Home Pendidikan Lomba Dakon Redam Efek Negatif Konten Game Mutakhir

Lomba Dakon Redam Efek Negatif Konten Game Mutakhir

673
0
Sejumlah anak SD mengikuti lomba permainan tradisional Dakon di panggung Little Malioboro Street Food History of Museum Jalan Parangtritis Sewon, Bantul, DIY, Sabtu (16/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM –-Dewasa ini, dunia anak-anak Indonesia banyak terancam dengan kehadiran game-game gadget yang jelas tak memberikan ruang bagi banyak hal yang seharusnya dilakukan dan dialami. Banyak anak kini memilih untuk tetap berada dalam kamar hanya untuk bermain game elektronik yang bahkan tak jarang menutup ruang komunal sang anak.

Belum lagi dengan konten yang ada dalam game-game mutakhir tersebut, tak jarang bermuatan konten negatif yang sebetulnya belum layak dan pantas dipaparkan pada anak-anak. Tanpa pengawasan yang melekat, tentunya game-game ini akan berbahaya pada fase tumbuh kembang anak-anak dan akan mempengaruhi keadaan saat mereka dewasa.

Suasana lomba dakon di panggung Little Malioboro Street Food History of Java Jalan Patangtritis Sewon, Bantul, Sabtu (16/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

“Sebagai lembaga yang bergerak dalam edukasi dan entertainment, History of Java Museum (HoJM) memiliki kepedulian yang tinggi akan tumbuh kembang anak yang positif, termasuk di antaranya upaya untuk meredam efek negatif dari konten games mutakhir yang mengancam tersebut. Dan dakon atau congklak menjadi media permainan anak yang dipilih sebagai upaya untuk aksi nyata peredaman tersebut,” kata Ki Bambang Widodo SPd MPd, Humas Director Holding History of Java Museum, kepada Bernasnews.com pada lomba Dakon yang diadakan History of Museum di Jalan Parangtritis Sewon, Bantul, DIY, Sabtu (16/11/2019).

Lomba kali ini diikuti 2.017 lebih peserta mulai dari tingkat SD hingga SMA/SMK dari berbagai sekolah di DIY. Lomba memperbutkan trofi dari Kepala Dinas Pariwisata DIY, Bupati Bantul, Kepala Dinas Pariwisata Bantul, dan Kepala Disdikpora Bantul dan uang pembinaan dari Ketua Umum DPP Asosiasi Museum Indonesia. Dalam lomba tersebut para peserta yang duduk bersila dengan antusias mengikuti lomba permainan tradisional tersebut.

Suasana lomba dakon di panggung Little Malioboro Street Food History of Java Jalan Patangtritis Sewon, Bantul, Sabtu (16/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Menurut Ki Bambang Widodo yang juga Ketua Umum Barahmus DIY ini, lomba Dakon dipilih karena sebagai sebuah permainan tradisi, Dakon menjadi salah satu yang sarat dengan filosofi dan memiliki fungsi-fungsi pelatihan bagi sang anak untuk bekal mereka ketika dewasa. “Di Jawa, khususnya Jawa Tengah, orang mengenal Dakon dengan filosofi kejujuran dan ketekunan yang sangat kental,” tutur Ki Bambang Widodo.

Dalam permainan ini, Dakon melatih anak untuk senantiasa terbuka, bersikap jujur, berempati serta menjadi ahli srategi handal dengan perhitungan yang tepat. “Agar tidak berhenti di lubang kosong karena kalau berhenti di lubang kosong kita akan mati,” tambah Ki Bambang.

Secara rinci Ki Bambang Widodo menjelaskan bahwa Dakon adalah 7 lubang berpasangan dengan ujung masing-masing sebuah lubang besar sebagai lumbung, di dalam masing-masing lubang berpasangan tersebut diletakkan biji kecik atau kacang berjumlah 7 butir, masing masing peserta akan menjalankan biji keciknya, di mana tiap lubang di depan akan dibagi satu kecik.

Suasana lomba dakon di panggung Little Malioboro Street Food History of Java Jalan Patangtritis Sewon, Bantul, Sabtu (16/11/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Bila kecik terakhir sampai di lumbung, maka giliran bermain kembali jatuh ke pemain tersebut, bila kecik terakhir jatuh ke lubang lawan maka giliran jatuh pada lawannya, bila biji kecik terakhir jatuh di lubang kosong sisinya, maka semua kecik di sisi lawan yang berpasangan dengan lubang kosong tersebut akan masuk ke lumbung pemilik lubang kosong dan giliran berganti ke lawan juga. Permainan dilakukan dari kiri ke kanan berputar.

Elly Halsamer, CEO MarcommD’Topeng Kingdom Group yang merupakan holding company History of Java Museum memuji dakon sebagai permainan yang sarat perlambang baik. “Penggunaan kecik sebagai biji permainan di Jawa sendiri merupakan perlambang dari becik atau baik, sedangkan jumlah 7 lubang permainan yang dalam Bahasa Jawa itu pitu adalah perlambang dari pitulungan atau pertolongan,” kata Elly seperti dikutip Ki Bambang Widodo.

Selain fungsi filosofis yang ditanamkan pada anak, secara teori Elly juga menyoroti komprehensifnya upaya pelatihan psikologis perkembangan yang terdapat dalam permainan Dakon. “Dakon akan melatih anak secara afektif, kognitif sekaligus motorik yang memiliki fungsi penting dalam perkembangan anak sebagai bekal dalam kehidupan nantinya”, ungkap Elly.

Susana lomba Dakon di panggung Little Malioboro Street Food HoJ, Sabtu (16/11/2019)). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Menurut Ki Bambang Widodo, lomba dakon berlangsung dua tahap, yakni tahap pertama atau babak penyisihan pada 16-17 November 2019 dan tahap kedua atau babak final pada 23-24 November 2019. Event ini menjadi awal dari berbagai event mainan tradisi yang akan digelar oleh History of Java Museum. “Jumlah peserta yang memcapai 2.017 lebih, terdiri dari anak SD, SMP dan SMA/SMK serta kategori umum,” ujar Ki Bambang.

Lomba yang berlangsung di panggung Little Malioboro Street Food HoJ ini juga dimeriahkan dengan festival mainan anak dan bazaar makanan tempo doeloe di Little Malioboro Street Food HoJ. Pengunjung bebas masuk ke venue tanpa harus membeli tiket masuk ke museum melalui pintu food street. “Untuk venue acara kami gratiskan, sedang bagi yang berminat mengedukasi keluarga juga bisa masuk ke Museum dengan membayar tiket,” kata Ki Bambang Widodo.

Ia berharap semua lapisan masyarakat di Yogyakarta bisa hadir dan meramaikan suasana sebagai dukungan pelestarian mainan tradisional dan makanan tradisional.

Elly menambahkan bahwa salah satu pengisi acara di panggung tradisi venue tersebut, adalah murid SLB ABCD Tunas Kasih Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Hal ini memang menjadi komitmen inklusifitas yang diterapkanoleh D’Topeng Kingdom Group untuk seluruh perusahaan di bawahnya.

“Kami memang memegang teguh prinsip inklusitas, termasuk pelibatan teman-teman difabel dalam hampir tiap acara yang kami gelar, karena prinsip kami semuanya sama, semua berkarya, bahkan di perusahaan kami seluruhnya memiliki kuota teman difabel sebagai pegawai. Semangat kami adalah edukatif, inklusif, safety dan entertaining, semuanya dilakukan demi generasi penerus bangsa yang lebih baik,” kata Elly. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here