Home Opini Membangun Kecerdasan Bertahan Di Saat Pandemi

Membangun Kecerdasan Bertahan Di Saat Pandemi

89
0
Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Awal tahun 2020 yang lalu hampir  seluruh belahan dunia mengalami dampak  adanya wabah virus yang lebih dikenal dengan nama Covid-19. Sejatinya dengan terjadinya wabah Covid-19 ini kita juga diajak untuk mau merefleksi diri tentang hidup dan pola hidup, pola makan secara sehat serta semakin diajak untuk peduli pada sesama insan ciptaan Tuhan.

Memang dengan datangnya wabah Covid-19 ini tidak sedikit para buruh atau tenaga kerja berstatus tetap, status honor dan status tenaga kerja harian yang dirumahkan, bahkan meneria pemutusan hubungan kerja. Terlebih  para pedagang kecil baik yang ada di kampung, di pasar, unit-unit UKM, penjaja kuliner, jasa – moda transportasi baik yang online maupun yang regular, jasa perhotelan, rumah makan, cafĂ© dan sejenisnya mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam. Proses pembelajaran, proses kerja, rapat-rapat, seminar, diskusi menjadi terbatas dan beralih dari tatap muka ke secara on line.

Lebih-lebih situasi jaman sekarang, memang penuh dengan paradoks. Artinya pada suatu sisi ada janji yang begitu memberi harapan besar, yakni perubahan dan perkembangan teknologi dapat memperbaiki kehidupan kita. Akan tetapi pada sisi yang lain ada ketidakselarasan dalam masyarakat yang menimbulkan: kepiluan, ada jurang ekonomi yang semakin besar diantara golongan, ada persaingan yang tiada henti-hentinya dan ada kebutuhan manusia yang relatif belum dapat terpenuhi secara merata, misalnya tentang kebutuhan pokok dengan harga yang dapat dijangkau oleh lapisan masyarakat bawah.

Pada sisi lain dalam meraih sukses dalam hidup, lalu konsep apa yang diperlukan? Pertanyaan ini sengaja dilontarkan agar supaya masing-masing diri kita menyadari, bahwa unsur kecerdasan bertahan (AQ = Adversity Quotient)  memang dibutuhkan. Sebagai contoh, mengapa ada beberapa pelaku bisnis dan karyawan dapat segera sukses mencapai keberhasilan, walaupun banyak rintangan yang menghadang di jalan karier mereka. Sementara yang lainnya langsung menyerah dan hanya menonton impian mereka dihancurkan oleh segala rintangan dan kesulitan yang semakain kompetitip.

Menurut Paul Stoltz (Terjem: T. Hermaya: 2000) semua ini disebabkan oleh adanya kecerdasan bertahan. Yakni kecerdasan kemampuan yang dimiliki. Kecerdasan bertahan (AQ) adalah merupakan seperangkat instrumen yang telah diasah untuk membantu kita supaya tetap gigih melalui saat-saat yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Bailey Allard (Terjem: T. Hermaya:2000) menyatakan  IQ (Intellegence Quotient) barangkali menjadi cara untuk mendapatkan pekerjaan, akan tetapi AQ akan mempertahankan anda pada pekerjaan tersebut dan jika kita mampu memahami dengan benar, maka AQ akan dapat menentukan sukses hidup dan pekerjaan.

Sebab AQ memberi tahu anda seberapa jauh anda mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan anda untuk mengatasinya. AQ meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur. AQ meramalkan siapa yang akan melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa yang akan gagal. AQ meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan.

Dengan demikian secara ringkas terdapat tiga bentuk AQ. Pertama, AQ adalah suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan. Kedua, AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respons anda terhadap kesulitan, Ketiga, AQ adalah memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respons anda terhadap kesulitan. Melalui pemahaman sekilas tentang AQ, tidakah kita untuk bersama-sama mulai mau mewujudkannya dalam kehidupan masing-masing?

Oleh karena itu mari kita bersama-sama terus berdoa sesuai agama masing-masing dan tetap beraktivitas walaupun ada sebagian yang bekerja dari rumah (WFH), dengan tetap berolah raga, jaga pola hidup sehat, jaga jarak, memakai masker saat berpergiam, sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, tidak bertemu dalam kelompok, tetap perhatikan anjuran pemerintah. Supaya bangsa kita terbebas dari Covid-19, sehingga kita bisa beraktivitas secara normal kembali. (Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here