Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeOlahragaLomba Jemparingan Mataram Beda dengan Lomba Panahan Nasional, Begini Faktanya!

Lomba Jemparingan Mataram Beda dengan Lomba Panahan Nasional, Begini Faktanya!

bernasnews.com — Falsafah jemparingan atau memanah yaitu panenthange gandewa pamanthenge cipta, bahwa dalam memanah mengutamakan konsentrasi. Melihat sasaran dengan mata hati bukan dengan mata, demikian disampaikan oleh KRT. Jatiningrat, SH, dalam acara Lomba Jemparingan Mataram ‘Piala Ekalaya’ Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lomba tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY dan Paguyuban Jemparingan Mataram Gandhewa Mataram Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, di Alun-alun Kidul, Kemantren Kraton, Yogyakarta, Sabtu (30/7/2022). Dimeriahkan dengan tarian dari Sanggar Tari Kerincing Manis dan Parade Bregada Winata Manggala, Kasihan, Bantul.

KRT. Jatiningrat, SH penghageng Kraton Yogyakarta menunjukkan Medali Ekalaya, yang dibuat era pemerintahan HB VIII kepada awak media. (Tedy Kartyadi/ bernasnews.com)

Diikuti oleh lebih dari 120 peserta, yang terbagi peserta dewasa dan anak-anak dari 4 kabupaten dan kota se DIY, serta dari luar diantaranya dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Juga dihadiri oleh Kepala Bappeda DIY, Paniradyopati Keistimewaan, Dinas Pariwisata Kabupaten/ Kota se DIY, dan Forkocam Kemantren Kraton Yogyakarta.

Jemparingan atau memanah merupakan salah satu pelajaran sejak pemerintahan Sultan HB I, tahun 1757 ketika beliau (Sultan HB I) mendirikan Sekolah Tamanan, dua tahun setelah Perjanjian Giyanti,” terang Romo Tirun, sapaan akrab KRT. Jatiningrat, SH.

Menurut dia, bahwa dengan memanah perasaan akan dilatih. Hal ini sama dengan berdoa yaitu menghayati ketentuan Allah. “Nama Ekalaya sendiri nama tokoh pewayangan yang piawai memanah karena belajar secara otodidak dan bisa mengalahkan kepandaian memanah Arjuna. Ekalaya juga sebagai nama medali yang dibuat pada masa pemerintahan HB VIII,” beber Romo Tirun.

KRT. Jatiningrat, SH sebagai wakil dari Kraton Yogyakarta secara simbolis memukul bende sebagai dibukanya Lomba Jemparingan Mataraman Piala Ekalaya, di Alun-alun Kidul, Yogyakarta, Minggu (30/7/2022). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.com)

Dikatakan, medali Ekalaya di tengahnya ada tulisan sengkala memet Panah Papat neng Tengah Cangkem Siji yang menunjukkan tahun 1934, serta Rasa Luwih Terusing Ati yang menunjukkan tahun Jawa 1916. “Medali ini diberikan kepada para pembina panahan di Jogja, yang terakhir diserahkan pada alm Sastro Widagdo, Sekpri HB IX dan Paku Alam VIII,” pungkas KRT. Jatiningrat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharja, SH, MEd mengungkapkan, bahwa lomba jemparingan atau panahan yang diselenggarakan ini adalah gagrak (model) baru. Sebelumnya lomba panahan juga pernah digelar dengan memperebutkan Piala Hamengku Buwono dan Paku Alam, namun berhenti dikarenakan adanya pandemi.

“Lomba jemparingan ini didanai dengan Dana Keistimewaan, dengan tujuan menumbuhkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Juga untuk melestarikan olahraga panahan atau jemparingan gagrak Mataraman,” kata Singgih.

KRT. Jatiningrat atau akrab disapa Romo Tirun, didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharja membidikan anak panah pada sasaran, sebagai simbolisasi dimulainya rambahan (sesi) pertama Lomba Jemparing Mataraman. (Tedy Kartyadi/ bernasnews.com)

Lomba jemparingan (panahan) Mataraman ini sangat berbeda dibandingkan dengan olah raga panahan prestasi pada umumnya. Pemanah harus berbusana adat dan duduk bersila, posisi busur (Jawa, gandewa) horisontal. Kemudian target sasaran berbentung batang, yang disebut ‘wong-wongan’, yang terbagi kepala (mustaka) berwarna merah, dengan skor nilai 3.

Kemudian dibawahnya garis berwarna kuning, disebut jangga (leher) skor nilai 2, dan badan berwarna putih dengan bidang lebih luas dibanding kepala dan leher. Untuk badan skor nilai 1, paling rendah. Sasaran wong-wongan dipasang dengan cara digantung, dibawahnya ada hiasan semacam bola, yang disebut ‘pocongan’. Jika anak panah menancap di pocongan, peserta mendapat penguran nilai -1.

Jarak sasaran untuk peserta dewasa 30 meter, dan untuk anak-anak 15 meter. Dilakukan untuk dewasa 20 rambahan (Indonesia, sesi), peserta anak-anak 10 rambahan. Setiap satu rambahan peserta hanya diperbolehkan memanah 4 kali atau 4 anak panah. Sehingga peserta dewasa memanah sejumlah 80 kali dan peserta anak-anak 40 kali. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments