Home Opini Manajemen Rumah Sakit di Masa Pandemi

Manajemen Rumah Sakit di Masa Pandemi

314
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta Foto : Dok pribadi

BERNASNEWS.COM –Nampaknya sampai sekarang ini pandemi Covid-19 masih belum berkahir, bahkan dengan munculnya varian baru yang dikenal dengan varian Delta, pandemi ini terasa semakin menggila. Sehingga sebagian rumah sakit mengalami kesulitan, terutama dalam menyediakan tempat perawatan bagi pasien yang terpapar Covid 19.

Banyak rumah sakit yang kemudian membuat tempat penampungan pasien secara darurat dengan mendirikan tenda-tenda di halaman rumah sakit tersebut. Belum lagi adanya pasokan oksigen yang diperlukan oleh setiap rumah sakit bagi penderita covid 19 ini.

Tak pelak lagi pihak pemerintah mengeluarkan instruksi yang dikenal dengan Permberlakuan Pembatasan Kegiatan Mikro (PPKM) Darurat bagi masyarakat, terutama di wilayah Jawa dan Bali, sebagai usaha untuk memangkas penyebaran virus yang satu ini. Bahkan di beberapa kota tertentu pemerintah daerah setempat menginstruksikan warganya untuk tetap tinggal di rumah masing-masing, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai virus ini, termasuk upaya pemerintah daerah setempat yang kemudian melakukan penutupan tempat-tempat wisata agar tidak menimbulkan kerumunan massa, yang dapat menyebarkan penularan penyakit ini.

Bagaimana selanjutnya dengan para pengelola rumah sakit yang berupaya untuk menampung para pasien yang terutama terpapar virus Corona ini? Banyak berita yang menyebarkan informasi ke lapisan masyarakat bahwa dengan adanya pandemi tersebut menjadi kewalahan untuk mengantisipasinya.

Banyak bangsal perawatan yang kemudian mengalami over load pasien, sehingga banyak rumah sakit yang kemudian mengubah unit atau instalasi gawat darurat menjadi tempat untuk menampung pasien terkena virus ini. Bahkan terdapat pula rumah sakit yang kemudian mendirikan tenda-tenda darurat di halaman parkirnya untuk menampungnya.

Sungguh ironis secara nyata dialami oleh hampir semua rumah sakit. Belum lagi bila rumah sakit yang bersangkutan kemudian mengalami kendala adanya kebutuhan oksigen yang habis. Seperti apa yang dialami oleh RSUP Dr Sarjito yang pada hari Minggu yang silam terdapat sebanyak 63 pasien Covid 19 meninggal. Gara-gara kehabisan oksigen untuk membantu pernafasan pasien tersebut. Sekali lagi ironis.

Mengantisipasi hal di atas, maka tak pelak lagi kalau menajemen rumah sakit harus ekstra kuat melakukan upaya perombakan di sana-sini agar tidak mengalami kesulitan. Perlu pula diingat bahwa dengan adanya virus ini banyak pula tenaga dokter dan paramedis yang gugur dalam menjalankan tugasnya, karena juga menjadi terpapar virus ini.

Maka seiring dengan meningkatnya pasien yang terpapar virus corona, fungsi manajerial terutama terkait dengan fungsi perencanaan dan pengendalian, harus benar-benar dapat diterapkan secara nyata, dan tentu saja juga disertai dengan penerapan fungsi lainnya seperti koordinasi dengan berbagai pihak terkait, juga fungsi komunikasi yang intensif pula dengan berbagai pihak dan juga kelompok masyarakat, agar benar-benar virus ini segera bisa dipangkas penularannya, agar tidak membengkak jumlah yang terpapar, dan bahkan sampai meninggal dunia.

Kejelian dalam menerapkan fungsi manajerial inilah yang sekarang ini dituntut oleh para manajemen rumah sakit tanpa terkecuali, karena memang kenyataannya pada saat ini kondisi rumah sakit dinyatakan dalam situasi kritis. Mengapa demikian? Karena pada prinsipnya pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut diharapkan dapat pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan yang semakin sehat, dan tidak ada satu pun pasien atau keluarganya yang mengharapkan pulang dalam wujud jenasah alias dalam keadaan meninggal dunia.

Di sisi lain bila kalau dalam situasi bukan pandemi, bagi setiap rumah sakit apalagi yang dikelola oleh pihak swasta, bila pasien yang dirawat banyak berarti rumah sakit tersebut memperoleh penghasilan yang dapat digunakan untuk mendukung biaya operasionalnya sehari-hari, namun hal ini tidak berlaku untuk saat sekarang dimana Covid 19 ini sedang merajalela, sehingga bak malapetaka bagi rumah sakit yang menanganinya, bahkan sebagian besar pasiennya justru mereka yang terpapar corona.

Semoga saja pandemic ini segera berakhir, sehingga kehidupan masyarakat dapat menjadi normal kembali. Dan semoga juga lapisan masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, mengurangi mobilitas, serta menjauhi kerumunan. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN)

Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here