Memaknai Perjuangan RA Kartini

    612
    0
    Klara Anggrahita Sciffi, Siswa Kelas XII IPS/SMA Marsudirini Muntilan, Jawa Tengah. (Foto: Dok. Pribadi)

    BERNASNEWS.COM — Raden Ajeng (RA) Kartini adalah salah satu pahlawan yang berjuang untuk para wanita pada masanya. Beliau lahir di Jepara, anak dari Bupati Jepara dan selirnya. Meskipun anak dari bupati, R.A Kartini tidak pilih kasih kepada siapa pun. Karena, beliau ingin para wanita bisa sederajat dengan para pria, tidak dipandang rendah, dan dihargai serta memiliki kebebasan untuk bisa mengembangkan kemampuan dan meraih cita-cita.

    Di masanya, semua wanita yang kira-kira sudah berumur 12 tahun ke atas harus dipingit atau tetap di dalam rumah dan tidak boleh keluar. Setelah dipingit, para wanita tersebut harus mau dinikahkan dengan seseorang yang tidak mereka cintai, bahkan mengenalnya saja tidak. Mereka hanya bisa berpasrah dan menuruti kemauan orang tuannya, sehingga di usia yang seharusnya mereka sekolah, mereka justru sudah mempunyai suami dan anak, bahkan ada yang sudah memilki cucu. Mereka hanya diperbolehkan memasak di dapur, membersihkan rumah dan mengurusi anak juga suaminya. Berbeda dengan R.A Kartini yang berani menentang hal tersebut.

    Meski tidak sekolah R.A Kartini mampu belajar sendiri hingga ia bisa berbahasa Belanda dengan lancar dan menulis sebuah tulisan. Ketika dipingit, beliau berani keluar dan menyajikan minuman untuk para tamu Belanda. Bahkan Kartini ikut berbincang dengan para tamu tersebut. Sejak itu, bupati mengijinkan R.A Kartini bersama dua saudaranya untuk keluar dan bertemu dengan tuan-tuan Belanda. Namun, istri bupati atau ibu tiri R.A Kartini tidak menyukai hal tersebut, tidak setuju dengan keputusan suaminya yang memberi sedikit kelonggaran atau kebebasan untuk anak-anaknya.

    Salah satu kakak laki-laki Kartini juga tidak setuju dengan hal tersebut. Dan ketika suatu hari Kartini bersama kedua saudaranya keluar mengantar surat ke tuan Belanda, mereka tidak diijinkan dan surat tersebut dibakar. R.A Kartini tetap berusaha dengan berbagai cara hingga surat tersebut sampai di tangan tuan Belanda.

    Kartini adalah orang yang cerdas dan banyak akal. Beliau menulis surat di sehelai kertas kecil dan dibungkus dengan daun kemudian dimasukkan ke dalam sayur, sehingga kakaknya tidak akan tahu bahwa Kartini mengirim surat. Kemudian, tuan Belanda pun menerima sayur tersebut dan ditemukannya sebuah daun yang ditusuk, lalu dibukanya. Surat tersebut, mengatakan bahwa R.A Kartini dilarang keluar oleh kakaknya.

    RA Kartini (Foto: Repro)

    Banyak tantangan yang harus dijalani sosok R.A Kartini. Namun, beliau tetap berusaha dan usahanya pun tidak sia-sia. Karangan yang beliau tulis pun terbit dan tercetak atas nama Bupati Jepara. Batik yang dibuat kedua saudaranya juga disukai oleh tuan Belanda. Bahkan ukiran wayang yang sempat ditolak untuk diukir oleh tukang ukir karena takut dengan kutukan, akhirnya dibuat atas perintah dan persetujuan bupati.

    Dan di rumah bupati, R.A Kartini mengundang semua wanita bersama anak cucunya untuk sekolah. Kartini mengajari mereka membaca huruf arab, juga huruf yang sekarang dikenal dengan huruf alphabet (a,b,c, dan seterusnya). Di samping itu, orang tuanya tetap ingin menikahkan R.A.Kartini dengan bupati Rembang yang tidak dikenal. Sehingga, Kartini meminta empat syarat dan jika calon suaminya mau memenuhi syarat tersebut, Kartini akan menerima pernikahan tersebut. Salah satu syaratnya adalah membantu membangun sebuah sekolah. Akhirnya, bupati Rembang menyetujui syarat-syarat yang diminta Kartini dan menikahinya.

    Setelah menikah, cita-cita R.A Kartini untuk membangun sekolah bagi para wanita terwujud. Sehingga, semua wanita bisa sekolah, menempuh ilmu dan bekerja sesuai cita-cita yang diinginkan, serta sederajat dengan para pria. Selain itu, para wanita juga akan lebih dihargai dan tidak terlihat rendah. Cita-cita Kartini sungguh mulia, keinginannya menunjukan bahwa wanita juga bisa dan memiliki kemampuan dalam hal bekerja tercapai dengan perjuangan yang tidak mudah.

    Keberadaan para wanita yang bisa sekolah dan memiliki gelar, jabatan, serta bekerja merupakan berkat R.A Kartini. Oleh sebab itu, untuk menghormati dan menghargai jasa-jasanya sebagai pahlawan memperjuangkan para wanita, pemerintah menetapkan tanggal 21 April sebagai hari memperingati R.A Kartini. (Klara Anggrahita Sciffi, Siswa Kelas XII IPS/SMA Marsudirini Muntilan, Jawa Tengah)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here