Melestarikan Budaya Lewat Tari dan Wayang

    750
    0
    I Made Christian Wiranata Rediana, mahasiswa semester 9 Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jawa, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. (Foto: Kiriman Adhimas Yudistira)

    BERNASNEWS.COM — I Made Christian Wiranata Rediana adalah pemuda darah campuran Jawa dan Bali yang sangat mencintai Budaya Indonesia. Pemuda kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1998 ini menunjukan kecintaannya kepada Budaya Indonesia dengan ketekunannya mempelajari tarian yang ada di Indonesia, khususnya tarian Bali dan Jawa.

    Kecintaannya pada seni tari bermula pada saat menginjak bangku Taman Kanak-Kanak (TK) ketika melihat orang menari. I Made Christian Wiranata Rediana memilih untuk belajar mandiri secara otodidak dengan melihat orang menari dan melihat video tari lalu menirunya.

    Melihat ketekunannya berlatih, kedua orang tuannya akhirnya mendaftarkan anak ke-2 dari 3 bersaudara tersebut untuk berlatih tari ke sanggar tari di Kalimantan, tepatnya di Kota Samarinda. Pada awal mulanya di sanggar dia diajarkan tarian Bali secara privat. Kemudian ketika pindah ke Yogyakarta pada tahun 2004, dia tetap meneruskan berlatih dan memperdalam tariannya disalah satu sanggar tari di Yogyakarta. Tak membutuhkan waktu lama, Redian begitu dia akrab disapa teman-temannya belajar banyak tari dan mulai berani mementaskan tarian Bali.

    Seiring berjalannya waktu, Redian mulai mengenal tarian Jawa. Tari yang pertama ia ketahui adalah tari kreasi dari sanggar Kembang Sore. Lantas mulai merambah ke tari klasik pada saat kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Tari Jawa pertama yang ia bawakan adalah Tari Kuda-kuda karya Bagong Kussudiardja.

    Kemudian pada saat menginjak kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP), Redian mulai berani belajar menarikan tari Klasik Gaya Kraton Yogyakarta dengan belajar di nDalem Pujokusuman, sampai kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dengan guru Nor Sotya Nugraha, putra satu-satunya maestro tari klasik Yogyakarta (alm) KRT. Sasmitadipura pemilik Sanggar Pujokusuman. Dari situ dia mengembangkan sendiri bakat tari tersebut dengan ikut sanggar Keraton Yogyakarta, di Bangsal Kesatrian yang setiap minggunya mengadakan latihan rutin.

    Mahasiswa semester 9 Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Jawa, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini, saat kuliah mulai menekuni bakatnya dengan belajar tari Gaya Pakualaman, dari tarian yang mendasar hingga tarian lepas.

    Dari kecintaannya pada seni menari, banyak kejuaraan yang sudah didapatkan oleh Redian. Contoh, seperti Juara III Lomba Tari Gaya Pakualaman pada tahun 2019 Tingkat Umum, Juara Harapan III Lomba Tari Gaya Pakualaman pada tahun 2018 Tingkat Umum, serta Juara II lomba Tari Klasik pada tahun 2018 Tingkat Fakultas.

    Lelaki yang memiliki moto “Binuka Sinuksmeng Galih” (kemukakan lalu resapi) ini tidak hanya memiliki bakat menari, tetapi juga memiliki bakat mendalang. Sejak kecil ia sudah sering melihat pagelaran wayang melalui televisi dan melalui internet. Bakat mendalang yang dimilikinya juga didapatkan secara otodidak dengan berlatih di rumah menggunakan beberapa wayang yang dimilikinya.

    Ketika kuliah pada awal Semester 2, Redian bergabung dengan Balai Budaya Minomartani yang secarta rutin mengadakan pagelaran wayang kancil atau bisanya dikenal wayang fabel. “Saya sangat suka pagelaran wayang dengan sifat cerita adhiluhung (kolosal). Banyak dalang yang saya suka, namun saya sangat suka dan menjadi favorit saya adalah dalang Ki Radyo Harsono, dalang dari Muntilan dan Ki Purbo Asmoro, dalang dari Surakarta. Saya sangat suka kedua dalang tersebut karena pagelaran wayang yang beliau bawakan melengkapi informasi cerita dan tidak hanya sekedar hiburan,” ungkap Redian.

    Beberapakali Redian pentas mendalang, antara lain pada tahun 2019 mendalang wayang kancil dengan lakon Sasadara, bulan November tahun 2019 mendalang wayang kancil di Bambanglipuro, Bantul dan yang terahkir pada bulan Februari tahun 2020, mementaskan “semi” Wayang Wahyu yang menceritakan St. Johannes De Brito. (Adhimas Yudistira, Mahasiswa Program Studi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here