Home Pendidikan Literasi Digital Terhadap Pelajar Perlu Dilakukan Sejak Dini

Literasi Digital Terhadap Pelajar Perlu Dilakukan Sejak Dini

790
0
Ahmad M Raf’ie Pratama ST MIT PhD, Dosen Program Studi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, dosen ke-7 yang bergelar doktor di Jurusan Teknik Informatika FTI UII. Ia merupakan lulusan State University of New York-Stony Brook, USA. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM — Sebagian besar pelajar sekolah menengah di Indonesia, mulai dari SMP hingga SMA/ SMK, saat ini memiliki laptop dan telepon pintar (smartphone). Namun, kepemilikan itu belum diikuti dengan pengetahuan yang memadai tentang manfaat penggunaan perangkat tersebut maupun ketrampilan/ kemampuan memadai dalam menggunakan kedua piranti tersebut untuk keperluan yang positif dan produktif.

Karena itu, diperlukan literasi digital sejak dini agar sebelum memiliki piranti tersebut, mereka sudah tahu manfaat penggunaan, cara menggunakan dan tujuan penggunaan maupun fungsi perangkat tersebut untuk hal-hal yang positif, produktif dan bermanfaat.

Hal itu disampaikan Ahmad M Raf’ie Pratama ST MIT PhD, Dosen Prodi Teknik Informatika, Program Magister FTI UII, kepada wartawan di Ruang Program Pascasarjana (PPs) FTI UII, Kamis (19/9/2019), terkait hasil penelitiannya di beberapa sekolah menengah, baik di Jawa maupun luar Jawa. Ahmad Raf’ie sendiri merupakan dosen ke-7 yang bergelar doktor di Jurusan Teknik Informatika FTI UII. Ia meraih gelar doktor di State University of New York–Stony Brook, USA.

Ahmad M Raf’ie Pratama ST MIT PhD. Foto : Istimewa

Menurut Ahmad Raf’ie, laptop dan telepon pintar merupakan dua piranti paling populer yang dimiliki para pelajar di Indonesia. Bahkan lebih dari 80 persen dari 1.157 responden/ pelajar dari empat sekolah menengah (SMP dan SMA) di Pulau Jawa dan Kalimantan yang disurvei, telah memiliki kedua perangkat tersebut sekaligus.

Namun, menurut Ahmad Raf’ie, ada perbedaan signifikan pada kepemilikan dan penggunaan perangkat bergerak di kalangan pelajar berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi dan terutama status sosial ekonomi. Misalnya, laki-laki lebih condong menggunakan komputer desktop, sementara perempuan lebih memilih komputer tablet. Sementara pelajar di luar Jawa lebih mengandalkan perangkat bergerak dibandingkan pelajar di pulau Jawa yang juga mengandalkan komputer desktop dan laptop selain telepon pintar dan komputer tablet.

Dari hasil penelitian itu juga terungkap bahwa lebih dari 98 persen pelajar yang menjadi responden adalah pengguna media sosial reguler, 85 persen merupakan pengguna rutin aplikasi pendidikan setiap pekan dan 42 persen bermain gim setidak-tidaknya satu pekan sekali di perangkat bergerak yang mereka miliki.

Namun, ada perbedaan signifikan pada durasi dan frekuensi penggunaan aplikasi bergerak di tiga kategori tersebut pada beberapa kelompok pelajar yang berbeda. Misalnya, pelajar laki-laki memiliki frekuensi bermain gim yang lebih tinggi, sementara pelajar perempuan cenderung menghabiskan waktu lebih lama di depan perangkat bergerak mereka setiap hari.

Ahmad M Raf’ie Pratama, ST MIT PhD. Foto : Istimewa

“Pelajar SMA menghabiskan waktu lebih lama di depan perangkat bergerak setiap hari, sementara pelajar SMP menghabiskan waktu lebih lama untuk bermain gim di perangkat bergerak setiap hari. Dan pelajar yang memiliki perangkat bergerak mahal cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di depan perangkat bergerak mereka setiap hari. Namun tidak ada perbedaan signifikan dalam frekuensi penggunaan aplikasi bergerak dibandingkan pemilik perangkat bergerak yang lebih murah,” kata Ahmad Raf’ie.

Meski sebagian besar pelajar sudah memiliki dan menggunakan dua piranti tersebut, namun menurut Ahmad Raf’ie, mayoritas pelajar masih lebih memilih buku cetak daripada buku elektronik. Hal ini bisa dilihat dari beberapa faktor yang secara signifikan mempengaruhi preferensi tersebut. Pelajar di kelas dan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pelajar di luar pulau Jawa, pelajar yang menilai dirinya lamban dalam adopsi teknologi informasi dan pelajar yang tidak memiliki akses ke jaringan Wi-Fi adalah kelompok yang paling rendah minatnya pada penggunaan buku elektronik.

Namun demikian, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan pada preferensi format buku di kalangan pelajar sekolah menengah ini berdasarkan jenis kelamin, status sosial ekonomi dan jenjang pendidikan. Selain itu, hampir seluruh pelajar mendukung program buku sekolah elektronik yang dicanangkan pemerintah sejak hampir satu dekade yang lalu.

Dalam penelitian ini, menurut Ahmad Raf’ie, lebih dari 91 persen pelajar mengaku memiliki pengalaman dengan proses pembelajaran daring (e-learning), namun hanya 67 persen yang mengaku memiliki pengalaman dengan proses pembelajaran menggunakan perangkat bergerak (m-learning). Pelajar di tingkat SMA, pelajar di pulau Jawa dan pelajar yang memiliki akses ke jaringan Wi-Fi adalah kelompok yang paling besar kemungkinan untuk memiliki pengalaman e-learning dan m-learning.

“Komputer tablet memiliki peran khusus dalam hal m-learning, meski telepon pintar tetap dapat membantu, terutama bagi para pelajar yang tidak memiliki komputer tablet. Pelajar yang lebih memilih m-learning dibandingkan e-learning pada perangkat komputer desktop ataupun laptop identik dengan jenis pembelajar yang aktif dan kolaboratif,” kata Ahmad Raf’ie.

Sementara model penerimaan teknologi yang diperluas (extended TAM) yang diusulkan dalam disertasi ini mampu menjelaskan hingga 73,4 persen variasi dan memprediksi penerimaan atas m-learning di mana semua faktor terbukti berpengaruh signifikan. Di antara semua faktor yang ada, motivasi internal, baik sikap (attitudes) maupun kenikmatan yang dirasakan (perceived enjoyment), merupakan faktor yang paling berpengaruh atas penerimaan m-learning di kalangan pelajar sekolah menengah di Indonesia. Namun demikian, keduanya sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni pengaruh lingkungan sosial (social influence).

Tiga faktor yakni nilai mobilitas yang dirasakan (perceived mobility value), kegunaan yang dirasakan (perceived usefulness), dan kondisi yang memfasilitasi (facilitating conditions) dimoderasi oleh tiga faktor lain, yakni usia, jenis kelamin, dan lokasi, di mana usia berperan lebih besar dibandingkan dua moderator lainnya.

Sebagai contoh, pelajar usia SMP tidak menganggap penting nilai mobilitas dan kegunaan yang dirasakan dalam penerimaan mereka atas m-learning layaknya pelajar usia SMA. Sebaliknya, kondisi yang memfasilitasi adalah faktor penting untuk menerima m-learning bagi pelajar usia SMP, namun tidak bagi pelajar usia SMA.

Dengan kata lain, pelajar usia SMP lebih mementingkan kenikmatan yang dirasakan dan lebih membutuhkan dorongan eksternal, baik berupa pengaruh lingkungan sosial maupun kondisi yang memfasilitasi untuk bisa menerima m-learning.

Semua temuan di atas, menurut Ahmad Raf’ie, dapat membuka wawasan yang lebih luas terkait dengan kepemilikan, penggunaan, dan pembelajaran menggunakan perangkat bergerak, khususnya di kalangan pelajar sekolah menengah di Indonesia.

“Informasi ini dapat menjadi bekal bagi para pengambil kebijakan untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi bergerak dalam rangka meningkatkan capaian pendidikan di Indonesia dan mungkin juga di negara-negara berkembang lainnya,” kata Ahmad Raf’ie. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here