Home Pariwisata Membangun Toleransi Lewat PBTY ke-15 di Kampung Ketandan Yogyakarta

Membangun Toleransi Lewat PBTY ke-15 di Kampung Ketandan Yogyakarta

141
0
Penampilan liong dalam pembukaan Pekan Budaya Tionghoa ke-15 (PBTY XV) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (2/2/2020). (Foto: Ayu)

BERNASNEWS.COM – Gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), menjadi salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan banyaknya warga Yogyakarta yang menyemut di kawasan Titik Nol Kilometer untuk mengikuti pembukaan PBTY XV (ke-15), Minggu (2/2/2020). Seperti yang diketahui PBTY ke-15 diadakan mulai 2-8 Februari 2020 di Kampung Ketandan, Yogyakarta. Kali ini panitia mengambil tema The Cultural Colors of Wonderful Indonesia.

Pembukaan PBTY XV diawali dengan pertunjukan liong dan barongsai tradisional dari Hop Hap Hwee. Naga yang meliuk di tengah-tengah titik nol kilometer Yogyakarta membuat warga yang berkerumun lantas bersorak gembira. Selanjutnya, terdapat pula penampilan reog yang menjadi salah satu kesenian khas Jawa.

Penampilan reog dalam pembukaan Pekan Budaya Tionghoa ke-15 (PBTY XV) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (2/2/2020). (Foto: Ayu)

“Tak hanya seni budaya Tionghoa yang ditampilkan, tapi seni budaya lokal dan nasional juga ditampilkan,” ujar Ketua Umum PBTY XV, Tri Kirana Muslidatun.

Event tahunan yang digelar beberapa hari setelah Perayaan Tahun Baru Imlek tiba ini, menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisata melalui kegiatan budaya.

Di samping untuk mengenalkan aspek budaya Tionghoa kepada masyarakat, rupanya PBTY memiliki makna tersendiri terhadap keberagaman yang ada di Yogyakarta.

“Memberikan pembelajaran pada masyarakat soal budaya Tionghoa dan membangun toleransi di Yogyakarta,” tuturnya.

Penampilan kesenian dalam pembukaan Pekan Budaya Tionghoa ke-15 (PBTY XV) di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (2/2/2020). (Foto: Ayu)

Hal senada pun diungkapkan oleh Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam X, saat membacakan sambutan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia berharap agar tiap gelaran PBTY mampu menjadi media integrasi sosial budaya dalam perspektif ekonomi.

“PBTY ini diharpakan mampu memberi dampak pada perekonomian masyarakat, sehingga bisa mengurangi kesenjangan ekonomi di DIY,” kata Sri Paduka Pakualam X.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here