Home Opini Menanamkan Jiwa Nasionalisme Berkelanjutan

Menanamkan Jiwa Nasionalisme Berkelanjutan

99
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen STIM YKPN Yogyakarta. Foto : Dok pribadi

BERNASNEWS.COM – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia akan menjadi momen yang tepat bagi kita untuk merefleksi, apakah kemerdekaan benar-benar telah kita rasakan bersama, terutama terkait dengan kemakmuran, keadilan dan sebagainya bagi masyarakat Indonesia.

Hal ini menurut penulis menjadi demikian penting, dikaitkan dengan pernyataan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang mengutip hasil penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bahwa masih ada 10 persen generasi milenial yang menginginkan atau setuju untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Padahal Pancasila sebagai ideologi bangsa ditetapkan sejak Indonesia merdeka oleh para pendiri bangsa pada tahun 1945, sebagai ideologi yang dapat menyatukan bangsa ini dari berbagai bentuk perpecahan. Lebih lanjut dikatakan oleh Bambang Soesatyo, bahwa hal ini menunjukkan adanya bom waktu bagi bangsa ini kalau tidak segera diantisipasi oleh pihak pemerintah.

Pentingnya jiwa nasionalisme

Sebagai bangsa yang merdeka, dan apalagi sudah mencapai usia ke 76 tahun pada 2021 ini, kiranya menjadi demikian penting bagi setiap warga negara tanpa terkecuali memiliki jiwa nasionalisme. Hal ini guna mengantispasi agar warga negara kita tidak akan terpecah belah, tetap mampu menjaga persatuan dan kesatuan sebagai warga negara yang mempunyai kewajiban untuk mempertahankan keutuhan negara dan bangsa ini, terutama bagi generasi milenial.

Kita dapat membayangkan apa jadinya kalau dalam suatu negara masih terdapat segelintir masyarakat yang sebut saja dengan istilah ekstrimya anti Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Sejarah telah membuktikan bahwa beberapa kali terjadi upaya menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi yang lain, pasti akan menimbulkan kekacauan bahkan menimbulkan korban jiwa manusia. Ingat terkait dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1965, yakni G 30 S yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), yang akhirnya menimbulkan bencana dan korban jiwa manusia, ketika mereka ingin menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi komunis. Ketika itu terjadi peristiwa yang sangat merugikan bangsa kita dengan gugurnya para pahlawan revolusi, di antaranya Achmad Yani, Panjaitan, S Parman dan yang lainnya, termasuk di Yogyakarta yakni Katamso dan Sugiyono.

Memperhatikan hal tersebut, maka kiranya kita semua harus berani mawas diri guna tetap mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti slogan yang digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), yakni “NKRI Harga Mati”. Dari peristiwa sejarah itulah yang kemudian bangsa Indonesia lewat pemerintah yang sah menetapkan bahwa setiap tanggal 1 Oktober kita peringati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Oleh sebab itu menjadi kewajiban bersama, bagaimana kita mampu menanamkan jiwa nasionalisme tersebut dalam dada rakyat Indonesia tanpa terkecuali, dan jangan sekali-kali kita sebagai bangsa yang besar meninggalkan atau melupakan sejarah, yang pada waktu didengungkan oleh proklamator kita, yakni Bung Karna, dengan istilah Jasmerah.

Upaya menanamkan jiwa nasionalisme berkelanjutan

Guna mewujudkan gagasan tersebut maka ada berbagai cara yang dapat ditempuh bersama dalam menanamkan jiwa nasionalisme pada setiap insan Indonesia, agar dalam dirinya selalu tumbuh rasa nasionalisme yang kuat sebagai warga negara yang tangguh.

Oleh sebab itu kita semua dituntut untuk mampu mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa dengan sekuat tenaga dan akal pikiran kita, jangan sampai dirongrong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, guna mengambil keuntungan sendiri.

Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara selalu memperhatikan dan memahami secara bulat dan utuh setiap sila dari Pancasila, mulai sila pertama sampai dengan sila kelima. Bagaimana sebenarnya masing-masing sila tersebut memuat dan menganut ajaran yang luhur bagi bangsa Indonesia, yang kadangkala diputarbalikkan faktanya oleh oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab, yang mengharap terjadinya kekacauan bagi warga negara ini.

Seringkali mereka mengutarakan sesuatu hal tertentu yang dapat meresahkan masyarakat terkait kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat kita, semisal dengan adanya penanganan pandemi yang belum berakhir sampai saat ini, yang arahnya memojokkan pemerintah kita, ataupun dengan cara-cara lain yang mereka benarkan, meskipun pada dasarnya tindakan oknum tersebut justru akan semakin membuat kekacauan dalam kehidupan masyarakat secara umum.

Bila setiap warga negara memahami makna yang terkandung dalam kelima sila Pancasila secara mendalam, maka dapat dipastikan kita bersama akan mampu mewujudkan kelangsungan hidup bangsa ini, dan akan mampu menghadapi segala rintangan baik dari dalam maupun luar negeri.

Sehingga tidak salah kalau kemudian kita semua sebagai warga negara berkewajiban untuk menggalang kembali arti sebenarnya dari butir-butir dari sila Pancasila yang pada waktu itu pernah dijabarkan menjadi sebanyak 36 butir yang perlu dipahami, dihayati, dan dilaksanakan dengan baik.

Tentu saja hal ini kemudian akan terkait dengan kehidupan yang ada pada setiap keluarga, sebagai komunitas yang paling kecil dalam bangsa ini. Oleh karena itu kalau kemudian setiap kepala keluarga dapat menanamkan penghayatan dari setiap sila Pancasila pada setiap anggota keluarganya, niscaya Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah bangsa yang benar-benar tangguh dan ampuh, dan akan mampu untuk menanamkan jiwa nasionalisme yang berkelanjutan, terutama bagi generasi yang akan datang. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here