Home News Melaju Bersama Pandemi Covid-19 Romo Dio Mengajak Keluar Zona Nyaman Masuk Zona...

Melaju Bersama Pandemi Covid-19 Romo Dio Mengajak Keluar Zona Nyaman Masuk Zona Berisiko

204
0
Vikep Keviekipan Yogya Timur Romo Adrianus Maradiyo Pr. Foto; Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM –Sempat ada yang melontarkan pertanyaan, mengapa Kevikepan DIY tidak menjadi Keuskupan Yogyakarta? Lontaran pertanyaan itu pun menjadi diskusi di Panitia ad hoc Pemekaran Kevikepan DIY beberapa waktu lalu.

Umat Katolik DIY yang tinggal di empat kabupaten dan satu kota, meliputi 37 paroki berjumlah 143 ribuan jiwa. Jauh lebih banyak dari Keuskupan Purwokerto yang terdiri dari 25 paroki dengan jumlah umat 61.235 orang. Juga masih lebih banyak lagi dari Keuskupan Bogor yang terdiri dari 23 paroki dengan umat berjumlah 91.058 orang.

Lontaran pertanyaan itu kini tak terdengar lagi. Suatu wilayah gerejani menjadi keuskupan adalah wewenang Vatikan. Jika Vatikan berkehendak, maka terjadilah.

Vaksinasi Belarasa Covid-19 di Paroki Minomartani: Gereja masuk ke masyarakat membantu mempercepat program pemerintah dalam melawan Covid 19. Foto: Elis Setyaningsih

Pada akhirnya Kevikepan DIY dimekarkan menjadi dua, yakni Kevikepan Yogya Barat dan Kevikepan Yogya Timur. Dan pada 7 Oktober 2020, diresmikanlah berdirinya Kevikepan Yogya Barat dan Kevikepan Yogya Timur, ditandai dengan misa konselebrasi yang dipimpin Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko di Wates, Kulon Progo.

Tanpa terasa, bersama laju Pandemi Covid-19, melaju pula Kevikepan Yogya Barat dan Kevikepan Yogya Timur dan telah mencapai waktu setahun. Pada momen ulang tahun pertama pemekaran Kevikepan DIY menjadi dua teritori gerejani ini, Vikep Kevikepan Yogya Timur Romo Adrianus Maradiyo Pr memberikan buah permenungannya.

Kelahiran Kevikepan Yogya Barat dan Kevikepan Yogya Timur, pada 7 Oktober 2020, didahului dengan pengkajian Kevikepan DIY dari berbagai sisi. Panitaia ad hoc yang dibentuk oleh Vikep DIY Romo Adrianus Maradiyo Pr selama hampir sepuluh bulan (terhitung dari bulan April 2019-Februari 2020) melihat dan mencermati dari berbagai macam segi (sejarah, sosial budaya, politik, hukum Gereja dan lain-lain) dan menggunakan data umat Katolik yang ada di DIY sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Setahun setelah dimekarkan, menurut Romo Dio-demikian sapaan akrab Romo Adiranus Maradiyo Pr- efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan pastoral sungguh terasa. Romo Dio sendiri, semula mengampu 37 paroki, kini tinggal mengampu 19 paroki. Demikian juga dengan keterlibatan umat; dengan dimekarkannya Kevikepan DIY menjadi dua, makin banyak Romo dan umat yang terlibat atau ambil bagian dalam reksa pastoral di kevikepan.

Romo Adrianus Maradiyo Pr dan beberapa imam lain merayakan ulangtahun pertama Kevikepan Yogya Timur dengan misa konselebrasi, sekalius memberkati gedung’kantor kevikepan di Pringwulung. Foto: Elis Setyaningsih

Dalam masa pandemi Covid -9, Kevikepan Yogja Barat dan Timur, lahir. Bagi Romo Dio, ini adalah situasi sulit yang sungguh menantang. Dalam situasi yang sulit namun menantang ini, ia merasa tidak sendirian. “Saya mempunyai keyakinan bahwa banyak Yusup-Yusup dan Elisabeth-Elisabeth yang dalam keheningan siap bergerak untuk menanggapi situasi yang ada,” tutur imam Projo KAS asal Ungaran ini.

Bagi Kevikepan Yogya Tmur, masa sulit karena covid menjadi kesempatan berahmat untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Kata Romo Dio, dalam masa pandemi Covid 19 ini, di kala begitu banyak warga masyarakat yang berdampak, keterlibatan umat di tingkat paroki dan lingkungan semakin tampak nyata. “Gerakan solidaritas sosial tumbuh berkembang hampir di segala lini,” tegasnya.

Romo Dio menungkapkan beberapa gerakan umat. Di Kevikepan DIY (sebelum dimekarkan) tumbuh Gerakan Ketahanan Pangan dan ketahanan ekonomi (JOLALI). Setelah Kevikepan DIY dimekarkan muncul gerakan baru sebagai wujud kepedulian dan kepekaan (sense of crisis) untuk menanggapi situasi.

 Pada Januari 2021 muncul Panco, kelompok umat yang memberikan peneguhan dan pendampingan dari sisi medis bagi mereka yang terpapar virus corona 19. Tim ini terdiri dari para dokter dan para penyintas Covid-19. Para dokter siap memberikan pencerahan bagi keluarga atau para pasien yang terpapar Covid-19. Harapannya para keluarga Katolik dan mereka yang terpapar covid 19 mendapatkan informasi yang benar dan utuh dari para dokter berkaitan penanggulangan penyebaran covid 19 dan tindakan-tindakan medis yang harus mereka lakukan.

Tim ini sangat efektif untuk memutus mata rantai berita-berita hoax berkaitan dengan obat medis yang harus dikonsumsi. Para pasien Covid 19 dan keluarga diberi keleluasaan untuk bertanya secara terbuka dan detail tentang Covid 19 kepada para dokter yang sungguh kompeten. Jawaban para dokter sungguh mencerahkan bagi mereka.

Pada bulan Juni 2021 terbentuk Tim Pendamping Rohani Kevikepan Yogja Timur. Tim yang beranggota para romo dan suster serta awam ini mengadakan kegiatan doa peneguhan secara online. Doa peneguhan ini diadakan setiap malam pukul 20.30 wib. Yang mengikuti acara doa peneguhan ini tidak hanya umat Katolik yang ada di DIY, tetapi lintas Keuskupan, lintas kota dan pulau, bahkan lintas negara.

Tim ini berlangsung sampai dengan tanggal 28 Agustus 2021. Untuk menjawab kerinduan umat yang kadhung tresna dengan doa peneguhan ini, maka Kevikepan tetap melanjutkan doa peneguhan iman setiap Kamis dan Minggu. Di bulan Oktober ini Tim doa peneguhan iman mengadakan doa Rosario bersama setiap malam.

Pada bulan Agustus 2021 dibentuk Tim Pendampingan Psikologis. Tim ini mendampingi secara privat umat atau keluarga yang terdampak secara psikologis karena wabah Covid 19 ini.

Pada tanggal 15 Juli 2021-1 Oktober 2021 dibuka shelter Syantikara. Shelter ini diinisiasi oleh para Suster CB dan Yayasan Panti Rapih. Kevikepan Yogja Timur ikut ambil bagian dalam pengadaan akomodasi shelter ini. Karena wabah covid 19 sudah melandai, mereka yang isoman berkurang drastis, shelter Syantikara ini akhirnya ditutup per tanggal 1 Oktober 2021.

Gerakan ketahanan ekonomi yang semula JOLALI 1, 2 dan Gunung Kidul, kini gerakan ini berkembang, sehingga ada wag PJS (Persaudaraan Jogjapreuener Sehati) dan Bakule Kang Yusup. Gerakan ini, kecuali untuk mengembangkan ekonomi rumah tangga, mereka juga membangun semangat solidaritas social antar anggota.

Gerakan Kepedulian Allah Adalah Kasih. Gerakan ini diinisiasi oleh Komisi PK3 Kevikepan Yogja Timur. Programnya adalah pengadaan peti jenasah secara gratis bagi umat yang membutuhkan. Kecuali itu, bekerja sama dengan Kevikepan Yogja Barat mengadakan gerakan vaksinasi yang bertempat di paroki-paroki (sejak 21 Agustus hingga akhir September Program Vaksinasi Belarasa Covid 19 ini telah menjangkai 17 paroki dan terus berlanjut ke paroki-paroki lain. Jumlah tervaksin mencapai 16 ribu orang dari masyarakat umum) .

Pengalaman ketidakberdayaan karena wabah covid 19 tidak membuat Gereja Kevikepan Yogya Timur  lumpuh. “Dalam situasi macam ini kami terus bergerak untuk menanggapi situasi. Kami diajak untuk berani keluar dari zona nyaman, masuk ke zona beresiko,” tekad Romo Dio.

Romo Dio menyadari Gereja Kevikepan Yogya Timur tidak bisa bekerja sendirian. Perlu berkolaborasi dengan banyak pihak. Maka sangat perlu terus dibangun kerjasama lintas komisi.

Ia berharap komisi-komisi yang ada siap jemput bola, terjun ke paroki-paroki untuk mengadakan pendampingan baik secara online maupun offline dalam jumlah yang terbatas dengan menjalankan prokes secara benar.

Kevikepan Yogya Timur terus meningkatkan kerja sama lintas iman dan kerja sama dengan lembaga-lembaga Perguruan Tinggi. “Saya bersyukur Perguruan Tinggi Negeri (UGM) dan Perguruan Tinggi Katolik yang ada di Yogya sangat terbuka untuk diajak berkolaborasi. Sesuai dengan disiplin ilmu yang kami butuhkan, mereka siap terlibat dalam gerak langkah Kevikepan, lebih-lebih di masa pandemi ini.” (Anton Sumarjana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here