Home Pendidikan Melawan Hoaks dengan Program ‘Tular Nalar’

Melawan Hoaks dengan Program ‘Tular Nalar’

57
0
Logo Kemdikbud

BERNASNEWS.COM – Maraknya media sosial dan media informasi membuat berita-berita hokas maupun informasi yang tidak jelas sumbernya bertebaran. Hal ini sangat berbahaya karena masyarakat akan sulit membedakan informasi yang benar atau bohong, apalagi tingkat literasi media yang masih rendah.

Karena itu, untuk meningkatkan literasi media, terutama di kalangan dosen dan mahasiswa, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewujudkan program tular nalar.

Melalui program yang dibuat bekerjasama dengan Maarif Institute pada Oktober 2020 ini akan memberikan pelatihan terkait pemikiran kritis dan literasi media di perguruan tinggi. Bahkan pelatihan pertama di perguruan tinggi negeri diselenggarakan bagi civitas academica UGM.

Pelatihan yang digelar secara daring pada Senin, 4 Januari 2021, dengan tema Program Literasi Media bagi Dosen untuk Penyemaian Perdamaian dan Pemikiran Kritis ini bertujuan mendukung dan memfasilitasi pengajar di perguruan tinggi untuk mengajarkan keahlian literasi media, termasuk dalam menangkal hoaks, disinformasi dan misinformasi dalam konteks Covid-19 sekarang ini.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nizam yang dikutip Bernasnews.com dari laman resmi kemdikbud mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah melewati tahun 2020 yang penuh cobaan, penuh dinamika dan mencerminkan post-truth.

Selama ini, batas antara dunia maya dan nyata menjadi semakin tidak nyata. Dan menjadi tantangan bagi siapa pun, terutama dunia pendidikan, untuk menyiapkan generasi unggul yang digadang-gadang sebagai penerus generasi, pembawa estafet perjalanan bangsa ke depan.

“Kita bawa para mahasiswa menjadi para sarjana unggul, sarjana yang penuh semangat membangun negeri,sekaligus penuh dengan kreativitas dan inovasi tapi juga santun dengan budaya ketimuran,” kata Nizam.

Dikatakan, dalam dunia yang semakin menyatu antara dunia maya dan dunia nyata, maka sangat penting bagi siapa pun untuk memiliki daya kritis yang tinggi. Sebab, saat ini terjadi banjir informasi yang ada di media sosial atau media informasi yang sumbernya tidak jelas tetapi sangat mendistorsi realita kita.

Menurut Nizam, pelatihan ini sangat baik untuk membawa kita semua pada pendidikan yang betul-betul mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Melalui program Tular Nalar dapat menularkan akal sehat yang menjadi komandan dalam mengambil keputusan, mempersepsi informasi dalam media yang membanjiri kita dan dibutuhkan penalaran yang kuat.

Sementara Direktur Eksekutif Maarif Institute Abdul Rohim Ghazali mengatakan bahwa pelatihan daring Tular Nalar sudah  memasuki tahapan kedua. Pada tahapan pertama sudah dijalankan untuk perguruan tinggi swasta dan pada tahap kedua memasuki tahapan kerja sama dengan perguruan tinggi negeri di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Apa yang kami lakukan ini sebagai upaya untuk menghadapi sebagian persoalan besar yang meliputi bangsa ini. Dan program ini sangat penting yang bagi kami dalam melawan hoaks,” kata Rohim.

Menurut Abdul Rohim, program ini dimulai dari diri sendiri untuk menggunakan nalar kritis dalam setiap membaca fenomena, terutama yang simpang siur di dunia daring, seperti media sosial. Ia berharap program yang ditujukan untuk para dosen ini akan menularkan kepada para mahasiswa. Selanjutnya mahasiswa yang akan menularkan pada lingkungan masing-masing, Program ini bisa di akses oleh semakin banyak kalangan di Indonesia.

“Dengan penggunaan nalar kritis dalam memanfaatkan dunia daring diharapkan dapat menjadi tradisi yang tidak hanya berada di lingkungan akademisi, dosen dan mahasiswa, tetapi juga bisa menjadi tradisi di kalangan masyarakat pada umumnya,” kata Rohim.

Pakar Komunikasi Ni Made Ras Amanda selaku pembicara pada pelatihan Tular Nalar mengatakan bahwa berdasarkan data riset data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Hotsuite pertumbuhan pengguna internet di Indonesia terus bertambah. Namun, selama pandemi Covid-19 ini ditemukan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-5 dunia berkaitan dengan rumor, stigma serta teori konspirasi Covid-19.

Untuk merespon temuan tersebut, Amanda berharap agar pendidikan tidak kenal lelah dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa menangkal berbagai dampak yang ditimbulkan dari penggunaan internet. “Mari kita mendidik anak-anak, mahasiswa untuk dapat berpikir kritis. Kehidupan mereka ke depan lebih banyak berhadapan dengan isu-isu sehingga soft skill harus ditingkatkan agar mereka dapat bertahan terhadap dampak negatif internet,” kata Ni Made Ras. (lip)

Sumber : kemdikbud .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here