Home News Membangun Jati Diri Seorang Muslim dalam Idul Kurban

Membangun Jati Diri Seorang Muslim dalam Idul Kurban

425
0
Salat Idul Adha 1440 H yang digelar oleh PHBI Kec. Kraton, Minggu (11/09/2019), di Alun-alun Kidul, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM —  Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kecamatan Kraton Yogyakarta, Minggu (11/08/2019), menggelar salat Idul Adha 1440 H, di lapangan Alun-alun Kidul Kraton Yogyakarta, Yogyakarta, DIY. Salat ied yang dihadiri oleh warga Kecamatan Kraton dan sekitarnya ini dipimpin oleh imam dan sekaligus sebagai khatib Dr. Ariswan, MSi, DEA, Dosen Fisika FMIPA Universitas Negreri Yogyakarta (UNY).

Dalam khotbahnya yang bertajuk “Membangun Jati Diri Seorang Muslim dalam Nilai-nilai Idul Kurban”, Ariswan, mengatakan bahwa secara umum hidup itu dalam dimensi ruang dan waktu. Jika mengambil dimensi waktu, maka kehidupan ini amat sangat panjang, meskipun hidup di dunia ini amat sangat pendek.

“Waktu terus berjalan dari waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang. Namun kita hanya akan merefleksi terkait perjalanan waktu sampai empat bulan terkhir setiap tahun Hijriah. Kenapa? Agar kita mampu membangun jati diri seorang muslim paripurna yang memiliki akhlakul karimah dengan nilai-nilai idul kurban,” kata Ariswan.

Sementara itu runtutan sejarah peristiwa kurban yang diabadikan pada bulan terakhir setiap Hijriah, sebagai puncak pengurbanan hamba kepada Sang Pencipta. Ariswan lebih lanjut menjelaskan peristiwa ujian bagi Nabi Ibrahim AS yang amat sangat berat. Seorang nabi yang gigih melawan kemusrikan, sehingga Nabi Ibrahim disebut sebagai pelopor tauhid.

“Kepasrahan dan kesabaran Nabi Ibrahim dan putranya (Nabi Ismail AS) telah dibuktikan tatkala keduanya telah berserah diri, yakni Nabri Ibrahim telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Kemudian Allah memanggilnya untuk menyatakan kelulusannya atas ujian kehidupan beliau yang sangat berat itu. Dan akhirnya Allah SWT melarang penyembelihan Nabi Ismail yang kemudian digantilah dengan hewan sembelihan yang besar. Pujian atas kelulusan ini dinyatakan oleh Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 134,” terangnya.

Kemuliaan Nabi Ibrahim AS telah menjadi fondasi terbangunnya tatanan moral yang sangat kuat dari generasi ke generasi berikutnya untuk patuh pada agama Allah hingga sampai pada nabi terakhir nabi besar Muhammad SAW. Sebagai seorang muslim harus mencontoh kehidupan Nabi Ibrahim sesuai dengan kedudukan dan kemampuan masing-masing.

Untuk menggapai kesejahteraan hidup fidun ya wal akherat (di dunia dan akherat), Ariswan menyimpulkan ada empat poin penting agar jati diri mampu membumikan, yaitu, pertama Istiqomah dalam Iman dan Islam. Iman dan Islam harus senantiasa ada dalam diri kita tanpa mengenal ruang dan waktu, harus senantiasa ada dalam keluarga dan harus mewarnai kehidupan kita.

Kedua, semangat berkurban untuk kesejahteraan umat manusia senantiasa menjadi semangat hidup kita, sebagaimana yang termaktub dalam Al Quran Surat Al-Kautsar:1-3. Ketiga, sebagai bagian dalam masyarakat harus berperan aktif dalam mendakwahkan agama Allah, sesuai kemampuannya masing-masing, seperti yang tersurat dalam Al Quran Surat Muhammad: 7. Dan yang keempat, sebagai individu mampu bersyukur terhadap  apapun yang diberikan oleh Allah SWT. Karena apa yang diberikan kepada hambaNya pasti mengandung kebaikan.

“Menjadi seoran muslim/ muslimah yang terus istiqomah dalam Iman dan Islam, juga terus berupaya meningkatkan keimanan, keislaman, keikhsanan, keikhlasan, dan penguasaan ilmu pengetahuan. Di tengah kehidupan bermasyarakat berbangsan dan bernegara mampu hadir menjadi manusia yang paripurna sesuai dengan kadarnya masing-masing. Seorang yang mampu menjadikan dirinya menjadi agen-agen perubahan dan keteladanan di tengah masyarakat di mana kita berada, serta mampu menjadi pemimpin yang bijaksana,” tegasnya. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here