Manusia Pembelajar

    76
    0
    Muhammad Roni Indarto, Dosen Sekolah Tinggi ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta

    BERNASNEWS.COM – Terasa sangat menyenangkan dan membanggakan dari sebuah kejadian atau pengalaman pada waktu terselenggaranya acara pengembangan diri bagi tenaga pengajar (dosen) di sebuah perguruan tinggi manajemen yang terkenal di kota Pendidikan Yogyakarta. Materi pengembangan diri yang diikuti oleh para tenaga pengajar (dosen) tersebut sebetulnya sudah tidak asing lagi bagi para dosen tersebut, yaitu program statistic untuk alat analisis regresi dengan variabel mediasi dan moderasi.

    Namun yang membuat senang dan bangga adalah antusiasme semua dosen yang ada di perguruan tinggi tersebut baik dosen senior maupun para dosen muda, dari usia pengabdian yang sudah hampir pensiun, ada yang 2 tahun menjelang pensiun, sampai dengan usia pengabdian dosen yang masih sangat lama.

    Antusiasme para dosen dalam mengikuti pengabdian ini tentunya terkait banyak hal, salah satunya adalah bahwa seorang dosen atau tenaga pengajar adalah manusia pembelajar. Manusia pembelajar menurut  James R Davis dan Adelaide B Davis, seperti yang dituturkan oleh A Ilyas Ismail menunjuk kepada orang-orang yang mencintai hal-hal baru, pemikiran baru, dan keterampilan baru (new skill). Ia belajar bukan hanya untuk mengetahui (learning to know), tetapi lebih dari itu untuk berpikir (to think) dan memecahkan masalah (to solf the problem).

    Pada era ini, era globalisasi atau era borderless world, menjadi manusia pembelajar sangatlah penting, karena era ini adalah era dimana perubahan sangatlah cepat. Terasa sangat sulit untuk mengejar perubahan di bidang teknologi yang sangat cepat tanpa belajar dan belajar terus menerus. Bahkan ada fenomena yang cukup pelik di perguruan tinggi, bahwa pada kenyataannya saat ini laju kehidupan dan perubahan di dunia kerja lebih cepat dibandingkan laju perubahan di dunia Pendidikan (perguruan tinggi), sehingga muncul persoalan bahwa kemampuan lulusan dunia pendidikan, termasuk lulusan perguruan tinggi, belum mampu untuk berkorespondensi dengan kebutuhan dunia kerja saat ini, sehingga semua perguruan tinggi saat ini didorong untuk membuat kurikulum yang capaian pembelajarannya dapat berkorespondensi dengan industri dan dunia kerja.

    Ada fenomena yang menarik terkait dengan dunia belajar, ada dua motivasi manusia di dalam dunia belajar, seperti dituturkan oleh A Ilyas Ismail, yaitu manusia termotivasi belajar karena adanya sebuah sertifikat atau adanya sebuah penghargaan, sehingga manusia ini belajar karena untuk mencari gelar atau selembar kertas yang menunjukkan penghargaan bahwa mereka sudah bergelar atau memiliki predikat tertentu. Sehingga mereka belajar tidak untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan ataupun kompetensi, atau bahkan meningkatkan sifat produktif (bakat, menurut Abah Rama Royani) yang dimiliki. Mereka hanya termotivasi belajar untuk memperoleh kedudukan tertentu atau pekerjaan tertentu saja.

    Motivasi kedua manusia belajar adalah karena mereka memang memiliki keinginan untuk terus menerus mencari ilmu di setiap kesempatan dan pada setiap kejadian yang dialaminya. Mereka terus menerus mempertinggi dan memperdalam ilmu yang dimiliki, menjadikan mereka educated people dan skilled people. Mereka menyadari bahwa dalam era globalisasi ini penguasaan terhadap ilmu sangatlah penting dan utama.

    Karakteristik Manusia Pembelajar

    Berkenaan dengan manusia pembelajar ini banyak pakar yang memberikan beberapa karakteristik tentang manusia pembelajar. Pertama, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan keingintahuan yang tinggi, maka dia memiliki motivasi untuk mengetahui tentang berbagai hal yang ada di sekitarnya untuk dipelajari dan diketahui, dengan memberikan beberapa pertanyaan dalam dirinya, what, where, when, why dan how berkenaan kejadian yang dialaminya atau pengetahuan yang dipelajarinya.

    Kedua, optimisme yang tinggi. Manusia pembelajar memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk dapat mempelajari apapun yang ada di sekitarnya, rasa kepercayaan yang tinggi ini menimbulkan optimisme yang tinggi akan keberhasilan yang mereka inginkan.

    Ketiga, konsisten atau istiqomah. Manusia pembelajar akan terus menerus tanpa bosan untuk belajar dan belajar dimanapun dan kapanpun, bahkan dengan siapapun. Berkenaan belajar dengan siapapun ada sebuah riwayat dari salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Ali Bin Abi Thalib RA, bahwa siapapun yang memberikan manfaat keilmuan pada dirinya maka beliau menganggap orang tersebut adalah guru beliau.

    Keempat, visioner. Seorang manusia pembelajar adalah orang yang berpandangan jauh ke depan, berpandangan jangka panjang, bukan jangka pendek. Manusia pembelajar dapat merangkaikan berbagai ilmu yang diperoleh untuk kemanfaatan manusia dan lingkungan di masa depan.

    Aspek-aspek penting manusia pembelajar

    Seorang pembelajar menurut Seno Gumira Ajidarma sebaiknya memperhatikan tiga hal, yaitu kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk menemukan masalah dan kemampuan untuk memberikan solusi. Menyoal kemampuan untuk belajar di sini tentunya seorang pembelajar mampu untuk mengakses ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai media, baik berupa literatur maupun dari media yang tersedia di lingkungan mereka.

    Aspek yang kedua adalah kemampuan untuk menemukan masalah. Kemampuan ini tentunya terkait pada persoalan kepekaan dari manusia pembelajar terhadap diri dan lingkungannya. Kepekaan semacam ini bisa diartikan kemampuan seorang manusia pembelajar dalam melihat sebuah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya, baik fenomena sosial, ideologi, budaya maupun pertahanan dan keamanan.

    Aspek ketiga yang harus dimiliki oleh manusia pembelajar adalah kemampuan dalam menemukan solusi dari masalah yang ditemukan, Manusia pembelajar adalah seorang yang berilmu dan arif yang dapat memberikan pendapat dan pikiran untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik, membangun peradaban dan melahirkan penemuan-penemuan.

    Ada satu aspek yang tidak kalah penting dari ketiga aspek yang lain adalah aspek ikhlas. Manusia yang ikhlas tidak mengharapkan apa-apa dalam proses pembelajaran. Mereka hanya berharap untuk mendapatkan ridlo Allah SWT Tuhan yang Maha Esa.

    Dengan menambah ilmu manusia pembelajar tidak berharap untuk naik strata sosialnya. Dengan menambah ilmu manusia pembelajar tidak berharap akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dan dengan menambah ilmu manusia pembelajar tidak berharap akan memperoleh pujian dari manusia lainnya.

    Namun tidak secara langsung dan pasti dengan menambah ilmu manusia pembelajar akan memperoleh kemanfaatan jangka panjang, baik itu kenaikan strata sosial, kenaikan jabatan dan pujian dari manusia lainnya meskipun hal-hal tersebut bukan menjadi tujuan utamanya.

    Marilah kita menjadi manusia pembelajar, learning people, karena sesungguhnya setiap umat beragama seharusnya menjadi manusia pembelajar, karena manusia pembelajar adalah mereka yang selalu memperbaiki diri sendiri dari waktu ke waktu dan bermanfaat bagi manusia lain. (Muhammad Roni Indarto, Dosen Sekolah Tinggi ilmu Manajemen YKPN)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here