Home Seni Budaya Memes Faradikka Juara Umum Lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019

Memes Faradikka Juara Umum Lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019

612
0
Assekda I Bidang Pemerintahan Dra Sri Edi Astuti MSi (kedua dari kiri) didampingi Ketua Panitia Ki Bambang Widodo SPd MPd menyerahkan Piala Bupati Bantul 2019 dan uang pembinaan dari Ketua Umum DPP Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana MBA kepada Memes Faradika, siswi SMAN I Kretek, Bantul, sebagai juara umum lomba dakon di Museum History of Java Jalan Parangtritis Bantul, Minggu (24/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM — Memes Faradika dari SMA Negeri I Kretek Bantul meraih Juara Umum Lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019 yang diadakan oleh Museum History of Java di Museum History of Java Jalan Parangtritis Sewon, Bantul, DIY, Minggu (24/11/2019). Selain juara kategori SMA/SMK, Memes Faradika meraih juara umum sehingga berhak atas Piala Bupati Bantul 2019 dan Piala Dinas Pariwisata DIY (juara kategori SMA/SMK) serta uang tanai total Rp 1.250.000 dan tape reorder.

Sementara juara kategori SD dirah Finna Aisyah, kategori SMP diraih Allsa Alfikko RD dan juara kategori umum diraih Isalis Iswanti. Selain mendapat piala dari panitia, juga mendapat piagam dan uang pembinaan.

Assekda I Bidang Pemerintahan Dra Sri Edi Astuti MSi yang menyerahkan Piala Bupati Bantul 2019 dan uang pembinaan dari Ketua Umum DPP Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana MBA kepada Memes Faradika, siswi SMAN I Kretek, Bantul.

Para juara dari berbagai kategori foto bersama panitia dan juri usai lomba dakon, Minggu (24/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Lomba dakon yang diadakan untuk pertama kalinya ini diikuti lebih dari 2.000 peserta mulai dari tingkat SD hingga SMA/SMK dari berbagai sekolah di DIY serta kategori umum. Lomba memperbutkan trofi Bupati Bantul, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Kepala Dinas Pariwisata Bantul dan Kepala Disdikpora Bantul serta uang pembinaan dari Ketua Umum DPP Asosiasi Museum Indonesia.

Assekda I Bidang Pemerintahan Dra Sri Edi Astuti MSi mengapresiasi panitia maupun Museum History of Java yang memprakarsai lomba permainan tradisional ini. Meski permainan dakon termasuk permainan yang sangat mudah, murah dan sederhana, namun permainan ini mengandung makna filosofis yang sangat mendalam.

“Atas nama Pemkab Bantul, kami mengapresiasi dan menyampaikan rasa bahagia serta bangga atas digelarnya lomba ini. Ini sebuah permainan yang sangat baik, yang mudah, murah dan sederhana namun mengandung filosofi yang sangat mendalam. Dan diharapkan permainan ini kembali populer di tengah-tengah masyarakat, keluarga dan anak-anak,” kata Sri Edi Astuti

Menerima penghargaan. Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Dikatakan, permainan dakon mengandung filosofi yang mendalam yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, kecerdasan dan strategi yang tepat. Dan ini untuk mendidik anak-anak agar lebih tekun, sabar dan cerdas dalam menentukan strategi dan mengambil langkah yang tepat.

“Dengan memiliki kemampuan dalam menentukan strategi dan memilih langkah yang tepat, membuat masa depan anak-anak menjadi baik dan sukses,” kata Sri Edi Astuti seraya beharap agar para peserta bisa menularkan permainan ini kepada teman-temannya.

Ia berharap agar panitia dan penyelenggara mengadakan permainan atau lomba permainan tradisional yang lain lagi untuk kepala-kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kabupaten Bantul. “Saya yakin akan lebih meriah dan gayeng,” kata Sri Edi Astuti.

Ketua Panitia Ki Bambang Widodo SPd MPd foto bersama juara umum lomba dakon Memes dari SMAN I Kretek, Bantul, Minggu (24/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Bambang Widodo SPd MPd, Humas Director Holding History of Java Museum, kepada Bernasnews.com mengatakan, sebagai lembaga yang bergerak dalam edukasi dan entertainment, History of Java Museum (HoJM) memiliki kepedulian yang tinggi akan tumbuh kembang anak yang positif, termasuk di antaranya upaya untuk meredam efek negatif dari konten games mutakhir yang mengancam masa depan anak-anak. Dan dakon atau congklak menjadi media permainan anak yang dipilih sebagai upaya untuk aksi nyata peredaman tersebut.



Menurut Ki Bambang Widodo yang juga Ketua Umum Barahmus DIYi, lomba Dakon dipilih karena sebagai sebuah permainan tradisi, Dakon menjadi salah satu yang sarat dengan filosofi dan memiliki fungsi-fungsi pelatihan bagi sang anak untuk bekal mereka ketika dewasa. “Di Jawa, khususnya Jawa Tengah, orang mengenal Dakon dengan filosofi kejujuran dan ketekunan yang sangat kental,” tutur Ki Bambang Widodo. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here