Home Pendidikan Membangun Ruang Inklusi Melalui “The Feelings of Reality”

Membangun Ruang Inklusi Melalui “The Feelings of Reality”

17
0
Seorang narasumber saat menyampaikan materi dalam Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 memperingati Hari Disabilitas Internasional di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta, Selasa (3/12/2019). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Salah satu dari rangkaian Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 adalah dengan menggelar program Doctalk: The Feelings of Reality di IFI-LIP Yogyakarta, Selasa (3/12/2019) bersama dua mentor dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Yogyakarta, yaitu Ajiwan Arief dan M Ismail. The Feelings of Reality merupakan program yang dikerjakan oleh FFD bekerja sama dengan Voice Global dengan rentang waktu kerja dari tahun 2018-2020.

Menurut Vidya Windy Nurfatiar, Media Relation Coordinator FFD, dalam rilis yang dikirim ke Redaksi Bernasnews.com, Selasa (3/12/2019), dalam diskusi tersebut ada delapan film yang masuk ke dalam program The Feelings of Reality, yaitu Alun (Riani Singgih, 2019); Menjadi Agung (Yovista Ahthajida, 2019); Aisyah (Ahmad Syafi’I Nur Illahi, 2019); Saling (Ridho Fisabilillah, 2019); Menjadi Teman (Aji Kusuma, 2019); Bulu Mata Kaki (Firman Fajar Wiguna, 2019); Apa di Kata Nadakanlah, Apa di Nada Katakanlah (Gracia Tobing, 2019); serta Indera Kaki (Ihsan Achdiat, 2019).

Sesi sharing pengalaman pasca mencoba film-film VR dari program The Feelings of Reality. Foto : Istimewa

The Feelings of Reality menyajikan film dengan konsep yang berbeda dari film-film yang sudah ada. Virtual reality (VR) merupakan sebuah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan lingkungan yang ada di dunia maya, sehingga penonton akan merasa berada di lingkungan tersebut. Menurut Vidya, melalui media VR, The Feelings of Reality mengajak para penonton untuk merasakan pengalaman yang berbeda.

Diskusi ini diawali dengan pemutaran film-film dari program The Feelings of Reality. Keempat film tersebut adalah Alun (2019), Indera Kaki (2019), Menjadi Teman (2019) dan Aisyah (2019). “Ini merupakan pengalaman pertama saya menonton VR. Saya berada di sana, hanya berdiri namun tidak bisa berjalan. Saya ikut menari, karena saya dapat merasakan musik dari alat yang bergetar di tangan Saya,” kata Zaka, salah seorang penonton.

Sesi diskusi isu disabilitas bersama penonton. Foto : Istimewa

Setelah selesai menonton film VR dan mendengarkan pengalaman dari keempat penonton, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama para pembicara. Kedua pembicara bercerita mengenai proses mentoring hingga pembuatan film selesai. Medium ini secara umum dapat menjadi alat advokasi, tetapi belum maksimal.

Menurut Ismail, seperti diikutip Vidya, film dapat membuat isu disabilitas dapat dilihat dan melalui VR penonton akan merasa lebih dekat. Ada beberapa saran untuk membuat film dokumenter tentang disabilitas, yaitu menghadirkan sosok penyandang disabilitas secara wajar (tidak berlebihan), masa lalu penyandang disabilitas tidak perlu diceritakan serta ditekankan pula bahwa penyandang disabilitas bukan obyek tapi subyek.

Aji Kusuma salah satu filmmaker yang hadir mengatakan bahwa perlu belajar untuk menjadi inklusi dan hal yang ditampilkan dari difabel dalam frame adalah kegiatan sehari-hari. “Harapannya melalui The Feelings of Reality, FFD mampu menjadi organisasi yang inklusif, untuk siapa pun dan tidak menghambat siapa pun,” kata Aji Kusuma. (lip)

3-Des-The Feelings of Reality-7

  1. Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional (3/12), Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 menyelenggarakan sesi diskusi program The Feelings of Reality di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta.
  2. Alwan Brilian (kiri), Programmer The Feelings of Reality memberikan penjelasan tentang berjalannya program yang mencoba membicarakan isu disabilitas melalui dokumenter VR tersebut. Selama presentasi, Alwan didampingi Mada (kanan) yang bertugas sebagai juru bahasa isyarat.
  3. Riani Singgih, salah satu filmmaker dokumenter VR memberikan penjelasan tentang film yang ia produksi untuk program The Feelings of Reality FFD 2019. Program ini memfasilitasi produksi dokumenter VR di empat wilayah: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat.
  4. Dalam diskusi ini, penonton yang hadir dipersilakan mencoba beberapa dokumenter VR yang diputar dalam program The Feelings of Reality. Selama FFD 2019, film-film tersebut akan diputar di Lobby Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta pada 2-7 Desember 2019.
  5. Sesi sharing pengalaman pasca mencoba film-film VR dari program The Feelings of Reality.
  6. Sesi diskusi isu disabilitas bersama penonton.
  7. Sesi diskusi isu disabilitas bersama penonton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here