Home Opini Mandiri Belajar di Masa Pandemi

Mandiri Belajar di Masa Pandemi

146
0
MM. Ratri Retnowati, SPd, Guru SD Marsudirini St. Theresia Boro, Kabupaten Kulon Progo. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Indonesia saat ini sedang dilanda pandemi akibat terjangkitnya virus Covid-19, virus ini diketahui pertama kali berasal dari kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019, yang akhirnya sampai ke Indonesia karena penularan virus ini sangat cepat. Pemerintah akhirnya menerapkan  kebijakaan untuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di beberapa daerah yang terdampak virus ini dan tentu saja hal ini mempengaruhi aktivitas masyarakat karena mereka harus menyesuaikan diri terhadapa situasi ini.

Meskipun tujuan dari kegiatan PPKM ini baik, yaitu untuk mencegah penularan virus Covid-19 semakin meluas tetapi hal ini juga ternyata berdampak negatif. Dampak negative yang ditimbulkan  akibat dari virus itu sangatlah banyak dan sangat dapat kita rasakan secara nyata di masa pandemi ini. Selain berdampak pada sektor kesehatan ataupun ekonomi yang semakin merosot, pendidikan pun juga terkena imbasnya.

Di masa pandemi ini anak diharuskan untuk belajar dari rumah atau yang biasa disebut dengan  Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang terpaksa dilakukan untuk mencegah penularan virus Covid-19 semakin meluas karena sekolah bisa saja menjadi kluster penularan disebabkan banyaknya orang yang berkumpul dalam sekolah tersebut.

Melaksanakan pembelajaran di masa pandemi akibat virus Covid-19, anak diharuskan dapat mandiri dalam belajar. Kurangnya bimbingan dari guru ataupun pendampingan dari orang tua mengharuskan anak untuk belajar secara individu. Ada anak yang harus belajar sendiri dikarena orang tuanya sibuk bekerja sehingga tidak bisa mendampingi anak ketika melaksanakan pembelajaran.

Dalam melaksanakan pembelajaran disetiap harinya anak – anak harus bisa kreatif untuk mencari sumber belajar yang dapat menunjang kegiatan belajarnya. Hanya permasalahan yang timbul banyak anak yang merasa kesulitan untuk bisa mendapatkan sumber belajar selain buku paket yang mereka punya.

Hal ini dirasakan ketika sekolah akan melaksanakan pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau online, ada beberapa siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran tersebut, bukan karena anak tidak mau mengikuti pembelajaran tetapi karena memang tidak mempunyai sarana pendukung untuk mengikuti pembelajaran secara online.

Tidak adanya jaringan internet, susah sinyal, atau tidak memiliki smartphone merupakan permasalahan dari anak – anak tersebut. Kurangnya sarana dan prasana yang digunakan untuk pembelajaran inilah yang menjadi permasalahan yang cukup serius selama anak – anak belajar di rumah. Permasalah tersebut juga dialami oleh siswa – siswa yang besekolah di SD Marsudirini St. Theresia Boro, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Banyak siswa di SD Marsudirini St. Theresia Boro yang tinggal di daerah pegunungan, yang tidak bisa terjangkau sinyal telepon seluler ataupun jaringan internet. Kegiatan pembelajaran secara online tidak bisa menjangkau seluruh siswa dikarenakan beberapa masalah tersebut. Guru pun harus bisa mengupayakan agar anak didiknya dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan memberikan tugas dan rangkuman materi secara manual. Tugas dan rangkuman materi tersebut akan diambil oleh orang tua setiap satu minggu sekali. Jadi setiap hari Senin, para orang tua datang ke sekolah untuk mengambil tugas yang akan dikerjakan oleh anaknya. Saat para orang tua murid datang ke sekolah, protokol kesehatan dilakukan secara ketat, mereka diwajibkan untuk selalu memakai masker, cek suhu, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Para orang tua banyak yang mengeluh karena merasa kesulitan saat mengajari anaknya. Anak – anak juga mengeluh karena merasa sudah bosan melaksanakan pembelajaran dari rumah. Mereka merindukan suasana belajar yang normal seperti sedia kala. Untuk mengatasi hal tersebut, guru dan para orang tua menjalin kerja sama dalam melakukan pendampingan belajar. Para orang tua dapat mengutarakan permasalahnya kepada guru atau sharing melalui kelompok paguyuban wali murid. Dengan adanya komunikasi dan kerja sama yang baik antara guru dan wali murid murid diharapkan kegiatan pembelajaran di rumah dapat terlaksana dengan baik dan lancar. (MM. Ratri Retnowati, SPd, Guru SD Marsudirini St. Theresia Boro, Kabupaten Kulon Progo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here