Thursday, June 30, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMencintai dan Dicintai Buku

Mencintai dan Dicintai Buku

bernasnews.com – Mencintai dan dicintai adalah salah satu kebutuhan utama bagi setiap insan ciptaan Tuhan, khususnya manusia. Manusia yang diberi akal dan budi oleh Sang Pencipta, semestinya mau dan mampu mencintai sesama lebih baik. Karena dengan mencintai lebih dulu, kita akan dicintai pula. Meski dalam kenyataan, tidak selalu seperti itu adanya.

Mencintai dan dicintai buku, apakah maknanya? Siapa yang harus mencintai dan dicintai buku? Di mana kita mencintai dan dicintai buku? Kapan kita (mulai) mencintai dan dicintai buku? Mengapa kita (harus atau tidak) mencintai dan dicintai buku? Bagaimana kita mencintai dan (dapat) dicintai buku?

Pepatah mengatakan, buku adalah “jendela” dunia. Karena melalui dan dengan membaca buku, kita akan bertambah pengetahuan dan wawasan. Sehingga seolah kita dapat melihat dunia yang luas di luar diri kita.

Buku juga dapat dianggap sebagai mitra belajar, guru, sumber inspirasi dan motivasi, serta sahabat setia. Maka dengan membaca, proses belajar terus berlanjut sepanjang hayat. Ketika kita belum memiliki banyak teman atau dalam kondisi tidak dapat bergaul secara luas, buku dapat menjadi pelipur. Buku dapat menjadi terapi kesehatan yang menyenangkan. Buku juga dapat menjadi kado atau sedekah yang bermanfaat bagi penerima.

Siapa yang harus mencintai dan dicintai buku, ya siapa saja yang ingin maju. Di mana mencintai dan dicintai buku, dapat di rumah, sekolah, kantor, toko buku, perpustakaan atau di mana saja. Kapan mencintai dan dicintai buku, mungkin pernah, mungkin belum. Kalau belum, sebaiknya mulai saja.

Sampailah kita pada pertanyaan : mengapa kita harus mencintai dan dicintai buku? Atau lontarkan ungkapan, mengapa kita tidak mencintai dan dicintai buku? Ini sebuah piihan awal yang akan sama-sama memperoleh hasil di kemudian hari.

Lalu bagaimana kita mencintai dan (dapat) dicintai buku? Sengaja kata dapat diberikan tanda kurung. Hal ini karena dalam kenyataan, ketika kita mencintai (seseorang atau sesuatu), bukankah belum tentu gayung bersambut atau timbal balik?

 Apakah kalau kita tidak kunjung dicintai buku, lalu tidak perlu mencintai produk budaya yang unik itu? Sebaliknya, dicintai, belum atau tidak, kita mulai saja mencintai buku. Biarlah waktu yang memberikan jawaban atau kejutan.

Buku-buku serial Perjumpaan yang Menginspirasi karya YBM. Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews.com

Sebuah pengalaman pribadi

Ini bukan soal konsep, teori atau sesuatu yang pasti adanya. Meski di awal tulisan ini memaparkan sebuah wacana yang menggunakan teori penulisan berita 5W + 1H yakni apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana. Itu hanya alat bantu untuk memudahkan dalam pemaknaan.

Jadi selanjutnya adalah sebuah pengalaman pribadi yang sederhana namun nyata. Salah satu pengalaman terbaru adalah kunjungan penulis ke kantor Yayasan Santo Dominikus Cabang Purwokerto, Jumat (17/6/2022).

Bertemu kepala kantor yang baru Sr. M. Leonyta, OP., S.Pd., mengingatkan kunjungan penulis empat tahun silam di lingkungan sekolah tersebut. Kunjungan untuk ceramah dan menghasilkan buku karya siswa. Buku itu bertajuk Mengembangkan Talenta dengan Semangat Studi dan Demokrasi – Refleksi Siswa-siswi Kelas 9 SMP Susteran Purwokerto. Penulis pengantar buku adalah Sr. M. Rosiana, OP., SPd.

Jauh sebelumnya, tahun 2013 penulis membantu penerbitan buku Dinamika Mendidik – Bunga Rampai Catatan tentang Semangat Santo Dominikus di SMP Joannes Bosco, Yogyakarta. Beberapa tahun kemudian, membantu penerbitan buku-buku karya siswa sekolah ini : Heart Like Yours, Rintik Rindu, Pelangi Setelah Hujan, Kacang Polong, Rotasi Semesta.    

Itu semua diawali dengan memberi pengalaman empiris senang membaca, merensi dan  menulis buku dalam kesempatan belajar bersama di workshop literasi sekolah. Menceritakannya dengan hati, meski dengan kisah sederhana.

Satu hari sebelumnya, Kamis (16/6), penulis berkesempatan diundang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Yogyakarta untuk diskusi buku Guru Itu Bernama Jogja. Buku terbitan tahun 2012 ini adalah karya mahasiswa penulis di masa lalu, mahasiswa FISIP UAJY. Penulis sebagai editor dan penulis kata pengantar. Kami mengerjakan buku itu secara sungguh-sungguh dan dengan cinta karena merupakan kebanggaan mata kuliah, prodi dan fakultas.

Bagi penulis, makna acara diskusi buku itu laksana “buah cinta” dari buku terbitan sepuluh tahun silam. Penulis menyajikan tema bahasan, Buku Itu Bicara dan Bekerja. Artinya, buku itu dan kiranya buku lain mampu bicara tentang sesuatu yang bermakna serta dapat bekerja “menembus” ruang dan waktu. Betapa Jogja dapat menjadi guru banyak hal bagi mereka mau belajar dan berkarya lebih baik.

Buku yang juga penulis cintai dan balik mencintai adalah serial Perjumpaan yang Menginspirasi. Buku ini sudah terbit lima judul dengan penerbit berbeda. Mengapa penulis mencintai buku serial itu? Karena buku ini mendokumentasi perjumpaan penulis sebagai jurnalis dan penulis yang sebelumnya terbit di media atau wawancara langsung. Apakah buku-buku itu mencintai penulis? Jelas, karena sahabat penulis bertambah dan selalu bertambah karena terus berinteraksi, bertemu banyak orang dalam berbagai kesempatan.

Mencintai dan dicintai buku bukan lagi keniscayaan, namun (apakah jadi) keharusan. Penulis sudah memulai dan merasakan. Mau mencoba mencintai dan dicintai buku? Mari kita melaksanakan Gerakan Literasi Nasional (GLN) dengan cinta. Salam literasi. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi).                                

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments