Home Pendidikan Mahasiswa dari PTMA se-Indonesia Siap Dukung BKKBN dan Kemenko PMK Perangi Stunting

Mahasiswa dari PTMA se-Indonesia Siap Dukung BKKBN dan Kemenko PMK Perangi Stunting

133
0
Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp.OG(K) selaku Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting bersama Kemenko PMK meluncurkan Program Mahasiswa Penting dari Kampus Terpadu UMY, Jumat (24/9/2021). Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM –Rektor Universitas Muhammadiyah (UMY) Dr Ir Gunawan Budiyanto MP IPM sangat mendukung Program Mahasiswa Penting untuk mendukung percepatan penurunan stunting melalui Tri Dharma PT. Sebanyak 680 ribu mahasiswa dari 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia siap mendukung dan menyukseskan program kemitraan ini.

Turut hadir secara daring, perwakilan BKKBN se-Indonesia dan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dengan melakukan sosialisasi, edukasi dan pendampingan pencegahan stunting di berbagai daerah.

“Bak gayung bersambut, inovasi ini memang selaras dengan Program KKN Tematik yang selama ini sudah berjalan di UMY. Agar lebih optimal, mahasiswa yang akan mengikuti Program Mahasiswa Penting akan diberikan pembekalan baik mengenai materi substansi maupun mekanisme di lapangan,” kata Gunawan Budiyanto dalam peluncuran Program Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), secara hybrid online dan offline dari Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Jalan Brawijaya, Kasihan, Bantul, Jumat (24/9/2021).

Gunawan yakin, dengan kolaborasi dan kerja sama ini, target menuju generasi emas Indonesia di tahun 2045 bisa tercapai, melalui peran mahasiswa dalam menurunkan angka stunting dan gizi buruk di Indonesia.

Sementara drg Agus Suprapto M.Kes selaku Kepala Deputi Koordinasi Bidang Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK menyampaikan, melalui pendampingan mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pencegahan stunting di tingkat keluarga.

“Peran dan keterlibatan mahasiswa di perguruan tinggi memiliki potensi dalam melakukan edukasi kepada masyarakat, sekaligus mengaplikasikan ilmu untuk pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Mahasiswa di lapangan, saran Agus, bisa meneliti dan mengidentifikasi faktor budaya apa saja yang mempengaruhi stunting. “Stunting ini bukan hanya concern orang kesehatan saja, tapi seluruh lintas ilmu. Maka saat memberikan edukasi, mahasiswa juga bisa melakukannya lewat pendekatan budaya setempat dan memberikan contoh,” katanya.

Selanjutnya, Prof drh Aris Junaidi PhD selaku Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) berkeyakinan mahasiswa memiliki potensi dalam melakukan edukasi kepada masyarakat, sekaligus mengaplikasikan ilmunya yang didapatkan saat kuliah guna memberdayakan masyarakat.

Aris menjabarkan, Program Mahasiswa Penting akan dilaksanakan melalui 3 mekanisme, yaitu KKN Tematik, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dan Program Pengabdian Masyarakat lainnya yang diinisiasi oleh PT. “Pelaksanaan KKN Tematik akan mengikuti prosedur KKN reguler yang dilaksanakan oleh masing-masing PT dengan mengambil tema edukasi pencegahan stunting,” katanya.

MBKM sebagai Program inovatif dari Kemendikbudristek dalam upaya menjembatani adanya mata rantai yang putus antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan dan kemajuan di dunia kerja, dapat diintegrasikan dengan Program Mahasiswa Penting.

“Yakni mengajar di sekolah, penelitian, membangun desa, studi atau proyek mandiri, kewirausahaan mahasiswa, dan proyek kemanusiaan,” katanya.

Kemudian, Ir Aris Riyanta MSi selaku Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat Pemerintah Provinsi DIY mewakili Pemerintah Daerah (Pemda) dan warga masyarakat DIY mengapresiasi dan mendukung Program Mahasiswa Penting dalam upaya mendampingi keluarga berisiko stunting.

“Calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui harus mendapatkan edukasi stunting sejak dini. Hal ini urgen untuk dilaksanakan, agar pencegahan stunting dapat dimulai dari tingkat keluarga,” katanya.

Mekanisme KKN Tematik Stunting dan MBKM diharapkan mampu membantu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat akan risiko stunting, sehingga target penurunan stunting nasional sebesar 14 persen pada 2024 dapat tercapai. “Pemda dan PT di DIY siap untuk bekerja sama menetapkan peta sasaran dan perencanaan kegiatan di masyarakat, sebagai bentuk intervensi kegiatan sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan kearifan lokal yang ada,” katanya. (*/lip)

Sementara Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp.OG(K) selaku Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting mengatakan, stunting disebabkan karena kekurangan gizi pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan berlangsung lama sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, maka bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya.

“Tapi ingat, stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting,” ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp.OG(K) yang juga hadir dalam peluncuran Program Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) secara hybrid online dan offline dari Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Jalan Brawijaya, Kasihan, Bantul, Jumat (24/9/2021).

Menurut Hasto, BKKBN secara resmi telah ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting melalui Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. BKKBN kemudian menyusun Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting dalam upaya pencapaian target penurunan stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024 dengan melibatkan semua pihak, termasuk kampus dan mahasiswa. “Salah satu program inovasi yang digagas adalah Program Mahasiswa Mahasiswa Penting,” ungkapnya.

Hasto menjelaskan, konsep dasar Program Mahasiswa Penting adalah kolaborasi antara BKKBN dengan Perguruan Tinggi (PT) dalam upaya melakukan pendampingan kepada keluarga beresiko stunting. “Yaitu remaja atau calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca melahirkan, dan anak usia 0-59 bulan,” kata mantan Bupati Kulonprogo ini dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Jumat (24/9/2021) malam.

Melalui pendampingan ini, Hasto berharap dapat meningkatkan pemahaman tentang pencegahan stunting di tingkat keluarga. BKKBN tetap membuka peluang pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat lainnya yang diinisiasi oleh PT untuk diintegrasikan dengan Program Mahasiswa Penting.

“Dalam upaya meningkatkan komitmen dan dukungan Perguruan Tinggi, pemangku kepentingan, dan mitra kerja terkait lainnya, maka Program Mahasiwa Penting perlu disosialisasikan secara nasional,” imbuhnya.

Menurut Hasto, rangkaian persiapan Program Mahasiswa Penting yang mendesak untuk dilakukan di tahun 2021 diantaranya adalah pengembangan jejaring dengan PT di seluruh Indonesia yang difasilitasi oleh Perwakilan BKKBN Provinsi, dan pelaksanaan pilot project di beberapa PT sehingga dapat dilaksanakan secara optimal pada tahun 2022.

“Melalui peluncuran ini, diharapkan Program Mahasiswa Penting dapat terinformasikan secara masif kepada seluruh PT, dan meningkatkan jumlah PT yang mengintegrasikan Program Pengabdian Masyarakat dengan Program Mahasiswa Penting,” terangnya. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here