Home Opini Lesunya Dunia Pendidikan Akibat Pandemi Corona

Lesunya Dunia Pendidikan Akibat Pandemi Corona

388
0
Febriana Lindiawati, Mahasiswa Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Berdasarkan data perkembangan kasus virus Covid-19 yang dirilis dari Kementrian Kesehatan, mulai dari 1 Maret-1 Desember 2020, didapati pemetaan karakter epidemiologi dari Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Sejak adanya virus Covid-19 yang ada di Indonesia membuat masyarakat menjadi takut akan penyebaran virus tersebut. Pemerintah berpikir keras untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 yang sangat darurat pada saat itu.

Upaya darurat Pemerintah pada saat itu adalah meliburkan seluruh sekolah, kantor, dan menutup segala tempat perbelanjaan dan hiburan. Sekolah yang awal diliburkan pada minggu kedua maret 2020 selama 2 minggu untuk darurat Covid-19 itu diperpanjang hingga saat ini karena merebaknya virus tersebut.

Hal ini dilakukan karena meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ ) memanglah pilihan terbaik di masa pandemi ini, PJJ bisa melindungi guru, siswa dan keluarga siswa dari paparan Covid-19 ini. Namun, memang PJJ tidak bisa optimal dalam proses belajar mengajar seperti yang biasanya tatap muka langsung di dalam kelas. Selain proses belajar yang tidak optimal, turunnya kesehatan mental para siswa yang bisa diakibatkan oleh ketidaksiapan para siswa untuk melakukan PJJ.

Masih banyak para siswa yang ada di pedalaman desa susah untuk mencari sinyal ataupun tidak memiliki gawai demi belajar di masa pandemi ini. Tidak sedikit para orang tua siswa yang mengeluhkan sistem pembelajaran daring sebagai pengganti belajar tatap muka di dalam kelas. Tidak semua siswa yang memiliki fasilitas yang memadai seperti laptop, smartphone, dan kuota. Mahalnya kuota di daerah pelosok juga membuat mereka berjalan jauh ke tempat-tempat yang memiliki Wifi gratis.

Memang, pembelajaran dari rumah tidak maksimal untuk mendidik siswa. Guru yang biasa mengajar langsung menggunakan papan tulis dan berbicara langsung kepada siswa yang biasanya bisa membuat siswa dan guru menjadi akrab dan bisa spontan memberi pertanyaan kini tidak lah mudah untuk spontan memberi pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan, karena jaringan yang terkadang tidak stabil di tiap-tiap daerah.

Setiap pagi, guru kelas menyapa di whatasapp (WA) grup menyampaikan pelajaran, motivasi dan tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswanya, lalu setelah dikerjakan akan dikirimkan kembali kepada gurunya. Berbagai aplikasi seperti, google, zoom, dan lain-lain digunakan untuk media mengajar dan berdiskusi dengan siswa.

Hal tersebut sudah berlangsung sejak akhir Maret 2020 lalu, sejak pemerintah memberlakukan pembatasan pergerakan demi menekan laju penyebaran Covid-19. “Terus terang sebagai orang tua saya merasakan khawatir dengan kondisi belajar dari rumah”, ujar salah seorang wali murid SMK N 7 Yogyakarta yang telah diwawancarai oleh penulis.

Kondisi yang terjadi adalah ketidaksiapan berbagai pihak untuk menjalankan belajar dari rumah, sebut saja hal pertama yang penulis soroti adalah orang tua, kondisi ini membuat para orang tua sedikit terkejut. Karena harus memaksa diri mereka untuk menambah peran sebagai tenaga pengajar bagi anak mereka. Mengajar adalah sebuah seni, dan tidak semua orang dapat menguasainya.

Membuat anak mereka dapat duduk tertib dan memahami materi pelajaran yang diberikan bukanlah hal mudah, tak jarang komunikasi ini menemukan jalan buntu membuat orang tua bertindak keras pada anak, dan anak pun berontak. Kondisi ini sebetulnya membuat orangtua dan anak sedikit stres. Sementara bagi orangtua yang harus bekerja untuk mencari nafkah, hal ini memiliki tantangan tersendiri, di tengah kelelahan yang dirasakan seharian dan harus melakukan pengajaran tersebut membuat orangtua semakin stres dan tertekan.

Belum lagi jika kondisi orang tuanya yang masih gagal teknologi (gaptek) atau kurang dalam pendidikan, ini lebih rumit lagi tentu membuat orang tua kewalahan. Dan anak juga akhirnya menyerah untuk mengikuti pendidikan secara daring. Bagi anak, belajar dari rumah memilki kerumitan tersendiri mereka merasakan kebosanan dengan metode belajar yang monoton, belum lagi tugas-tugas yang diberikan juga jadi lebih banyak. Jika di sekolah hal itu bisa diobati dengan bertemu dan bermain dengan teman-teman sebayanya.

Bagi guru, belajar dari rumah sebuah pilihan yang mau tidak mau harus dilakukan mengingat tugas dan tanggungjawabnya untuk menyajikan pembelajaran dan sesuai dengan kurikulum. Jika boleh memilih guru juga lebih nyaman mengajar dengan tatap langsung. Karena, dengan demikian guru dapat melihat respon anak, apakah memahami atau tidak tentang penjelasan yang sudah diberikan.

Belajar dari rumah janganlah sekadarnya, hanya memenuhi target kurikulum, tidak ada lagi les tambahan, les bakat, dan juga latihan-latihan olahraga untuk membentuk atlet. Situasi yang tidak biasa ini membuat kita gagap, mungkin sedikit kewalahan. Namun kita harus mampu terus untuk berinovasi, mencari cara dan belajar dari pengalaman yang ada atau sebut saja lesson learn.

Para pendidik, kiranya terus berinovasi mencari metode pelajaran yang kreatif, yang dapat mendukung pelajaran dapat diterima dengan baik dan tidak melulu dengan pekerjaan rumah (PR) yang banyak dan di depan buku. Pelajaran yang kreatif semisal melakukan observasi dengan lingkungan tempat tinggal, alam dan bermain sambil belajar.

Kendala yang banyak dihadapi adalah orang tua saat ini banyak berperan sebagai pendamping pendidik, ini perlu dipikirkan oleh sekolah atau pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk melatih orang tua bagaimana metode mengajar yang efektif kepada anak, sehingga membuat orangtua terlatih untuk mengajari anaknya di rumah.

Bagi orang tua yang kurang mampu, perlu dipikirkan bagaimana masyarakat memilki akses teknologi. Karena dengan metode belajar dari rumah mau tidak mau pengeluaran baru bertambah yaitu pembelian paket internet. Jika selama ini, bantuan pemerintah disalurkan untuk operasional sekolah, namun karena para siswa belajar di rumah tentunya dana operasional seperti listrik, air berkurang untuk sekolah, perlu dipikirkan oleh pemerintah untuk mengalihkan dana tersebut untuk kepentingan tersebut.

Kiranya kondisi pandemi ini tidak serta merta membuat dunia pendidikan menjadi lesu. Terlebih saat memperingati hari anak di bulan Juli kemarin, kita harus semakin bahu membahu membenahi pendidikan Indonesia. Sekalipun belajar dari rumah, mari bersama-sama bergandengan tangan untuk menciptakan generasi bangsa yang tangguh, berkompeten dan berkualitas.

Situasi sulit tidak membuat kita patah arang tapi sebaliknya situasi sulit membuat kita semakin berjuang menjadi lebih baik untuk orangtua, pihak pendidikan dan juga anak didik. Mari tetap memenuhi hak anak untuk menyajikan pendidikan yang berkualitas demi generasi yang cerdas, Indonesia maju. (Febriana Lindiawati, Mahasiswa Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here