Home Opini Menata Sukses Masa Depan Anak Usia Dini Melalui Metode Belajar Efektif

Menata Sukses Masa Depan Anak Usia Dini Melalui Metode Belajar Efektif

352
0
Titik Mulat Widyastuti, M Si, Dosen Prodi PG PAUD Universitas PGRI Yogyakarta/Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Masa pandemi Covid-19 telah telah menghancurkan berbagai bidang salah satunya adalah bidang pendidikan. Anak yang seharusnya bisa belajar disekolah dengan fasilitas sarana dan prasara yang lengkap dan diajar oleh guru yang sudah kompeten dan profesional, sekarang ini dihadapkan pada pembelajaran melalui daring yang memerlukan keahlian khusus untuk mengajar anak di rumah. Banyak orang tua yang masih gaptek (gagap teknologi) teknologi informasi, sehingga membiarkan anaknya tidak belajar dan hanya bermain yang tidak mendapatkan arahan yang jelas, dikarenakan minimnya pengetahuan dalam hal tehnologi informasi yang sekarang ini bisa digunakan untuk pembelajaran anak.  

Masalah ini sungguh disayangkan, orang tua yang peduli dengan pendidikan anak usia dini tidak akan membiarkan anaknya menjadi pemalas untuk belajar. Dalam perannya sebagai orang tua harus memerhatikan masa depan anak-anak agar dapat menjadi penerus bangsa. Di masa pandemi ini orang tua harus memberikan suasana yang baik dalam kehidupan keluarga dapat membuat anak mudah untuk mengembangkan pola-pola dasar yang diperlukan bagi pendidikan dan pengembangan diri yang merupakan fungsi-fungsi esensial keluarga sebagai lembaga pendidik. Orang tua sebagai pendidik memiliki kewajiban membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar. Dengan berbagai pendekatan pembelajaran dan aplikasinya bagi pengembangan usia anak-anak. Mempersiapakan anak untuk belajar yang efektif agar tidak ketinggalan dengan negara lain.

Hal ini sekaligus merupakan masukan bagi kita selaku orang tua dan pendidikan sampai sejauh mana kita telah bersungguh-sungguh menyiapkan masa depan generasi muda Indonesia tersebut. Dengan demikian, pertanyaan yang layak diajukan, bagaimanakah kita menyiapkan anak (didik) kita menjadi sumber daya manusia yang tangguh, yang hebat dan siap bersaing di masa depan? Pembelajaran dalam bermain dapat dijadikan landasan dalam belajar, karena  melalui bermain, obyek yang ada di sekitar sebagai media cara anak belajar. Metode pembelajaran bermain adalah sebagai metode  yang efektif dan menyenangkan bagi anak usia dini.

Mengajar pada anak usia dini berarti mengajar anak yang sedang ada di masa usia keemasannya (golden age). Sebuah masa dimana potensi anak sedang berkembang dan saat yang tepat untuk membuatnya menjadi seorang pembelajar yang mandiri dan haus pengetahuan. Menempatkan anak sebagai pembelajar berarti menjadikan anak sebagai pusat kegiatan belajar (child centered). Dengan demikian harus ada perubahan paradigma pada orang tua terkait posisi anak dalam kegiatan belajar. 

Dengan metode bermain dapat membantu anak dalam mengembangkan banyak aspek fundamental dari perkembangan anak, baik fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Bermain dapat mengembangkan otot-otot di saat anak melakukan kegiatan fisiknya,bermain dapat mengembangkan keterampilan intelektual di saat anak terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang menuntut pikirannya, bermain dapat mengembangkan keterampilan sosial di saat sejumlah anak terlibat aktif dalam suatu interaksi dengan orang lain, bermain dapat mengembangkan aspek emosi di saat anak belajar mengendalikan emosinya.

Bagaimana para orang tua dalam mengimplementasikan penggunaan bermain sebagai media pembelajaran anak, peran pendidik sangatlah berpengaruh sebagai fasilitator aktivitas bermain anak usia dini, para pendidik perlu melakukan aktivitas berikut, menyediakan dan mendesain lingkungan dan perlengkapan bermain yang kaya dan aman, menyediakan waktu atau mengatur jadual untuk aktivitas bermain yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan, mengamati aktivitas anak di saat bermain, memberikan petunjuk yang diperlukan, khususnya untuk melakukan suatu permainan, menciptakan suasana yang kondusif untuk bermain.

Konsep belajar bagi anak usia dini adalah belajar melalui bermain, menempatkan anak sebagai subyek, sedangkan orang tua menjadi fasilitator. Dalam konsep ini, anak akan memilki kebebasan untuk mengekpresikan imajinasinya, dan kreativitas berpikirnya, merangsang daya cipta dan berpikir kritis. Pembelajaran dalam bermain dapat dijadikan landasan dalam belajar, karena  melalui bermain, obyek yang ada disekitar sebagai media cara anak belajar. Orang tua juga dapat menempatkan anak sebagai pembelajar untuk berbagai hal secara spontan. Ini berarti proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja dalam keseharian orang tua dan anak.

Misalnya, saat ibu mengajak anaknya pergi ke pasar, di pasar ibu berbelanja sambil mengenalkan berbagai nama benda yang ia beli kepada anaknya, ketika ayah ibu mengajak anak ke toko busana, ayah memperkenalkan berbagai warna baju pada anaknya, ketika ayahnya mengajak ke kebun, anak melihat ada berbagai hewan, lalu ayah memperkenalkan berbagai nama hewan dan bunyi hewan tersebut kepada anaknya.

Yang perlu dipahami oleh orang tua dalam hal pendidikan bahwa mendidik anak adalah upaya pengembangan segala potensi anak, melatih pengamatan, pengambilan keputusan, merangngsang pemikiran dan imajinasi, memperdalam pemahaman, dan memperkuat konsentrasi. Walaupun dalam pembelajaran menggunakan kearifan lokal sebagai sarana pembelajaran di rumah. Ini adalah salah satu contoh pembelajaran bagi orang tua yang gaptek teknologi informasi, belajar efektif murah dan ramah lingkungan untuk mencapai cita-cita anak bangsa. (Titik Mulat Widyastuti, M Si, Dosen Prodi PG PAUD Universitas PGRI Yogyakarta/Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here