Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMendalami Konsep Human Relations

Mendalami Konsep Human Relations

bernasnews.com – Dalam membangun hubungan insani (human relations), mengelola komunikasi yang bersifat internal dan eksternal  secara benar dan tepat bukanlah suatu yang mudah, lebih-lebih komunikasi yang bersifat informasi yang harus disampaikan pada publik memerlukan data dan fakta yang akurat. Aspek ini sangat penting dipahami, utamanya oleh insan yang berada atau bertugas di bagian kehumasan, baik kehumasan yang bergerak di bidang jasa maupun kehumasan yang bergerak di bidang manufaktur, bidang sosial, kemasyarakatan, dan tata pemerintahan.

Pada sisi lain keberhasilan dari organisasi, baik yang profit oriented maupun yang non profit oriented, dalam mencapai tujuannya ditentukan oleh berbagai variable saling mendukung dan terkait. Salah satu variable itu adalah hubungan insani (human relations). Di dalam aktivitasnya unsur ini selalu melibatkan interaksi antara dua  atau lebih yang saling mempunyai kepentingan karena, sesuai dengan kodratnya, manusia pada dasarnya mempunyai keinginan untuk saling berinteraksi atau berhubungan. Sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh F. Rachmadi (1992 : 62), manusia memang dapat disebut sebagai homo communicus, yaitu bahwa manusia sebagai makhluk sosial selalu mengadakan hubungan dan interaksi dengan manusia sesamanya karena mereka saling memerlukan dan hanya bisa berkembang melalui komunikasi.

Saat ini mendengar kata “Human Relations.” Tidaklah asing, sebab kata relasi dalam hal ini pasti ada lebih dari satu pihak yang terlibat dan saling berinteraksi. Keith Davis (Oemi, 1993 : 80-81) menyatakan bahwa : Ditinjau dari sudut pimpinan yang bertanggung jawab untuk memimpin kelompok, “human relations” adalah interactive dari orang-orang ke dalam suasana kerja dengan motivasi, mereka akan bekerja bersama-sama secara produktif, cooperative dengan kepuasan baik mengenai segi-segi ekonominya maupun psychologisnya dan sosialnya)

Istilah “Human Relations,” pengertiannya dapat diterapkan secara luas dalam interaksi manusia disegala bidang kegiatan, baik dalam bidang bisnis, pemerintahan, sekolah, lembaga-lembaga social maupun badan-badan yang terorganisir. Dalam pergaulan sehari-hari antara individu dengan individu baik dalam lingkup yang sempit maupun dalam lingkup yang luas, human relations merupakan faktor yang dominan. Karena merupakan faktor yang dominan, maka sarana yang diperlukan adalah adanya komunikasi dan informasi yang baik. Komunkasi yang baik adalah komunikasi yang bersifat timbal balik atau komunikasi dua arah (two way traffic communication), dalam hal ini adanya suatu respons dan stimulus. Dengan demikian, komunikasi merupakan suatu proses yang mengandung tiga unsur minimal, yaitu pengirim, pesan, dan penerima.

Keith Davis (terj.Oemi, 1993:82)  mengemukakan bahwa yang menjadi dasar falsafah hubungan insani adalah: Kepentingan bersama, perbedaan-perbedaan pada individu; dan harga diri. Dasar falsafah yang pertama yaitu, kepentingan bersama (mutual interest), pada intinya memberi penjelasan bahwa pimpinan tidak akan mencapai tujuan tanpa bantuan orang lain atau para pegawainya. Demikian pula para pegawai/ karyawan tidak akan dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang teratur dan bukan merupakan kelompok yang terorganisaikan tanpa kepemimpinan (leadership) yang baik. Tujuan atau sukses hanya dapat tercapai bila pemimpin dan para pegawai dapat bersatu dan bekerja sama dalam memperjuangkan kepentingan bersama.

Dasar falsafah yang kedua, yaitu perbedaan-perbedaan individu (Individual differences), menjelaskan bahwa tiap individu berbeda dengan individu lainnya dan perbedaan-perbedaan yang ada pada tiap orang merupakan hal yang penting sekali di dalam kehidupan manusia. Semenjak lahirnya manusia merupakan hal yang unit di dalam penghidupan sehari-hari. Hubungannya dengan orang-orang lain, dengan bermacam-macam benda, dan berbagai kejadian, membuat dia lebih berbeda daripada yang lain. Perbedaan yang ada merupakan bagian dari pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, agar para karyawan dapat merasa puas dalam melakukan pekerjaannya, mereka harus diperlakukan berdasarkan perbedaan-perbedaan individu, maka falsafah hubungan insani harus dimulai dari individu.

Dasar falsafah yang ketiga, yaitu harga diri (human dignity), mengungkapkan bahwa harga diri merupakan suatu etika dan dasar moral bagi hubungan insani. Tap manusia ingin dihargai, ingin diperlakukan sebagai manusia, karena manusia mempunyai harga diri, hal ini disebabkan karena manusia mempunyai harga diri. Dari hasil penelitian seperti yang dikemukakan oleh David Mc Clelland (Ranupandojo, 1987 :4-5) terlihat banyak faktor penyebab timbulnya kemajuan dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Secara garis besar faktor penyebab tersebut dapat dipisahkan menjadi dua kelompok besar yaitu  faktor manusia dan faktor tata kerja.  Faktor manusia merupakan faktor penyebab yang banyak diteliti oleh para ahli psikologi dan para peneliti berhasil menemukan “Virus Mental.” Virus mental ini dinamainya “ N-Ach” (Need for Achievement).

Virus mental yang mampu menyebabkan seseorang dapat berfikir dan berbuat lebih baik (dalam hal tindakan sehari-hari seperti keramahan dalam pelayanan, kesopanan dalam berbicara dan bertingkah laku, serta interaksi dengan sesama) akan membawa dampak yang luas bagi kemajuan organisasi dan ini merupakan salah satu bekal di dalam penerapan hubungan insani. Berkat jangkitan virus mental menyebabkan pula orang untuk tidak jemu-jemunya menemukan dan merumuskan ilmu pengetahuan baru.

Uraian tersebut secara jelas menyinggung faktor manusia yang menjadi pusat perhatian di dalam kerangka berfikir hubungan insani. Pernyataan ini searah dengan pendapat F. Rachmadi (1992 : 117-118) bahwa titik sentral hubungan insani adalah manusia, dengan segala kepelikan sikap, perilaku dan rohaniahnya; juga keanekaragaman status sosial, agama, kepercayaan, pendidikan, cita-cita dan lain-lain tidak terlepas dalam berhubungan dan berinteraksi dengan manusia lain. Hubungan antar manusia mempunyai tujuan tertentu, yaitu untuk memelihara harmoni, saling mempengaruhi, mengubah sikap dan perilaku dan sebagainya.

Dengan demikian, hubungan antar manusia yang baik sangatlah besar artinya bagi kelangsungan hidup organisasi. Hal ini telah dibuktikan oleh Elton Mayo dalam suatu percobaan Hawthone dan oleh David Mc. Clelland lewat teorinya mengenai virus mental yang ada pada diri manusia yang menyebabkan orang akan bertingkah laku lebih baik dan berupaya untuk mencapai prestasi. Setiap orang yang terkena virus “ N-Ach” ini sangat besar arti dan kontribusinya terhadap pencapain tujuan organisasi, baik organisasi yang profit oriented maupun yang tidak. Tentu kedua hal di atas pun sangat relevan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Keith Davis bahwa orang dapat mencapai prestasi bila saling berinteraksi atau berhubungan dengan baik diantara manusia yang ada dalam organisasi tersebut. Selain itu, tujuan suatu organisasi dapat pula dicapai jika tiga dasar falsafah hubungan insani yang dikemukakan oleh KC Ingram, yaitu kepentingan bersama, perbedaan-perbedaan pada individu dan harga diri benar-benar dapat dilaksanakan secara baik. *). Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala/Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta.

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments