Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanLKBH dan Fakultas Hukum UP 45 Gelar Webinar Nasional ‘Yogya Anti Kejahatan...

LKBH dan Fakultas Hukum UP 45 Gelar Webinar Nasional ‘Yogya Anti Kejahatan Jalanan’

bernasnews.com — Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UP 45 bekerja sama dengan Fakultas Hukum UP 45 menggelar Webinar Nasional dengan tema ‘Yogya Anti Kejahatan Jalanan’melalui aplikasi Zoom Meeting, Selasa, (19/04/2022).

Kegiatan ini menghadirkan keynote speaker yaitu Erlina Hidayati Sumardi, SIP, MM selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) mewakili Gubernur DIY.

Juga menghadirkan 6 nara sumber antara lain, Direskrimum Polda DIY Kombes Pol H. Ade Ary Syam Indradi, SH, SIK, MH, Kejaksaan Tinggi DIY diwakili oleh Budhi Purwanto, SH, MH, Fisipol UGM diwakili oleh Sosiolog Wahyu Kustiningsih, S.Sos, MA, Prodi Psikologi Universitas Proklamasi 45 diwakili oleh Amin Al Adib, S Psi, M Psi, DPRD DIY diwakili oleh Dra. Hj. Siti Nurjanah, dan Philip Joseph Leatemia, SE, SH, M H. sebagai Direktur LKBH UP 45 Yogyakarta.

Sebagai MC Webinar Nasional dengan Tema “Yogya Anti Kejahatan Jalanan” ini adalah Lucia Setyawahyuningtyas, SH, M Kn. sedangkan untuk Moderator Webinar Nasional dengan Tema ‘Yogya Anti Kejahatan Jalanan’ adalah Bresca Merina, SIP, Mec, Dev.

Erlina Hidayati Sumardi selaku Keynote Speaker menyampaikan, bahwa fenomena kejahatan jalanan di Yogyakarta, dapat diibaratkan api dalam sekam. Kenakalan remaja ini seakan tenggelam tetapi dapat menyulut api konflik secara tiba – tiba akibat faktor emosi sesaat, faktor eksistensi sesaat, pro hegemoni, ataupun narsisme kelompok.

Kenakalan remaja diantaranya yang dapat dipahami sebagai perilaku yang tidak wajar dari seorang remaja yang konsekuensinya adalah dapat dihukum oleh hukum pidana. “Kerentanan masa remaja memang sering menyebabkan berbagai kenakalan. Masalah lain yang kerap ditemui adalah gangguan psikis, ketidakseimbangan emosi, karakter menyimpang dan gangguan perilaku seiring dengan proses pendewasaan,” ungkap Erlina.

Dikatakan, merujuk pada kajian yang dilakukan pada Kaukinan, tahun 2017 penyebab dominan maraknya kenakalan remaja saat ini adalah pengaruh lingkungan, teman bermain hingga faktor kompleks lainnya seperti internet, kurangnya perhatian orang tua, faktor sosial, hingga maraknya obat-obatan terlarang dan minuman keras.

“Dalam upaya meredam pencegahan kejahatan jalanan tersebut Gubernur telah menerbitkan surat edaran, yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, TNI dan POLRI. Pemda DIY sedang merancang sekolah khusus bagi anak yang berpotensi menjadi pelaku kejahatan jalanan ini. Rencananya sekolah dengan sistem asrama ini akan disediakan dan kemudian diberikan tajuk sebagai Jogja Creative Care,” beber Erlina.

Jajaran Pimpinan Universitas Proklamasi 45 (UP 45) berbusana merah foto bersma dengan salah satu nara sumber Webinar Nasional. (Foto: Istimewa)

Sementara Direskrimum Polda DIY Kombes Pol H. Ade Ary Syam Indradi mengungkapkan, bahwa bahwa istilah Klitih yang disebut-sebut di Yogyakarta sebenarnya bukanlah kejahatan jalanan tetapi lebih kepada jalan-jalan untuk mengisi waktu kosong. Namun karena sekarang istilah Klitih dijadikan sebagai kejahatan maka munculah anggapan bahwa klitih adalah kejahatan jalanan.

“Kejahatan jalanan biasanya dilakukan oleh anak-anak muda yang berusia kurang dari 18 tahun yang awalnya melakukan tawuran, saling mem-bully dan menaiki kendaraan bermotor secara berkelompok pada jam – jam tertentu,” terang Kombes Ade.

Kemudian, lanjut Kombes Ade, apabila ketemu dengan kelompok yang lain dan usia yang kurang lebih sama, maka mereka akan saling menyerang. Hal ini dilakukan karena adanya motivasi untuk mencari identitas diri, merasa diri paling hebat dan kuat.

“Korban penyerangan ini jarang sekali dari kalangan orang tua ataupun orang dewasa, biasanya mereka akan menyerang anak-anak seusia mereka juga yaitu dari kalangan remaja,” kata dia.

Sementara itu pembicara lainnya hampir serupa, bahwa kejahatan jalanan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat yakni antara aparat penegak hukum, keluarga, dan masyarakat. Untuk pencegahan bisa dimulai dari hal yang kecil, yaitu dengan menghimbau para generasi muda untuk lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Serta ada payung hukum berupa peraturan daerah (Perda) di DIY yang khusus mengatur mengenai penanggulangan Kejahatan Jalanan. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments