Home Opini Manajemen Air Bersih

Manajemen Air Bersih

84
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen STIM YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – World Water Day atau Hari Air Sedunia ke-29 tahun ini pada intinya merupakan peringatan yang ditujukan untuk semua umat manusia. Dan sebagai usaha menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih serta berbagai upaya penyadaran untuk pengelolaan sumber air bersih yang berkelanjutan. Hari air sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret, yang merupakan inisiatif sidang umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil.

Dalam sidang tersebut ditekankan bahwa air adalah sumber daya alam yang sangat penting bagi seluruh makhluk hidup, terutama manusia. Disebutkan bahwa 80 persen tubuh manusia merupakan air. Sehingga bisa dibayangkan kalau manusia kekurangan air, dapat berakibat mengalami kematian. Begitu pula bagi kehidupan lainnya seperti tumbuh-tumbuhan (flora) dan binatang (fauna)

Di sisi lain halini menunjukkan bahwa masalah utama yang dihadapi berkaitan dengan sumber daya air adalah kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, sedang kualitas air untuk kebutuhan domestik juga terus semakin menurun dari tahun ke tahun (Paryono et.al, 2014).

Dengan memperhatikan hal tersebut, kiranya menjadi demikian penting bagaimana selanjutnya insan manusia berupaya agar mampu me-manage atau mengelola air yang tetap terjamin baik kuantitas maupun kualitasnya.

Indonesia yang merupakan negara bahari yang memiliki wilayah sekitar 60 persen merupakan lautan (air laut), sedang air tawar hanya sekitar 2,5 persen dari seluruh air yang ada di negeri ini. Di sisi lain terkait dengan air, terdapat sungai-sungai di Indonesia 56 persen sudah tercemar, sehingga tak pelak lagi pemerintah melakukan berbagai upaya sedemikian rupa, bagaimana mengelola air agar tetap dapat dikonsumsi oleh masyarakat secara sehat, lewat adanya konservasi air yang ada di bumi ini.

Fakta membuktikan bahwa di wilayah padat penduduk, seperti kota Jakarta, kebutuhan akan air bersih akan semakin meningkat. Itulah sebabnya mengapa kemudian pemerintah berupaya mengajak seluruh lapisan masyarakat agar dapat melakukan konservasi air agar benar-benar dapat membantu kehidupan manusia sendiri.

Konservasi air pada dasarnya mencakup 3 aspek, yakni: (1) keseimbangan.Hal ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan air bagi generasi masa depan.Pengurangan air segar dari sebuah ekosistem tidak akan melewati nilai penggantian alamiahnya. (2) penghematan energi; pemompaan air, pengiriman dan fasilitas pengelolaan air limbah mengkonsumsi energi besar di berbagai daerah di belahan dunia.

(3) Konservasi habitat. penggunaan air oleh manusia yang diminimalisir untuk membantu mengamankan simpanan sumber air bersih untuk habitat liar lokal dan penerimaan migrasi aliran air, termasuk berbagai usaha baru pembangunan waduk dan infrastruktur berbasis air lain (pemeliharaan yang tidak lama).

Dengan memperhatikan apa yang telah diuraikan di atas, kalau ditarik benang merahnya akan nampak bahwa secara tegas menunjukkan kebutuhan air bersih bagi kehidupan umat manusia terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di suatu negara atau wilayah. Sedangkan di sisi lain kalau manusia tidak dapat mengupayakan pelestarian air, maka dapat dipastikan akan mengalami kesulitan hidup, bahkan sekali lagi dapat mengakibatkan kematian.

Untuk hal itu maka tidak salah kalau salah satu provinsi di Indonesia kemudian mengangkat suatu tema yang menyebutkan “Mengelola Air Demi Menjaga Kehidupan” merupakan suatu tindakan yang tepat dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia tahun ini.

 Oleh karena itu guna menjaga kuantitas dan kualitas air bersih, mari kita secara sadar untuk mampu me-manage nya agar tidak mengancam kehidupan umat mausia, dengan cara di antaranya tidak mambuang sampah atau limbah di sungai agar tidak terjadi pencemaran sungai dan lingkungan, menghemat air bersih yang kita gunakan atau secukupnya sesuai kebutuhan saja.

Mulai dari merencanakan penggunaan air, sampai dengan mengendalikan air bersih agar tetap terjaga kelestariannya, guna kehidupan jangka panjang. Semoga bermakna. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here