Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMemaknai Perjumpaan yang Menginspirasi

Memaknai Perjumpaan yang Menginspirasi

bernasnews.com – Setiap pribadi pasti mengalami suatu perjumpaan dengan seseorang atau sesuatu di suatu tempat dan waktu tertentu. Perjumpaan dapat diagendakan atau terjadi tanpa sengaja.

Perjumpaan dapat dilatarbelakangi suatu alasan, kebutuhan, tujuan dan sebagainya. Manfaat atau hikmah dari perjumpaan tersebut tergantung bagaimana para pihak yang berjumpa memaknai momentum itu.

Selama lebih dari dua tahun, akibat pandemi Covid-19, banyak agenda atau kesempatan berjumpa secara fisik antarseseorang atau antar banyak orang tidak boleh atau tidak dapat dilakukan. Maka solusi yang dilakukan adalah dengan bantuan sarana teknologi komunikasi melalui zoom meeting, video call, whatsApp, dan sebagainya.

Apakah perjumpaan langsung secara fisik dengan perjumpaan secara virtual sama? Tentu saja tidak. Ada hal-hal yang hilang atau tidak dapat dijelaskan tentang bagaimana “kedekatan” dan “asyiknya” berjumpa secara fisik. Para anak didik di seluruh penjuru tanah air pasti dapat bercerita banyak tentang “suka duka” belajar jarak jauh atau online selama ini.

Pada awalnya bertanya

Pada awal perjumpaan antarinsan, sering dimulai dengan pertanyaan sederhana, apa kabar? Konon orang Indonesia pada umumnya senang bertanya tentang kabar teman atau lawan bicaranya. Bangsa lain ada yang bertanya lebih khas, bagaimana kesehatan Anda? Atau ada yang bertanya hal-hal lain.

Bagaimana dengan wartawan, awak media cetak, elektronik atau media online?

Tentu secara umum, ketika berjumpa dengan narasumber, wartawan bertanya tentang bahan informasi yang akan dibuat menjadi berita. Pertanyaan dapat bersifat konfirmasi karena wartawan sudah memperoleh bahan fakta di lapangan atau dari sumber lain. Pertanyaan juga dapat bersifat personal kemanusiaan untuk bahan berita kisah atau feature. Atau pertanyaan mendalam untuk keperluan reportase.

Wawancara untuk materi berita langsung atau hard news dengan aneka ragamnya itu berbeda. Ada wawancara untuk calon berita utama atau headline, berita sebelum agenda atau preview news, berita siaran langsung (untuk media elektronik) atau live news dan berita sesudah agenda atau review news.

Masih ada wawancara untuk follow up news, blow up news, on the street interview, latest news, stop press news atau breaking news, dan sebagainya. Dinamika dan perjuangan untuk menjadi berita, dengan aneka bentuk wawancara itu, tentu berbeda-beda.

Demikian pula wawancara untuk tulisan feature (soft news, news feature, feature, dan developing news stories) dan tulisan reportase atau laporan (factual reporting, depth reporting, interpretative reporting dan comprehensive reporting).

Meski cara, semangat dan kondisinya berbeda, namun benang merah roh wawancaranya sama. Yakni menjunjung tinggi etika dan etiket, memahami materi atau perspektif materi yang digali, menghormati narasumber, mendengarkan pendapat narasumber, terus menjalin silaturahmi untuk wawancara berikut, paham isu-isu actual, dan sebagainya.

Apakah wawancara itu mudah bagi wartawan? Sebenarnya tidak. Karena banyak hal atau aspek yang harus dipelajari atau dipersiapkan terlebih dulu. Apakah wawancara itu sulit? Belum tentu juga. Karena pada dasarnya, selalu ada yang baru atau tantangan baru saat wawanwara. Jam terbang wartawan memang membantu. Tapi selebihnya adalah keberanian, situasional, dan keberuntungan.

Wawancara feature

Dari pengalaman penulis sebagai wartawan pembelajar, jenis wawancara yang disukai adalah wawancara feature. Wawancara yang menekankan kemanusiaan atau human interest. Dari wawancara ini, penulis merasa memperoleh pembelajaran kehidupan yang holistik dari narasumber. Narasumber dimaksud tidak harus (dengan) orang besar, namun juga orang kebanyakan atau orang biasa.

Bukankah kebijaksanaan atau wisdom seseorang tidak hanya dapat diperoleh dari bangku sekolah atau kuliah di pendidikan formal? Namun juga dapat diperoleh dari pendidikan informal, pendidikan nonformal dan terlebih pendidikan seumur hidup.

Selain senang wawancara feature, penulis juga senang membukukan sebagian hasil wawancara feature itu dalam sebuah produk monumental bernama buku. Jadi penulis memperoleh banyak manfaat selama proses wawancara dan sesudahnya. Yakni wawasan, pembelajaran dan makna kehidupan, hubungan, sampai karya monumental yang dapat diwariskan anak cucu.

Salah satu contoh karya dimaksud adalah serial buku Perjumpaan yang Menginspirasi, terbit perdana tahun 2015. Untuk seri berikutnya, teks Perjumpaan yang Menginspirasi jadi sub judul. Judul utama berikutnya adalah Semua untuk Tuhan (2015/2016), Memanusiakan Manusia (2018/2019), Merawat Keberbedaan (2020), Hargai Sekecil Apapun Karya Siswa (2021).  

Sebagai wartawan dan narasumber, penulis mencoba mendokumentasikan dalam bentuk buku bertajuk Wartawan Bertanya Wartawan Menjawab (2021). Mewawancarai itu asyik, namun diwawancarai sesama wartawan/penulis itu juga asyik.

Jadi dalam suatu tempat dan kesempatan tertentu, siapa tahu kita dapat bertemu. Anda sebagai narasumber dan penulis sebagai pewawancara. Atau sebaliknya, Anda yang bertanya dan penulis yang menjawab. Betapa indah perjumpaan yang saling menginspirasi.

Mari kita saling berbicara dengan hati dan mendengarkan dengan (telinga) hati. (Y.B. Margantoro, wartawan dan pegiat literasi).  

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments