Home News Mendagri Dorong Pemda Bentuk UPTD Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan

Mendagri Dorong Pemda Bentuk UPTD Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan

468
0
Staf Khusus Mendagri Dr Kastorius Sinaga. Foto : Dok Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Mendagri Tito Karnavian akan menggalakkan peran Pemda dalam perindungan anak dan perempuan dari kekerasan. “Perempuan dan Anak-anak adalah kelompok masyarakat paling rentan terhadap kekerasan, baik fisik, verbal maupun kekerasan psikologis, karena itu mereka harus dilindungi,” ujar Mendagri Tito seperti dikutip Staf Khusus Mendagri Dr Kastorius Sinaga dalam rilis yang dikirim ke Bernasnews.com, Senin (20/1/2020).

Tugas pemerintah, khususnya pemerintah daerah, menurut Mendagri, untuk melindungi kelompok rentan ini agar mereka terbebas dari ancaman kekerasan baik bersifat domestik maupun dari lingkungannya.

Sebagaimana diketahui, upaya dan langkah Gubernur, Bupati, Walikota beserta jajarannya dalam perlindungan anak dan perempuan terhadap kekerasan masih sangat minim. Ini terbukti dari jumlah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) sebagai lembaga pelaksana hanya berjumlah 98 UPDT atau 17 persen dari 548 kabupaten/kota dan provinsi yang ada di seluruh Indonesia.

Artinya, 82 persen dari total 548 pemerintah daerah kabupaten/kota dan provinsi belum memiliki instrumen kelembagaan, anggaran dan personalia untuk melakukan program pencegahan, penanganan dan perlindungan anak-anak dan perempuan yang merupakan korban kekerasan.

Data tersebut cukup memprihatinkan. Karena itu, Mendagri akan memberi tenggat waktu 3 bulan ke depan agar seluruh Pemda membentuk UPTD Perlindungan Anak dan Perempuan di wilayah masing-masing. UPTD adalah instrumen pokok bersifat kelembagaan yang dilengkapi dengan sistem anggaran, personalia dan sarana prasarana guna menjalankan sebuah program di daerah.

“Tiga bulan cukup. Saya akan keluarkan surat edaran untuk pembentukan UPTD ini. Nanti, saya akan kerahkan juga direktorat tang relevan dan inspektorat jenderal di jajaran Kemendagri untuk membina dan mengawasi Pemda agar benar-benar membentuk dan menjamin unit tersebut operasional,” kata Mendagri Tito secara detail.

Indikator minimum atas ini adalah tersedianya sarana, misalnya, “Rumah Aman” bagi korban kekerasan di setiap kabuten/kota dan propinsi serta adanya berbagai upaya sosialisasi pencegahan.

“Dalam Ratas Kabinet minggu kemarin, Presiden telah menekankan pentingnya program perlindungan ini seiring dengan prioritas visi misi Presiden di dalam pengembangan SDM unggul,” kata Mendagri Tito.

Kementerian Dalam Negeri yang merupakan pembina dan pengawas jalannya roda pemerintahan dan pembangunan daerah merasa berkewajiban mendorong Pemda untuk serius melakukan program ini di daerahnya masing-masing. Perlindungan dan pencegahan anak dan perempuan dari tindak kekerasan merupakan hal yang sangat elementer untuk meningkatkan kualitas SDM yang unggul.

“Bukan saja hanya aspek recovery (pemulihan) yang kita tekankan kepada Pemda dalam program ini, namun juga aspek pencegahannya, termasuk iklim sosiologis di masyarakat agar masyarakat semakin ramah terhadap kelompok rentan anak dan perempuan,” ujar Mendagri. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here