Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMedia Sosial dan Hiperrealitas

Media Sosial dan Hiperrealitas

BERNASNEWS.COM – Jean Baudrillard mengenalkan konsep hipperealitas. Pemikir postmodernis dari Perancis itu menyebutnya simulacra yang berarti duplikat dari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada dan menyebabkan perbedaan antara duplikat dan fakta menjadi suram dan kabur. Tampaknya, gagasan ini telah merasuk pada manusia modern saat ini melalui tampilan di media sosial.

Beberapa orang mengunggah foto diri mereka dengan tampilan yang keren dan terkesan pada status WA, facebook atau di instagram.  Para pengunggah berhasrat mendapat like dan comment. Mereka pada dasarnya ingin mencari bentuk perhatian dan apresiasi. Ada kebanggaan ketika banyak orang memperhatikan atau ada pengakuan dalam hidupnya.

Mereka mencoba mengikuti tren yang sedang berkembang, baik itu selera fashion, music, makanan, dan lain-lain. Memang tidak ada yang salah dengan hal ini. Menjadi persoalan ketika aktivitas tersebut dilakukan berbanding terbalik dengan dunia nyata yang dihadapi.

Beberapa contoh menarik dapat disebutkan. Satu ketika seseorang mengunggah foto acara reuni. Ia memberi caption, “suasana yang hangat dan menyenangkan setelah sekian lama tidak bertemu”. Dalam kenyataan ternyata suasana ini berbanding terbalik karena saat reunian, mereka justru menghabiskan waktu dengan gadget masing-masing.

Pertemuan berlabel reunian memang terjadi tetapi tidak sesuai dengan tulisan yang menjelaskan foto kebersamaan. Tidak jarang kita juga menjumpai orang yang begitu garang di media sosial. Mereka mampu menghujat dan mencaci maki, namun dalam dunia kesehariannya ternyata sosok yang penakut dan pendiam.

Kita juga mungkin menjumpai seseorang yang begitu romantis di media sosial tetapi sebenarnya sosok yang dingin. Contoh lain yang paling nyata adalah maraknya berita hoax, prank atau mungkin ujaran kebencian yang berujung pada kenestapaan. Seseorang dapat saja tampil kuat, perkasa, jagoan dan menyuarakan ujaran kebencian. Tetapi  setelah terkena kasus hukum pelanggaran UU ITE dan diproses secara hukum, ia tampak kuyu, sedih, bahkan stres dan tidak bisa berargumen seperti sebelumnya.

Media sosial membawa dunia fatamorgana yang bukan menunjukkan gambaran jati dirinya. Pada ranah tertentu seseorang justru menghadapi persoalan baru dalam kehidupannya.

Bukan menjadi diri apa adanya tentu menjadi persoalan yang tidak nyaman dalam kehidupannya. Kehidupan yang penuh dengan tuntutan angan-angan dan harapan. Mereka hidup di alam gagasan yang di dalam pikirannya hanyalah sebuah bentuk pengakuan.

Media sosial pada akhirnya menjadikan seseorang manusia hiperrealitas atau dengan kata lain menjadi sarana untuk melakukan kebohongan atas dirinya sendiri dan publik. Media sosial juga membuat kita kesulitan untuk mengenal orang lain dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu.

Mengapa orang nyaman dengan hiperrealitas? Tentu hal ini terkait dengan adanya kebutuhan untuk diakui, kebutuhan akan harga diri.  Meskipun sebenarnya kebutuhan ini hanya ada dalam alam gagasan kita.

Pada akhirnya hiperrealitas membuat kita mencoba memenuhi apa yang sebenarnya bukan diri kita, kita memaksakan sesuatu yang sebenarnya kita tidak mampu. Tentu ini menjadi sebuah penderitaan. Ajakan bagi kita, mari menggunakan media sosial seraya tetap menjadi diri kita adanya. Banyak cara dan sarana yang lebih tepat dan pas untuk memenuhi kebutuhan akan harga diri kita tanpa membohongi diri kita yang sebenarnya. (Emmanuel Satyo Yuwono, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments