Home Opini Membingkai Opspek di Gerbang Awal Perkuliahan

Membingkai Opspek di Gerbang Awal Perkuliahan

256
0
Dyaloka Puspita Ningrum, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram

BERNASNEWS.COM – MEMASUKI tahun ajaran baru, kegiatan rutin Opspek (Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus) selalu menjadi trend dan bahan pembicaraan di kalangan masyarakat. Antusiasme mahasiswa baru perguruan tinggi yang ada di negeri ini turut mewarnai dunia pendidikan. Layaknya sebuah tradisi, kegiatan orientasi ini terus digalakkan dari waktu ke waktu dengan segala aturan yang ketat dan bahkan dapat merugikan berbagai pihak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Lalu adakah kontribusi yang berpengaruh dari fenomena tersebut terhadap aspek akademik seseorang? Opspek sebagai budaya suatu kampus harus mengedepankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara. Rantai senioritas di lingkungan kampus seolah-olah menjadi karakter antar generasi yang selalu ingin menunjukkan kekuasaan atau bahkan kehormatan terhadap suatu kelompok sosial melalui kekerasan fisik maupun verbal tanpa mengedepankan sikap, moral dan tata krama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Liza Marielly Djaprie (2019), seorang psikolog klinis dan praktisi hipnoterapi, penerimaan bentuk senioritas dalam Opspek amat berbeda dan subyektif bagi setiap individu. “Seharusnya senior bisa melihat mana junior yang bisa diperlakukan seperti ini, mana yang tidak. Tapi biasanya sulit, karena treatment-nya sama, pukul rata. Makanya berdampak ada junior yang justru malah depresi mental setelah sesi opspek, ada yang justru termotivasi, ada yang lurus-lurus saja dan enggak peduli dengan seniornya,” kata Liza Marielly.

Keadaan seperti itulah yang kadang membuat jarak antar generasi, karena komunikasi dan interaksi yang tidak berjalan secara ideal. Amat menyedihkan ketika media massa berlomba-lomba menyajikan berita ataupun permasalahan mengenai lemahnya pengawasan kegiatan di koridor kampus sehingga dapat berujung bullying terhadap seseorang yang tentunya dilakukan oleh para kaderisasi calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang.

Sebuah gelar “mahasiswa” seharusnya menjadi simbol dalam menunjukkan eksistensi para muda tersebut sebagai miniatur masyarakat dengan bekal intelektual yang diharapkan mampu memberikan sumbangsih dan vitalisasi terhadap perubahan yang besar. Peran mahasiswa yang kritis pun sangat dibutuhkan untuk menyampaikan pendapat dan inspirasi terhadap pemerintah.

Opspek “Zaman Now”

Namun pada realitasnya, tidak semua rangkaian Opspek dapat dikonotasikan negatif dan menyimpang. Sudah banyak contoh dari beberapa kampus di berbagai daerah yang mampu mempertahankan reputasi dan kredibilitasnya. Ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam menyambut calon mahasiswa baru. Sebuah kegiatan pengenalan lingkungan kampus dan pengembangan diri sangat bermanfaat dalam membangun suasana keakraban dan relasi berjangka panjang. Regulasi dari pihak universitas digunakan sebagai pedoman dan mekanisme untuk mencapai visi, misi ataupun tujuan yang telah ditetapkan, khususnya di bidang pendidikan.

Di era milenial saat ini, metode Opspek “zaman now” atau anti mainstream diharapkan dapat mengedepankan kreativitas, inovasi dan edukasi untuk mengembangkan minat dan bakat seseorang, sama halnya dengan kampus-kampus yang ada di luar negeri. Opspek sebagai kuliah perdana harus dijadikan momen yang paling berkesan dan menyenangkan sebelum mahasiswa baru tersebut memasuki kegiatan belajar mengajar di program studinya masing-masing. Opspek biasanya dilaksanakan selama 3-5 hari.

Dengan latar-belakang budaya yang berbeda-beda, para panitia mengemas opspek semenarik mungkin dengan berbagai ide dan gagasan yang dapat mengubah mindset khalayak di industri 4.0. Opspek dilaksanakan seproduktif mungkin, baik di tingkat univeristas, fakultas ataupun program studi. Mahasiswa baru dituntut untuk mengamati dan terlibat langsung atas fenomena sosial di masyarakat berdasarkan implementasi dari ilmu pengetahuan yang ada melalui binaan mentor-mentor yang unggul.

Hal ini selaras dengan pendapat Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pendidikan di negeri ini, yaitu agar kaum intelektual tersebut dapat memaknai pendidikan seiring perubahan zaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Sebagai pendatang baru, mahasiswa tersebut harus dapat beradaptasi dengan lingkungan kampus agar dapat membawa pengaruh terhadap keaktifan mereka di dalam maupun luar organisasi kampus. Jenjang perkuliahan menunjukkan level tertinggi pendidikan seseorang. Mahasiswa adalah generasi muda yang harus menyongsong masa depannya dengan segala tantangan global sehingga dapat dijadikan kontrol di dalam kehidupan bermasyarakat.

Opspek zaman now merupakan pelopor untuk melahirkan bibit-bibit yang berpotensi dan berkualitas dengan keidentikannya tanpa menyudutkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, sehingga universitas dapat terus dipercaya sebagai unit pelaksana awal kegiatan penyambutan mahasiswa baru. (Dyaloka Puspita Ningrum, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here