Home Pendidikan Literasi Potong Gambar Berkisah di SD Marsudirini Yogyakarta

Literasi Potong Gambar Berkisah di SD Marsudirini Yogyakarta

556
0
Para siswa-siswi kelas 5 SD Marsudirini Yogyakarta menunjukkan karya literasi potong gambar berkisah bersama Kepala Sekolah FX Oktaf Laudensius, S.Si dan Guru Kelas 5C Christina Retno, S.Pd. di ruang kelas setempat, Jumat (15/10/2021). Foto : YB Margantoro

BERNASNEWS.COM – Ada hal yang berbeda, asyik dan menyenangkan dalam pembelajaran literasi sekolah bagi siswa-siswa kelas 4, 5 dan 6 di Sekolah Dasar (SD) Marsudirini Yogyakarta. Program tersebut adalah literasi potong bergambar.

Untuk siswa kelas 5 dilaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada Jumat (15/10/2021) pagi di sekolah. Untuk siswa kelas 4 dilaksanakan siang hari pukul 12.00 via zoom. Sedangkan untuk siswa kelas 6 dilaksanakan PTM terbatas pada tanggal 18, 19, 21, 22, 25, 26, 29 Oktober 2021.

“Program yang kami lakukan ini sebagai upaya peningkatan literasi baca dan tulis peserta didik melalui kegiatan literasi lima belas menit sebelum pembelajaran dengan membuat potongan kertas berkisah. Ini sebagai bagian dari Rencana Proyek Kepemimpinan (RPK) saya sebagai peserta program diklat calon kepala sekolah bersama Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah (LPPKSPS) Kemendikbud Ristek RI,” kata Kepala SD Marsudirini Yogyakarta FX Oktaf Laudensius S.Si kepada Pegiat Literasi YB Margantoro yang melakukan kunjungan literasi ke sekolah tersebut, Jumat (15/10/2021).

Para guru kelas pengampu kegiatan literasi potong gambar berkisah tersebut adalah Christina Retno SPd (kelas 5C), Basilius Agung W SPd (kelas 5D), Giriwijaya SPd (kelas 5A), Elisabeth Astuti SPd.(kelas 5B) dan Yohanes Haris SPd (kelas gabungan 5ABCD).

Kepala SD Marsudirini Yogyakarta FX Oktaf Laudensius, S.Si menyapa para siswa kelas 5 saat kegiatan literasi potong gambar berkisah di ruang kelas setempat, Jumat (15/10/2021). Foto :YB Margantoro

Para siswa yang dimintai tanggapan saat mengerjakan tugas literasi potong gambar berkisah menyatakan senang mengerjakan tugas tersebut. Mereka menyiapkan materi koran lama, majalah lama atau buku-buku dari rumah dan kemudian dipotong di kelas sesuai dengan pilihan kisah yang akan dituliskan secara mandiri. Dari sisi waktu 15 menit, mereka mengatakan cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

“Kelak ketika satu buku berisi karya potong gambar berkisah itu penuh, terasa seperti buku karya siswa sendiri. Ini yang diharapkan menjadi kebanggaan bagi siswa dan menumbuhkan kecintaan membaca setiap hari. Program ini sekaligus sebagai persiapan siswa mengikuti Asesmen Nasional (AN) dari Kemendikbud Ristek RI yang merupakan evaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan berupa input, proses dan output. Ada tiga instrumen dalam AN yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) literasi dan numerasi, Survey Karakter dan Survey Lingkungan Belajar,” kata Oktaf.

Meningkatkan kompetensi

Menjawab pertanyaan tentang tujuan program literasi potong gambar berkisah, Oktaf Laudensius mengatakan ada tiga hal. Yakni meningkatkan literasi baca tulis peserta didik, meningkatkan kompetensi kepala sekolah, dan menganalisis dampak peningkatan kualitas pembelajaran bagi murid.

Untuk upaya meningkatkan literasi baca tulis peserta didik, indikator keberhasilannya antara lain, mampu menceritakan kembali tulisan cerita singkat dalam kelompok besar, mampu tanya dan jawab tulisan cerita singkat dalam tutor sebaya.       Untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah menyangkut kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi kewirausahaan.      

Sedangkan untuk menganalisis dampak peningkatan kualitas pembelajaran bagi murid dilihat dari segi semangat menulis dengan rapi, tugas-tugas yang diberikan oleh guru dikerjakan tepat waktu, penurunan jumlah peserta didik yang belum baca tulis dengan tidak lancar, dan rata-rata nilai harian meningkat.

Siswi kelas 5 SD Marsudirini Yogyakarta Gizel sedang mengerjakan tugas literasi potong gambar berkisah di kelas setempat,. Jumat (15/10/2021). (Foto : Y.B. Margantoro).

YB Margantoro mengapresiasi kegiatan literasi potong gambar berkisah ini sebagai bagian dari gerakan literasi sekolah. Harapannya, warga sekolah (siswa, guru dan karyawan) dan alumni dapat mengembangkan program ini dan memberikan manfaat secara optimal bagi kualitas kehidupan.  

Oktaf Laudensius menambahkan, SD Marsudirini Yogyakarta bervisi Karya Pendidikan Marsudirini mengembangkan pribadi yang cerdas, beriman pada Tuhan, mencintai sesama dan ciptaanNya. Sedangkan misinya adalah meningkatkan pendidikan religiusitas dan nilai-nilai Kristiani; meningkatkan nilai-nilai kemarsudirinian; meningkatkan intelektual, bakat, hobi dan keterampilan; meningkatkan kepekaan sosial, daya juang, semangat persaudaraan, kejujuran, keadilan, dan kesederhanaan; serta meningkatkan rasa cinta terhadap lingkungan.

Sekolah ini memiliki rombongan belajar (rombel) tiga kelas untuk kelas 1, 2 dan 3, serta rombel empat kelas untuk kelas 4, 5, dan 6. Total siswa-siswi tahun 2021 adalah 479 orang, sedangkan guru dan karyawan 37 orang. (*/lip) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here