Home News Membantu Sesama Tanpa Memandang Agama Bagian dari Implementasi Pancasila

Membantu Sesama Tanpa Memandang Agama Bagian dari Implementasi Pancasila

542
0
Para peserta yang merupakan siswa/siswi SMA/SMK atau yang sederajat dengan serius mengikuti Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang disampaikan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan di Posko EW Inisiatif Joglo Cemoro Godean, Sleman, Selasa 16 Maret 2021.Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Perbuatan saling membantu atau menolong sesama tanpa melihat latar belakang agama, suku, ras atau latar belakang apapun merupakan salah satu bentuk implementasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, terutama sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sementara sikap gotong-royong, saling menjaga keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan ibadah, juga merupakan wujud konkrit implementasi nilai-nilai Pancasila,terutama sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Dan sikap-sikap tersebut harus terus diwujudkan dalam kehidupan nyata sehari-hari agar Pancasila bukan sekadar diucapkan atau dihafalkan tapi harus dipraktekkan dalam tinakan nyata dimana pun kita berada.

Hal itu terungkap dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diadakan oleh Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan MY Esti Wijayati dihadiri hampir 100 orang siswa/siswi SMA/SMK atau sederajat di Posko EW Inisiatif Joglo Cemoro Godean, Sleman, Selasa 16 Maret 2021. Selain MY Esti Wijayati, juga tampil sebagai narasumber adalah Subkhi Rido, Dosen UMY.

Para peserta yang merupakan siswa/siswi SMA/SMK saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya mengawali acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang disampaikan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan di Posko EW Inisiatif Joglo Cemoro Godean, Sleman, Selasa 16 Maret 2021.Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Pada kesempatan itu, para peserta diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman di lingkungan tempat tinggal atau sekolah masing-masing tentang sikap, tindakan atau perbuatan yang merupakan implementasi dari nilai-nila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ambrosius, siswa SMKN 2 Jogja, menceritakan di lingkungan tempat tinggalnya masyarakat menunjukka sikap toleransi dimana ketika hari raya keagamaan saling menjaga keamanan dan kenyamanan. Sebagai contoh, ketika umat Islam merayakan Idul Fitri atau hari raya keagamaan lainnya, maka umat non Islam yang menjaga keamanan kendaraan ata parkir. Demikian pula sebaliknya.

Demikian pula ketika hari raya kurban, umat non Muslim juga mendapat daging kurban. Bagi Ambrosius, hal-hal seperti ini merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila.

Suasana acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang disampaikan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan di Posko EW Inisiatif Joglo Cemoro Godean, Sleman, Selasa 16 Maret 2021.Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Sementara Rizki dari SMK 2 Muhammadiyah Godean, Sleman mengaku di kampungnya sikap tolong-menolong dan saling membantu sangat kental dalam keseharian masyarakat. Ia memberi contoh, ketika ada bencana alam atau bencana lainnya, tanpa komando warga saling membantu.

“Bagi saya ini merupakan salah satu implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal-hal seperti harus terus dipelihara dan dilakukan sampai kapan pun,” kata Rizki.

Dalam acara yang berlangsung sekitar 2 jam itu, para siswa saling bergantian mengungkapkan pengalaman hidup keseharian di lingkungan tempat tinggal dan sekolah masing-masing, yang secara sadar atau tidak, merupakan implementasi dari nilai-nilai Pancasila.

Termasuk dalam pemilihan Ketua OSIS di sekolah negeri, misalnya, siswa/siswi memilih ketua berdasarkan kemampuan bukan melihat latar belakang agamanya. Begitu pula dalam hal memilih pemimpin mulai dari tingkat paling bawah hingga Presiden pun memilih figur yang memiliki kapasitas dan kapabilitas kepemimpinan, bukan melihat latar belakang agamanya.

MY Esti Wijayati pun meminta para peserta agar nilai-nilai Pancasila seperti yang diungkapkan para siswa harus terus dipelihara dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hal itu jauh lebih penting dan bernilai ketimbang hanya menghafal sila-sila Pancasila.

Menuut MY Esti Wijayati, Pancasila sebagai dasar negara merupakan harga mati. Artinya tidak bisadi tawar-tawar lagi untuk digantikan dnegan ideologi lain dengan alasan apapun. Karena Pancasila menjadi perekat dan pemersatu bagi bangsa Indonesiayang majemuk dengan beragam latar belakang agama, suku, ras dan golongan.

Karena itu, menurut MY Esti Wijayati, DPR/MPR RI tak akan bosan-bosan dan akan terus-menerus mensosialisasikan 4 Pilar MPR RI yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. “Keempat pilar MPR RI itu menjadi perekat dan pemersatu bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” kata MY Esti Wijayati.

Subkhi Rido, Dosen UMY yang juga tampil sebagai pembicara, mengatakan bahwa depan Indonesia berada di tangan generasi Z. Dan untuk menjamin bagsa Indonesia tetap utuh dan eksis sampai kapan pun adalah dengan berpegang tegus pada dasar negara Pancasila. Karena hanya dengan ideologi Pancasila, bangsa Indonesia yang majemuk ini bisa bersatu, rukun dan damai. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here