yang selalu dinamis, kreatif dan idealis. Demi terwujudnya permukiman desa yang maju, nyaman dan ramah lingkungan. (AG Irawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here