Home Opini Menangisi Hari Pendidikan

Menangisi Hari Pendidikan

75
0
Willy Pramudya. Foto : Istimewa

Oleh : Willy Pramudya

BERNASNEWS.COM – Indonesia termasuk negara dengan jumlah perguruan tinggi dan perpustakaan yang tergolong terbanyak di dunia. Untuk perguruan tinggi, Indonesia berada pada urutan ketiga dengan jumlah 2.694 kampus.

Di atas Indonesia ada Amerika Serikat (3.254 kampus) dan India berada di puncaknya (4.381 kampus). Di bawah Indonesia terdapat China pada peringkat keempat dengan 2.595 kampus dan Brazil pada peringkat kelima dengan 1.349 kampus.

Bayangkan jumlah sekolah di Indonesia yang berada pada jenjang yang lebih rendah ( SD – SMA). Selain perguruan tinggi, Indonesia juga termasuk negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia, yakni 164.610 perpustakaan atau kedua terbanyak di dunia setelah India (323.605); atau di atas China (105.831) bahkan Rusia (113.440).

Tingginya jumlah perguruan tinggi hemat saya mengindikasikan bahwa “ideologi” pendidikan (formal) sudah merasuk ke dalam pikiran (elit) bangsa ini. Malangnya peringkat perguruan tinggi Indonesia tingkat dunia masih terlihat rendah. Dari 50 universitas terbaik Indonesia versi Webometrics Rank 2021, posisi tertinggi diduduki UGM yang berada pada peringkat 810 rangking dunia.

Kampus lain yang masuk peringkat di berada pada nomor urut di atas 1.000. Data yang paling mencolok tentang dunia perguruan tinggi justru datang dari dalam: ribuan dosen tidak lulus sertifikasi karena mencontek (2015). Dalam hal apa? Dalam hal mendeskripsikan diri. Bayangkan kalau dosen seperti itu masih tetap mengajar sampai sekarang, buah seperti apa yang diharapkan muncul?

Bagaimana pula dengan tenaga pengajar pada jenjang yang lebih rendah? Salah satu data yang saya temukan adalah adanya guru yang tidak hanya mendapatkan peringkat rendah pada Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia, tetapi tidak mendapatkan nilai sama sekali karena semua jawaban kosong.

UKBI itu sebentuk TOEFL dalam bahasa Ingggris. Kemudian menyambung hal yang berkaitan dengan data jumlah perpustakaan. Kita tentu bangga karena Indonesia tampil sebagai negara terbanyak kedua dalam hal ketersediaan sarana membaca. Tetapi dalam waktu bersamaan orang dewasa dan anak-anak tergolong manusia dengan kemampuan dan tradisi minat baca terendah di dunia. Penulis pernah membuat survei kecil bahwa rata-rata orang Indonesia membaca kurang dari satu buku per tahun.

Sementara sejumlah negara telah banyak yang menuju di atas lima bahkan di atas 10 buku per tahun. Hanya dalam hal membaca atau literasikah kita buruk? Tidak. Menurut OECD, orang dewasa Indonesia selain berperingkat rendah bahkan terendah dalam hal literasi, juga idem dito dalam hal numerasi dan pemecahan soal. Sedangkan pada anak-anak selain berada pada barisan peringkat terendah dalam hal literasi juga dalam hal Matematika dan Sains.

Pertanyaan lain: apakah hanya buruk dalam bidang pendidikan? Hemat saya: tidak! Nyaris semua bidang apa pun. Bahkan bidang yang seharusnya dimuliakan dan diutamakan prestasi baiknya. Sebutkan satu bidang saja dan kita akan dengan mudah memberikan peniliaian.

Kembali kepada dunia didikan, jika bidang yang menjadi dasar membangun kemajuan, prestasi dan kebaikan bangsa tak kunjung berubah selama 25 tahun terakhir, mungkin ada sesuatu yang salah urus atau terjadi penyimpangan sejak dalam berpikir. Salah urus itu kalau dibiarkan apalagi disengaja artinya di sana telah terjadi korupsi.

Nah agaknya dalam bidang yang terakhir ini kita mudah untuk mendapatkan peringkat terbaik bahkan tertinggi di dunia. Untuk menguji pikiran ini silakan membuat survei tentang seberapa banyak guru bahkan dosen memahami empat pilar pendidikan versi UNESCO dan memahami bahwa buah pengajaran/pendidikan formal adalah keunggulan dalam bidang: logika, etika, estetika, penguasaan ilmu khusus dan umum, serta kecakapan hidup.

Selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021. Saya lebih ingin menangisinya. (Willy Pramudya, Orangtua Anak Tak Bersekolah Formal).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here