Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeOpiniMencoba Mengembangkan Penulisan Feature Esai

Mencoba Mengembangkan Penulisan Feature Esai

bernasnews.com – Tentu saja puisi tidak hanya mengandung puitika. Ia juga bisa mengandung kisah, sikap, opini, argumentasi, esai. Imajinasi (puisi) beriteraksi dengan fakta. Ilham puisi tidak muncul dari langit kekosongan lantas jatuh di atas kertas putih kosong di hadapan penyair.

Menulis puisi adalah merespons fakta-fakta kehidupan, ayat-ayat kehidupan atau peristiwa yang telah tertuliskan. Puisi tidak ditulis di atas kertas kosong. Menulis puisi adalah menulis di atas tulisan. Mempertebal, menggarisbawahi tulisan kehidupan/peristiwa/makna yang telah ada atau yang sedang terjadi.

Puisi yang mempertebal tulisan kehidupan adalah puisi yang melawan lupa. Puisi sosial atau puisi perlawanan lainnya sering bisa dimasukkan dalam jenis ini. Di sisi lain, menulis adalah upaya untuk menutup atau melupakan ayat kehidupan yang ada.

Sastrawan dan budayawan Sutardji Calzoum Bachri mengemukakan hal itu dalam esai Satu Tulisan Pendek atau Lima Puisi Panjang di buku Puisi Esai – Kemungkinan Baru Puisi Indonesia (JurnalSajak, 2013).

Dari cuplikan tulisan di atas ada tiga kata kunci yang menjadi bagian dari rumpun karya tulis di media massa. Kata kunci itu adalah : fakta – opini – imajinasi (fiksi). Bentuk tulisan fakta diwakili oleh feature (selain berita langsung dan berita laporan). Bentuk tulisan opini diwakili oleh esai (selain tajuk rencana, pojok, karikatur, surat pembaca, artikel, news analysis, kolom dam resensi buku). Dan bentuk tulisan fiksi diwakili puisi (selain pentigraf, cerita mini, cerita pendek, novelet, novel, humor, dan sebagainya).

Teori jurnalistik mengajarkan, penulisan fakta itu harus murni. Tidak boleh dicampuri unsur opini dan apalagi fiksi. Sebaliknya, opini dan fiksi boleh dicampuri fakta. Opini dan fiksi pun boleh saling mengisi.

Artinya, bentuk tulisan fakta tidak boleh menggandeng opini dan puisi, kecuali disampaikan oleh narasumber dan bukan penulis atau wartawannya. Sebaliknya, opini mau menggandeng atau lebih tepatnya digandeng fakta,. Buktinya ada news analysis, yang tulisannya hadir bersamaan dengan berita langsung, berita laporan dan berita kisah (feature) dalam satu topik yang secara teori dinamakan blow up news.   

Lalu ada lagi kolom atau rubrik Foto Esai atau Esai Foto, yang biasanya muncul di edisi minggu koran harian. Dinamakan Foto Esai kalau unsur fotonya lebih dominan dari pada esainya. Sebaliknya, dinamakan Esai Foto kalau unsur tulisan esai lebih dominan dari fotonya.

Artinya, rumpun fakta (yang diwakili foto) mau menggandeng dan digandeng opini (yang diwakili esai). Kira-kira, ada kemungkinan lain tidak : fakta menggandeng dan digandeng rumpun lain? Kita lihat perkembangan kepenulisan kini dan mendatang.

Sebagai gong gandeng – menggandeng, ada bentuk tulisan baru bernama Puisi Esai yang muncul sekitar sepuluh tahun silam atau mungkin lebih. Dari namanya sudah jelas, karya puisi yang ditulis bak esai. Biasanya, karya tulis ini teksnya cenderung panjang atau setidaknya lebih panjang dari teks puisi biasa. Tapi nuansa puitisnya tetap terasa. Unsur faktanya juga lebih kuat ketika memotret “manusia grobak” atau kehidupan marjinal lainnya.

Feature esai

Secara terpisah, baik feature di rumpun fakta dan esai di rumpun opini, sebagai karya tulis memang seksi. Artinya, memiliki daya tarik kuat yang mengundang pembaca untuk membacanya. Di sisi lain, penulis feature atau esai memang harus ekstra cermat dalam memilih kata atau diksi, lead atau angle, isi dan penutup. Secara keseluruhan, tulisan feature dan esai jangan sampai “kalah menarik” dibanding tulisan lain. 

Salah satu keunggulan dari feature dibanding berita langsung (hard news) adalah, naskah feature tidak boleh dipotong oleh copy editor atau redaktur penyalaras bahasa khususnya di media cetak. Harap maklum, media cetak dibatasi space kolomnya. Sedangkan media online tidak dibatasi. Untuk berita langsung, secara teori boleh dipotong ekor atau penutupnya kalau space terbatas atau tiba-tiba ada iklan masuk. Itulah mengapa, penulisanan berita langsung harus berpola piramida terbalik : yang penting di atas dan kurang penting di bagian bawah. Naskah feature relatif boleh agak panjang dan “tidak boleh” dipotong, kecuali ditulis ulang.

Namun apakah naskah feature harus relatif panjang atau hanya muncul satu kali dan bersifat selalu hijau (ever green) alias tidak mudah basi? Jawabnya tidak juga. Ada feature yang relatif  lebih pendek, namanya soft news. Di media, ada yang diberi kolom Nama dan Peristiwa, Tokoh, dan sebagainya. Lalu ada bentuk lain feature yang boleh bersambung yakni developing news stories. Sedangkan feature yang diprogram hadir bersama berita langsung dinamakan news feature.  

Lalu bagaimana dengan gagasan, kemungkinan atau apapun namanya : feature esai? Kalau mengacu pada teori bahwa fakta tidak boleh dicampuri opini, maka bentuk tulisan ini gugur. Tidak boleh dihasilkan oleh wartawan dari ruang redaksi media arus utama. Kecuali seperti disampaikan di atas, opini atau pendapat dalam tulisan itu harus dari narasumber.

Namun bagaimana kalau “pendapat” itu muncul karena kebersamaan penulis dalam fakta yang dihadapi itu (begitu) menyentuh, bermakna dan tidak dominan. Artinya, keputusan pemaknaan tulisan tetap diserahkan kepada pembaca. Di sisi lain, ini yang barangkali dapat “diterima” oleh fakta, yakni taste atau gaya penulisan feature bak esai. Karena prinsip esai itu adalah : (materi) tulisan boleh sederhana atau hal kecil, tapi penulisannya harus menyentuh kalbu terdalam setiap insan. 

Secara pribadi, penulis akrab dengan karya tulis feature dan esai. Pernah dan sesekali menulis karya tulis itu, meski masih jauh dari sempurna. Untuk penulisan feature, ada kenangan tersendiri karena bentuk karya tulis itu sebagai mata kuliah pertama penulis sebagai dosen tamu di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta pada tahun 1993 yang lalu.

Di rumah kebetulan ada beberapa buku yang antara lain berisi tulisan bergaya dobel itu : feature esai. Nuansa faktanya jelas, sedangkan taste esainya terasa. Artinya, untuk penulisan non-media massa yang di akhir tulisan ada tambahan unsur refleksi, barangkali tulisan itu dapat diterima dengan senang hati. Toh pembaca karya tulis itu sudah paham dan dapat membedakan mana unsur fakta dan unsur refleksi penulis.

Pada akhirnya memang, tulisan rumpun fakta boleh “iri” terhadap rumpun opini dan rumpun fiksi yang leluasa mengadopsi unsur fakta dengan gaya bahasa lebih bebas. Sedangkan fakta memiliki aturan ketat yang harus dipatuhi penulisnya (baca : wartawan). Materi tulisan harus faktual akurat dan teks ekonomi kata. Untunglah, fakta masih punya bentuk tulisan feature yang relatif luwes untuk menggandeng atau digandeng rumpun lain. Paling tidak dari sisi taste atau rasa penulisannya. Bentuk baru tulisan itu dinamakan feature esai. Semoga boleh diciptakan sebagai karya tulis, meski harus di luar ranah jurnalistik media atau di luar wadah media arus utama. Toh setiap tulisan pasti ada pembacanya. Bukan tidak mungkin, feature esai diam-diam mulai memiliki penggemar karena pesonanya ada. Pesona itu adalah faktual, bermakna, reflektif, menarik dan indah kalimat tulisannya. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Praktisi Literasi).     

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments