Home Opini Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Lewat Pemberantasan Buta Aksara

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Lewat Pemberantasan Buta Aksara

140
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Setiap tanggal 8 September dunia, termasuk Indonesia, memperingati Hari Aksara International (HAI). Tujuannya adalah untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya aksara atau literasi. Karena literasi termasuk martabat dan hak asasi manusia. Secara tidak langsung peringatan ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melek huruf atau melek aksara.

Peringatan HAI muncul setelah konferensi pemberantasan buta huruf di Teheran, Iran yang berlangsung dari tanggal 8 sampai 19 September 1965. Satu tahun berikutnya, tepatnya tanggal 8 September 1966 diperingati sebagai Hari Aksara International (HAI) yang pertama.

Peringatan HAI dilakukan setiap tahun sebagai upaya untuk memajukan agenda kesadaran di tingkat global, regional, hingga nasional. Meski begitu ternyata masih ada beberapa tantangan di bidang aksara atau literasi, termasuk Indonesia. Bahkan di Indonesia sendiri berdasarkan Survei Sosial Ekonomi BPS terdapat 3,29 juta orang atau 1,93 persen dari total populasi penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf pada tahun 2018, meskipun hal ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, yakni 2017, yang berjumlah 3,4 juta orang

Sesuai hasil Sensus Penduduk tahun 2020, data yang ada di Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia adalah 270.203.917 jiwa, yang kemudian mengalami peningkatan menjadi 272.229.372 jiwa pada tahun 2021 ini. Di sisi lain data BPS menyebutkan pula bahwa ternyata dari jumlah penduduk tersebut masih terdapat 6,44 persen penduduk yang masih buta huruf atau buta aksara, atau sebanyak 17.531.571 orang.

Berdasarkan data tersebut, maka sudah sepantasnya kalau negara kita, yakni pemerintah lewat kementerian terkait berupaya sedemikian rupa untuk menurunkan jumlah penduduk yang masih buta aksara tersebut. Bahkan kalau bisa diupayakan bahwa di negara ini tidak ada lagi penduduk yang masih buta aksara.

Ini berarti selalu ditempuh langkah-langkah untuk memberantas buta aksara tersebut dalam rangka mewujudkan kehidupan bangsa yang semakin baik seperti apa yang menjadi cita-cita kemerdekaan yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Perlu diingat bahwa pada setiap tanggal 8 September di seluruh dunia memperingati Hari Buta Aksara, yang pada dasarnya merupakan usaha untuk semakin mampu mewujudkan kesejahteraan umum bagi masyarakat yang ada di negara masing-masing.

Oleh sebab itu sangat wajar bila Indonesia kemudian bertekad bulat untuk melakukan pemberantasan buta aksara agar tidak ada lagi yang mengalami buta aksara di waktu mendatang, sehingga mampu mewujudkan cita-cita bangsa, khususnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentu saja apa pun usaha yang dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, perlu juga didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga menjadi hal yang tepat apabila kemudian ada rasa saling menolong antar warga yang ada di sekitarnya yang masih mengalami buta aksara, dengan cara tertentu, agar warga yang mengalami buta aksara tersebut menjadi melek aksara.

Karena hanya dengan cara inilah kehidupan mereka yang buta aksara tersebut dapat dipastikan akan mengalami perubahan dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk mereka akan semakin pintar karena dapat membaca dari berbagai berita di surat khabar, ataupun dari media-media yang lain. Tentu saja hal ini juga perlu mendapatkan dukungan dari setiap keluarga khususnya para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka, jangan sampai mengalami permasalahan di kemudian hari, karena mengalami buta aksara.

Tantangan ke depan

Memperhatikan ulasan di atas, maka menjadi suatu hal yang dapat dimaklumi kalau Indonesia senidiri menghadapi tantangan ke depan dalam upaya mewujudkan salah satu cita-cita leluhurnya, yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar negara kita, yakni guna mewujudkan kehidupan bangsa yang sejahtera di masa mendatang.

Hal ini tentu saja pasti menghadapi berbagai tantangan tertentu dalam upaya hal tersebut. Guna mewujudkan hal itu maka kita sebagai bangsa yang besar tidak boleh menyerah begitu saja, bahkan kalau bisa tantangan yang ada tersebut mampu kita ubah sebagai peluang yang baru, dengan berbagai upaya yang dapat dilakukan bersama, dengan mendasarkan diri pada konsep kebhinekaan yang ada di bumi Indonesia, apalagi dewasa ini kita dan bahkan dunia sedang dilanda pandemi Covid 19.

Ibarat menghadapi Covid 19, maka semangat tak kenal lelah dan dengan menerapkan disiplin yang tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat kita, tentu buta aksara ini dapat kita hapuskan dari bumi Indonesia tercinta.

Oleh sebab itu tidak salah kalau dalam upaya mewujudkan kehidupan bangsa yang semakin sejahtera, kita saling bantu-membantu, saling bekerjama dengan gigih guna memberantas buta aksara bagi warga masyarakat kita. Mari kita dengungkan selalu Berantas Buta Aksara bagi masyarakat Indonesia dengan semangat pantang menyerah. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa, MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogykarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here