Home Opini Masih Adakah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu?

Masih Adakah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu?

157
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta Foto : Dok pribadi

BERNASNEWS.COM – APAPUN yang terjadi dalam dunia pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), TK, SD, SMP, SMA hingga jenjang perguruan tinggi, pasti tidak dapat dipisahkan dengan adanya peran guru atau dosen.

Khusus di jenjang pendidikan formal dari TK sampai SMA, peran seorang guru sangat menentukan masa depan anak didik. Karena guru mempunyai peran yang sangat berarti dalam rangka mencerdaskan anak didik sebagi generasi penerus bangsa.

Karena itu, di kalangan pendidikan seperti ini, dikenal dengan sebutan bahwa guru itu merupakan sosok pahlawan meski tidak pernah mendapatkan tanda jasa, sehingga kita semua menyebut guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Bahkan kemudian dikenal pula adanya sebuah lagu yang digubah oleh seorang komposer dengan judul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” untuk mengapresiasi sosok guru yang telah berjasa dalam membawa anak didik memasuki hari depan yang lebih baik. Karena murid menjadi pandai, sehingga dengan kepandaia tersebut anak didik tidak khawatir lagi mengarungi masa depannya dengan mantap.

Pertanyaan lebih lanjut adalah, apakah di zaman milenial ini masih dapat kita temukan sosok guru yang dapat diharapkan mampu memberikan bekal kepada anak didik sedemikian rupa, agar anak didik menjadi orang yang mampu diandalkan dalam kehidupan mereka nantinya?

Waktu yang telah berbeda

Secara nyata memang disadari bahwa waktu telah berubah. Pada waktu yang lampau bila seorang anak belajar di bangku sekolah, apalagi di tingkat pendidikan dasar atau SD, maka seorang guru benar-benar sangat dihormati oleh anak didiknya.

Penulis teringat ketika duduk di bangku SD, kalau berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari rumah menuju sekolah karena jarak tidak begitu jauh, selalu berangkat pagi-pagi benar, dengan tujuan sampai sekolah masih lebih dahulu dibanding dengan kehadiran guru yang tiba di sekolah.

Kemudian biasanya beberapa siswa setelah meletakkan tas dan buku di bangku kelas, kemudian berdiri di pintu gerbang sekolah dengan tujuan utama menunggu datangnya guru di sekolah yang berangkat dari rumah dengan naik sepeda onthel. Kemudian setelah para murid melihat kehadiran guru mereka di sekolah, maka mereka berlomba untuk menyongsong guru tersebut untuk membawakan entah sepeda, tas atau perlengkapan lainnya, sehingga sang guru tinggal menuju ke ruang kelas.

Jadi tanpa ada komando dari siapa pun para murid menaruh rasa hormat kepada guru sedemikian rupa, sehingga benar-benar figur guru tersebut bak tokoh idola setiap murid yang diajar. Dan pada waktu itu bila ada guru yang memarahi murid, tidak akan pernah ada bantahan dari murid, mereka hanya akan selalu tunduk pada perintah guru. Dan tidak akan pernah ada campur tangan dari orangtua dan juga pihak lainnya. Sehingga secara prinsip, orangtua selalu mempercayakan pendidikan anak tersebut kepada pihak sekolah.

Beda dengan zaman sekarang, dimana hal seperti itu dapat dipastikan ditemui di sekolah mana pun. Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi yang sedemikan pesat. Rasa individualistis seorang anak semakin merajalela, apalagi kalau mereka sudah dihadapkan dengan gadget seperti handphone (HP) dan sejenisnya.

Bahkan kadangkala dalam menimba pelajaran atau ilmu di kelas, anak pun akan menjadi lebih asyik bila memegang HP, sambil bermain games. Rasa hormat kepada sosok guru nampak mengalami kemunduran secara nyata, karena dalam perkembangannya anak lebih mengandalkan diri pada kemampuan teknologi gadget, lewat apa yang kemudian dikenal dengan mbah google.

Lihat apa yang terjadi dewasa ini, di saat pandemi Covid-19 belum berakhir, dimana anak-anak kemudian harus belajar secara online atau daring. Kebanyakan kedisiplinan anak sebagai pelajar mengalami penurunan, karena kebanyakan yang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru oleh orangtua mereka. Apakah ini menunjukkan adanya kemunduran pendidikan di bumi ini? Semoga tidak!

Pentingnya pendidikan karakter

Apapun alasannya, yang jelas dalam dunia pendidikan yang pertama dan utama adalah adanya pendidikan yang mampu membentuk karakter seseorang yang dapat dihandalkan. Karena bila seseorang mempunyai karakter yang handal, tentu saja seorang anak akan mampu menghadapi tantangan hidup sedemikian rupa dengan rasa percaya diri, dan tentu saja selalu mengedepankan kejujuran, kedisiplinan dan juga kebersamaan dalam konteks yang luas.

Karena karakter seseorang akan menentukan apakah orang tersebut benar-benar dapat dihandalkan atau tidak dalam setiap sepak terjangnya. Dengan karakter yang dimiliki seperti itu, niscaya bangsa ini akan mampu memiliki orang-orang yang dapat mengisi kemerdekaan sebagai warisan bangsa yang semakin sejahtera.

Setelah setiap anak didik memiliki karakter yang kuat, baru selanjutnya peran guru adalah mampu mewariskan ilmunya kepada peserta didik, sehingga akan tercipta sosok-sosok manusia yang mempunyai kemampuan dan ketrampilan sesuai dengan bidang masing-masing yang dapat disumbangkan dalam gerak pembangunan bangsa berkelanjutan.

Yang jelas ilmu inilah yang dapat diberikan oleh para guru yang telah bersedia menyisihkan waktunya dalam perannya ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan cita-cita luhur proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehingga tidak dapat disangkal lagi memang menjadi tepat apabila sosok guru disebut sebagai seorang pahlawan yang sejati dalam menyiapkan para generasi penerus bangsa di masa depan, meskipun mereka tidak pernah mengharap mendapatkan tanda jasa.

Pertanyaannya adalah apakah masih ada pahlawan tanpa tanda jasa itu? Masih adakah figur guru yang tetap dapat dihandalkan untuk menyiapkan generasi penerus yang mampu mengisi kemerdekaan ini di masa depan?

Semuanya akan sangat bergantung pada dedikasi para guru yang kita miliki, yang mampu memberikan pendidikan karakter yang handal bagi peserta didik dan mampu mentransfer ilmunya kepada para muridnya. Semoga di Hari Guru se Dunia (Internasional) pada tahun ini yang diperingati pada 5 Oktober dan bertepatan juga dengan Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), para guru semakin maju dan mampu juga menyerap serta mengembangkan teknologi, dalam dunia pendidikan formal yang ada, sehingga apa yang diharapkan oleh pemerintah dengan slogannya di hari kemerdekaan ke 76 kemarin, yakni Indonesia Maju, Tangguh dan Tumbuh akan semakin cepat terwujud.

Jayalah para pahlawan tanpa tanda jasa, semoga tetap semangat dalam memberikan ilmunya kepada anak didiknya. Oh guru, engkaulah sungguh para pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat Hari Guru, dan sukses selalu. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here