Home News Mahasiswa UNY Berhasil Ciptakan ‘Folebook’, Untuk Kenalkan Cerita Rakyat pada Anak Tunanetra

Mahasiswa UNY Berhasil Ciptakan ‘Folebook’, Untuk Kenalkan Cerita Rakyat pada Anak Tunanetra

62
0
Cover ‘Folebook’ yang merupakan akronim dari Folklore Braille Book, yang bertemakan cerita rakyat Lembu Suro, karya Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Foto: Kiriman Humas UNY.

BERNASNEWS.COM — Tingkat literasi informasi pada anak-anak khususnya anak difabel dapat ditingkatkan salah satunya dengan gerakan literasi di sekolah. Gerakan literasi di sekolah dapat diwujudkan dengan pendekatan buku kepada siswa yang dilakukan oleh guru, serta harus diadakan evaluasi dalam pelaksanaannya. Salah satu sasaran tersebut adalah anak difabel tunanetra.

Dari survai di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan buku braille sangat terbatas dan sulit untuk ditemukan, padahal keberadaannya bisa dikatakan sangat penting bagi para tunanetra. Bukan hanya buku tentang pengetahuan umum namun juga buku braille yang bertema cerita rakyat.

Dari sinilah sekelompok mahasiswa Universias Negeri Yogyakarta (UNY) yang terdiri dari  Hesti Wulandari dan Ayu Kurnia Utami prodi Pendidikan Akuntansi serta Nur ‘Afiifah Djauharoh prodi Pendidikan Luar Biasa. Mereka melihat peluang usaha yang berkaitan dengan pembuatan bahan literasi berupa buku cerita rakyat menggunakan huruf Alfabet bagi anak-anak pada umumnya dan huruf braille bagi anak-anak difabel, khususnya tuna netra. Selain meningkatkan literasi informasi, buku ini juga mengenalkan cerita rakyat yang ada di Indonesia.

Sekelompok mahasiswa Universias Negeri Yogyakarta (UNY) yang terdiri dari  Hesti Wulandari dan Ayu Kurnia Utami prodi Pendidikan Akuntansi serta Nur ‘Afiifah Djauharoh prodi Pendidikan Luar Biasa pencipta ‘Folebook’. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Menurut Hesti Wulandari, bahwa mereka merancang buku untuk anak usia 4-10 tahun. “Buku ini merupakan solusi bagi para orang tua yang memiliki anak difabel, sekolah luar biasa, dan sekolah inklusi untuk meningkatkan literasi informasi pada anak-anak,” kata Hesti.

Buku ini juga ikut serta dalam menambah literatur bagi penyandang disabilitas khususnya tuna netra, meningkatkan kepedulian pada penyandang disabilitas. Mereka memberi nama bukunya ‘Folebook’ yang merupakan akronim dari Folklore Braille Book.

Ayu Kurnia Utami menambahkan, Folebook merupakan buku bertemakan cerita rakyat Indonesia yang dapat digunakan bagi penyandang tunanetra dan anak–anak pada umumnya. “Dalam Folebook terdapat dua jenis huruf dalam buku ini sisi kanan buku menggunakan huruf Alfabet dan sisi kiri menggunakan huruf braille, jelas Ayu.

Buku ini berilustrasi timbul agar tuna netra tetap dapat membayangkan penggambaran yang ada di dalam cerita. Selain sebagai bahan literasi, buku ini juga berfungsi sebagai media penanaman nilai karakter khususnya pada tuna netra melalui pesan moral dari cerita rakyat.

Nur ‘Afiifah Djauharoh menjelaskan, alat yang digunakan dalam pembuatan Folebook adalah skeetchbook, aplikasi corel draw, pensil gambar, printer braille, penghapus, penjilid buku, penggaris dan alat pembungkus. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah lem, kertas cover (karton jepang), kertas art cartoon untuk isi dan plastik pembungkus.

“Selain itu juga ada cerita rakyat yang kami gunakan sebagai bahan, dalam hal ini kami memakai cerita rakyat Lembu Suro,” ujarnya.

Folebook dengan cerita Lembu Suro, halaman kiri dengan huruf Alphabet untuk anak-anak normat dan sisi kanan dengan tampilan huruf braille untuk anak-anak tunanetra. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Alasan memilih cerita rakyat Lembu Sura, lanjut Nur, karena cerita rakyat ini mengajarkan pendidikan karakter tentang berpegang teguh pada janji. Sebab pada saat ini banyak fenomena ingkar janji karena diiming–imingi sesuatu yang lebih berharga.

Langkah untuk membuatnya adalah, meringkas cerita rakyat tersebut kemudian dibuat sketsanya. Gabungkan ilustrasi dan cerita menggunakan aplikasi corel draw, kemudian filenya dieksport dan dicetak dengan printer braille. Hasil cetakan lantas dijilid dan dicek kualitas produknya.

Buku ini didesain dengan ukuran 27cm x 20cm yang dikemas dengan plastik bening agar tidak mudah rusak. Produk ini merupakan inovasi buku braille untuk anak tunanetra dan non-tunanetra. Karya ini berhasil meraih dana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora tahun 2021 dan lolos dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang akan dilaksanakan akhir Oktober secara daring. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here