Home Pendidikan Membaca Digital, Menulis Digital

Membaca Digital, Menulis Digital

73
0
Flyer Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kominfo RI, Kamis (16/9/2021) dengan tema Mudah Membaca dengan Perpustakaan Digital. Para pembicara Dosen Universitas PGRI Yogyakarta Iis Lathifah Nuryanto, M.Pd (Budaya Digital), Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS Yudha Wirawanda S.I.Kom MA (Kecakapan Digital), Pustakawan Ahli Muda DPAD DIY M Hadi Pranoto dan Wartawan Senior YB Margantoro. Bupati Kulonprogo H Sutedjo tampil sebagai keynote speaker, Finalis Indonesia Idol 2018 Top 12 Mona Larisa sebagai key opinion leader, moderator Amel Sannie. Foto : Flyer Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kominfo RI

BERNASNEWS.COM – DATA survey indeks literasi digital nasional tahun 2020 di 34 provinsi di Indonesia, menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo RI, 2020), akses terhadap internet ditemukan kian cepat, terjangkau dan tersebar hingga ke pelosok. Dalam survey tersebut juga terungkap bahwa literasi digital masyarakat Indonesia masih berada di level sedang.

Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham akan literasi digital, Kominfo RI telah menyusun Peta Jalan Literasi Digital 2021-2024 yang menggunakan sejumlah referensi global dan nasional. Dalam Peta Jalan ini dirumuskan empat (4) kerangka literasi digital untuk penyusunan kurikulum yaitu Digital Skill, Digital Savety, Digital Ethics dan Digital Culture.

Kominfo menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, berulang setiap tahun hingga mencapai 50 juta orang melek digital pada 2024. Oleh karena itu, dibutuhkan penyelenggaraan kegiatan literasi yang massif di 514 kabupaten/kota di 14 provinsi di Indonesia.

Menteri Kominfo RI Johnny G Plate mengemukakan, Revolusi Industri 4.0 mendorong disrupsi teknologi digital berlangsung dengan sangat pesat hingga mempengaruhi tatanan perilaku masyarakat. Mengutip Presiden Joko Widodo, dia mengatakan, pemanfaatan konektivitas digital harus diiringi dengan tetap berpegang teguh pada kedaulatan bangsa. Keteraturan masyarakat khususnya dalam menjaga kedaulatan bangsa di ruang digital, harus dimulai dari peningkatan etika masyarakat Indonesia guna mengisi celah-celah kosong nilai-nilai sosial dari interaksi di ruang digital.

Kegiatan di Jateng dan DIY

Penyelenggaraan Kegiatan Literasi Digital di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dimaksudkan untuk melakukan kegiatan massif mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan akal-pikirnya untuk mengidentifikasi hoaks dan mencegah terpapar dampak negatif  penggunaan internet.

Tercatat peserta Kegiatan Literasi Digital di Jateng dan DIY untuk Jateng I di 18 Kota/Kabupaten, 19.390.855 orang warga, jumlah target 722.118, jumlah kegiatan 1.192. Untuk Jateng II-DIY di 22 Kota/Kabupaten, 19.431.511 orang warga, target 723.631, kegiatan 1.195.

Di wilayah Kabupaten Kulonporogo DIY Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kominfo RI dilaksanakan pada Kamis (16/9/2021) dengan tema Mudah Membaca dengan Perpustakaan Digital. Bupati Kulonprogo H Sutedjo tampil sebagai keynote speaker, Finalis Indonesia Idol 2018 Top 12 Mona Larisa sebagai key opinion leader, moderator Amel Sannie.

Tampil sebagai pembicara Dosen Universitas PGRI Yogyakarta Iis Lathifah Nuryanto, M.Pd (Budaya Digital), Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS Yudha Wirawanda S.I.Kom. MA (Kecakapan Digital), Pustakawan Ahli Muda DPAD DIY M Hadi Pranoto dan Wartawan Senior YB Margantoro.

Kalau tidak membaca, tidak menulis

Seorang teman saya pernah memperoleh pernyataan dari mantan dosennya yakni, “Kalau engkau tidak (punya) kebiasaan membaca, engkau tidak bisa menulis.”. Masih ada pernyataan dari penyair Inggris Frank Laurence Lucas yang mengatakan, “Seseorang belajar menulis dengan membaca buku-buku yang baik, seperti halnya dia belajar bicara dengan mendengarkan pembicara yang baik.”

Menurut teman saya yang dosen dan penulis itu, tidak sulit untuk setuju dengan mantan dosen maupun sang penyair Inggris. Yang sulit adalah melakukan apa yang mereka katakan. Kebiasaan membaca sampai kini pun tetap belum membudaya.

Bahkan berita terbaru dari koran ibukota Jakarta edisi Rabu (15/9/2021) mengutip Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IPI) Pusat Arys Hilam Nugraha pada acara Simposium Nasional Gerakan Desa Membaca bertajuk Terwujudnya Masyarakat Tangguh Melalui Pustaka Bergilir Buku Masuk Rumah di Jakarta, Selasa (14/9), menyatakan bahwa budaya literasi di publik belum terbentuk.

“Peningkatan pada akses teknologi digital juga lebih kuat pada aktivitas menonton dan mendengarkan. Bahkan tidak ada aplikasi terkait buku yang masuk dalam 10 aplikasi yang paling banyak diunduh tahun 2021. Literasi memang bertumbuh, termasuk literasi digital. Namun literasi dalam arti membaca dan menulis yang merupakan kemampuan mendasar dan kemampuan pembebas belum berkembang,” kata Arys.  

Sebuah buku bertajuk Jadilah Warga Dunia – Temukan 56 Cara Mewujudkannya karya Eileen Rachman (2016) menyajikan beberapa hal yang berkaitan dengan literasi (digital). Seperti misalnya Cermat bermedia sosial, Harus melek komputer, Global mindset, Cermat membaca, Bisa mencerna informasi, Paham etiket, dan sebagainya. Artinya apa? Literasi digital adalah bagian tidak terpisahkan dari masa depan bangsa dan Negara.

Bahwa masa depan kita itu pasti berbeda, maka kita wajib dari hari ini bersiap-siap. Bersiap menjadi warga masa depan. Masa depan itu ya kita sendiri. Bahwa profesi masa depan tidak sama dengan sekarang, maka kita harus siap mengembangkan start up mentality, memiliki wawasan bisnis (antara lain dengan literasi digital).

Media adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi, pesan dan harapan. Selama ini kita mengenal media massa yakni media cetak, media elektronik dan media online (kantor berita). Dalam perkembangannya, ada istilah konvergensi media yang merupakan perkembangan tuntutan kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi informasi komunikasi dalam bentuk penyatuan sajian informasi dari ketiga platform tersebut.

Kini, kehadiran media digital semakin dirasakan sebagai kebutuhan yang tidak terelakkan lagi. Secara teknis keterampilan, budaya, keamanan dan etika penggunaan digital di masyarakat mungkin sudah bertumbuh. Pemerintah melalui Kominfo RI dengan Gerakan Nasional Literasi Nasional terus melakukan upapa peningkatan ranah itu. Namun budaya dalam arti kebiasaan membaca dan menulis serta kesadaran etika harus terus diperjuangkan, diwujudkan dan ditumbuhkan.

Media massa dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik secara tegas mengatur aneka pedoman yang harus ditaati jurnalis dan penerbit pers. Di sisi lain, ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)  Nomor 19 Tahun 2016 yang menerapkan ancaman hukuman bagi kejahatan internet.

Bagi praktisi pers dengan adanya UU Pers Niomor 40 Tahun 1999 dan aneka kebijakan kemassmediaan/keredaksionalan merupakan tanggungjawab dan sekaligus kehormatan profesi demi kebenaran pemberitaan, kesejahteraan masyarakat dan tegaknya demokrasi. Sedangkan bagi pengguna media sosial, penetapan etika digital adalah pembatas ruang ekspresi yang seolah dianggap bebas itu. Maka memanfaatkan atau menggunakan media digital harus BENAR dan BAIK sebagai pencerminan etika digital. Ada sikap, perilaku, kemampuan, status atau posisi pengguna dan pengalaman empirik yang harus mendapat perhatian seksama.

Membaca dan menulis melalui media digital secara umum relatif lebih mudah. Namun pengguna tetap harus menyadari, memahami dan mematuhi aturan main yang berlaku. Ada pembatas, peraturan dan bahkan ancaman yang siap menghadang bila kita abai dan sengaja melanggar aturan.

Sekelompok anak muda, siswa jurnalistik SMA BOPKRI 2 Yogyakarta berdikusi kecil tentang literasi digital melalui WAG. Menurut Cameylia Shintya Pawetri, pengalamnan dia saat menggunakan media sosial adalah ada rasa senang dan sedih. Sukanya dapat menambah pengalaman bermain tiktok dance. Juga ketika menggunakan instagram, senang membuat konten yang dia suka. Sedihnya adalah ketika mendapat hate komen.

“Pengguna media sosial semestinya tahu etika digital. Jangan sampai misalnya menghujat orang, membully. Berpikirlah lebih dulu sebelum menggunakan media sosial. Pakailah media sosial seperlunya saja,” kata dia.

Pelajar dan mahasiswa adalah bagian dari sasaran program Kegiatan Literasi Digital Kominfo RI 2021 di Jateng dan DIY, selain guru dan orangtua, ASN/Polri/TNI, Petani/Nelayan/UMKM, LSM/Komunitas dan masyarakat umum. Maka mari kita belajar dan berkarya melalui media digital. Karena harapan akhir dari memanfaatkan media digital adalah kita mampu menghasilkan produk dan jasa demi kejayaan dan martabat bangsa dan Negara. (YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here