Tuesday, May 24, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMenciptakan Pembelajaran yang Transformatif

Menciptakan Pembelajaran yang Transformatif

bernasnews.com – Pembelajaran transformatif (transformative learning) yang digagas oleh Jack Mezirow (1994-2014) memiliki latar belakang yang cukup mendalam karena berasal dari sebuah kesadaran tentang perjalanan hidup. Saat orang mengalami krisis hidup, mereka akan berhadapan dengan dilema nilai-nilai hidup. Pada saat itu keyakinan-keyakinan mereka yang lama sebelumnya mereka hidupi dipertanyakan dan mereka menemukan adanya nilai-nilai hidup baru yang mereka anggap lebih berharga dan pantas untuk dihayati.

Kurikulum Kampus Merdeka yang telah dirancang sangat sesuai dalam mengimplementasikan pembelajaran transformatif, kurikulum Kampus Merdeka dipandang lebih relevan dan interaktif karena peserta memiliki kesempatan lebih besar dalam mewujudkan minat, bakat dan aspirasinya dengan mendalami isu-isu yang aktual.

Pembelajaran transformatif adalah cara mendidik yang memberi kuasa kepada peserta didik untuk mendidik dirinya sendiri melalui pengalaman-pengalaman yang berhadapan dengan realitas-realitas. Banyak pemikir dalam dunia pendidikan yang percaya bahwa sistem pendidikan tidak cukup hanya memampukan orang untuk sampai pada tahu belaka (what students know), tetapi perlu sampai memberikan kepercayaan dan kesanggupan peserta didik untuk menjadi apa atau siapa mereka (who they become) (Haryadi, 2015). Namun tentunya terdapat tantangan dalam menjalankan dan menghidupi pembelajaran transformatif, salah satunya adalah globalisasi kedangkalan yang kian masif.

Tantangan dalam Pembelajaran
Mengutip pernyataan Nicolas, 2020 menyatakan bahwa Globalisasi kedangkalan (globalization of superficiality) merupakan akibat negatif dari globalisasi, dimana pola berpikir secara kritis dan serius, yang merupakan kerja keras dan dilakukan dengan susah payah, sering diterobos dan tidak mendapat tempat yang selayaknya. Orang kehilangan kemampuan untuk menanggapi realitas, yaitu proses dehumanisasi yang bertahap dan diam-diam tetapi nyata.

Contoh konkretnya adalah adanya sosial media dengan ragam dan fitur-fitur yang dimiliki seringkali membuat orang terlena dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana dan tidak berbuah pada hal yang mendukung produktivitas, terlebih pada usia anak dan dewasa yang masih mengenyam bangku pendidikan, dimana seyogyanya mereka lebih banyak membaca (baik buku maupun e book)
Hal tersebut berdampak cukup signifikan terhadap tingkat literasi membaca. Menurut data Kemdikbud, 2019 Indeks Alibaca nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, sedangkan pada indeks provinsi sebanyak 9 provinsi masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi masuk dalam kategori rendah, dan 1 provinsi masuk dalam kategori sangat rendah.

Fenomena globalisasi kedangkalan juga dapat dibuktikan ketika tugas sekolah maupun kuliah seringkali mengandalkan aplikasi mesin pencari. Aplikasi tersebut memang memudahkan kita untuk mengetahui berbagai informasi dalam hitungan detik, namun demikian hal tersebut dapat menggerus daya kita sehingga semakin tumpul baik secara batin maupun intelektual.

Situasi ditambah dengan kondisi pandemi yang masih terjadi dan berdampak pada ketertinggalan pembelajaran (learning loss). Semua hal tersebut berdampak negatif pada pola perilaku. Segala sesuatu dilakukan dengan instan dan tanpa memakai rasa, sehingga sering kita kehilangan rasa itu sendiri. Akibatnya adalah pola pikir yang dangkal, dan langsung berkomentar terhadap suatu fenomena bahkan ikut menyebarkan berita tanpa mau tau kebenarannya.

Proses Pembelajaran yang Bermakna
Diperlukan sikap yang adaptif dan cepat tanggap dalam menghadapi dunia pendidikan dengan segala tantangannya. Pendidik harus mampu mensinergikan antara proses pembelajaran yang transformatif dengan tetap mengantisipasi adanya globalisasi kedangkalan. Proses pembelajaran perlu dikemas secara aktif dan kreatif dengan memperhatikan perkembangan zaman, agar baik pendidik maupun peserta didik dapat semakin selaras dengan situasi terkini.

Pendidik dewasa ini, terlebih dengan dukungan kurikulum Kampus Merdeka tidak perlu terburu buru dalam menyampaikan materi dan bertarget pada “selesai” nya materi untuk setiap akhir pembelajaran, namun yang terpenting adalah fokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya.

Pendidik dapat menggunakan energinya secara lebih untuk merancang metode pembelajaran yang inspiratif agar lebih menyenangkan peserta didiknya. Tentu menyenangkan yang dimaksud dalam hal ini bukanlah perasaan senang dalam artian santai, namun lebih pada perasaan bahagia dan antusiasme dari peserta didik ketika mengikuti pembelajaran.

Perlu peran pengelola Lembaga Pendidikan dan pemangku kebijakan terkait dalam memberikan pelatihan secara terstruktur dan sistematis bagi para tenaga pendidik agar mampu menciptakan pendidik yang inspiratif dan transformatif. Tenaga pendidik dalam hal ini adalah untuk semua level jenjang pendidikan dan wilayah, karena tidak menutup kemungkinan tenaga pendidik di level perguruan tinggi yang berada di kota juga belum menerapkan proses pembelajaran yang inspiratif dan transformatif.
Proses pembelajaran yang berfokus pada kedalaman materi sangat baik jika didukung dengan semangat untuk memberikan perhatian pada masing-masing individu peserta didik dengan segala keunikan dan kekhasannya yang tercermin pada pola perilaku. Proses tersebut merupakan cura personalis yaitu pengenalan pribadi dan relasional antar manusia. Dengan menerapkan semangat ini, maka proses pembelajaran merupakan wujud nyata dalam memanusiakan manusia.

Selain itu, proses pembelajaran secara mendalam didukung peran pendidik dengan metodenya yang inspiratif dan transformatif dapat membantu mereka dalam menemukan makna hidupnya. Mengutip dari Viktor E. Frankl dalam Man’s Search for Meaning yang menegaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk pencari makna hidup. Fenomena ini menyingkapkan daya batin manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial yang mengusiknya. Daya inilah yang memampukan manusia untuk menjadikan kehidupannya bermakna. (Januari Ayu Fridayani, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments