Home Opini Lebaranomics di Masa Pandemi

Lebaranomics di Masa Pandemi

325
0
Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen FBE UAJY (Atma Jogja), Pengurus ISEI DIY & Pengurus KADIN DIY. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Hari raya Idul Fitri 1442 H telah disambut dan dirayakan oleh seluruh umat muslim. Perayaan hari Idul Fitri atau Lebaran pada tahun 2020 dan 2021 dilakukan pada saat kondisi Pandemi Covid-19. Kondisi tersebut menjadikan efek pengganda (multiplier effect) hari raya Lebaran tentu tidak sekuat jika dibandingkan pada saat sebelum pandemi.

Artikel singkat ini mencoba mencermati dampak hari raya Lebaran terhadap kegiatan ekonomi (Lebaranomics). Kegiatan ekonomi di hari raya Lebaran tentu terkait dengan kegiatan ekonomi di bulan Ramadan (Ramadanomics).

Di bulan Ramadan kegiatan konsumsi masyarakat terhadap produk makanan, misalnya daging, telur dan daging ayam, meningkat. Kondisi tersebut mendorong terjadinya inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan (demand pull inflation). Kenaikan harga komoditas pangan pada bulan Ramadan, disebabkan faktor berikut (Sri Susilo, 2021): (1) meningkatnya permintaan (over demand). (2) Reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga komoditas. (3) Sikap produsen terhadap informasi kenaikan harga.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada April 2021, indeks harga konsumen (IHK) nasional mengalami kenaikan atau inflasi sebesar 0,13% secara bulanan (month to month/mtm). Komoditas penyumbang inflasi tersebut mulai dari daging ayam ras, minyak goreng, rokok kretek, hingga emas. Kota Yogyakarta pada Bulan April 2021 mengalami inflasi sebesar 0,01%. Beberapa komoditas yang memberikan andil mendorong terjadinya inflasi diantaranya daging ayam ras naik 8,29% dengan memberikan andil sebesar 0,07%.  Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas minyak goreng (1,79%), jeruk (6,65%), dan daging sapi (2,44%).

Adanya peningkatan permintaan terhadap komoditas pangan sebenarnya sudah diantasipasi dengan meningkatnya pasokan di pasar. Salah satu penyebab masih terjadinya kenaikan harga karena reaksi konsumen yang menganggap kenaikan harga di bulan Ramadan merupakan hal yang lumrah. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan sebagian penjual dengan menaikkan harga.

Menjelang Lebaran terdapat beberapa kebijakan dan tradisi yang dapat mendorong masyarakat meningkatkan konsumsi (consumption driven). Kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR) yang diberikan kepada seluruh ASN/TNI/Polri serta karyawan/pekerja BUMN/Swasta, dipastikan sebagian THR yang diterima akan digunakan untuk kegiatan konsumsi. Aktivitas konsumsi tersebut sedikit banyak akan menggerakkan sektor riil dan pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi (consumption led growth).

Tradisi mudik juga menjadi faktor penentu dampak Lebaranomics. Larangan mudik pada tahun ini menjadikan dampak tersebut berkurang sangat signifikan. Di sisi lain, meskipun tidak mudik masyarakat (yang berdomisili dalam negeri dan luar negeri) tetap mengirimkan uang ke saudaranya di daerah asal atau kampung halaman.

Sebagai contoh, dana remitansi adalah transfer uang yang dilakukan pekerja asing ke penerima di negara asalnya. Data Bank Indonesia (2020), menunjukkan jumlah dana remintasi periode tahun 2016-2019 selalu meningkat. Dana remintansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tahun 2016, 2017, 2018, dan 2019 masing-masing sebesar Rp 119 Triliun per tahun, Rp. 108 Triliun per tahun, Rp 128 Triliun  per tahun, dan pada tahun 2019 sebesar Rp 138 Triliun per tahun. Pada tahun 2020 terjadi penurunan sebesar 17,6% dibandingkan tahun sebelumnya (Sri Susilo, 2021).

Tradisi lain yang dapat menggerakkan roda ekonomi adalah liburan ke destinasi wisata pascalebaran. Keterbatasan mobilitas karena pandemi tetap memungkinkan masyarakat melakukan rekreasi di lokasi wisata. Sebagai contoh, masyarakat Yogyakarta melakukan wisata lokal di DIY dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (5M) secara ketat. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan maka sedikit banyak kegiatan wisata lokal tersebut dapat menggerakkan ekonomi lokal.

Sebagai catatan penutup, larangan mudik dan pembatasan mobilitas dipastikan mempengaruhi Lebaranomics. Dengan kata lain dampak  Lebaranomics di masa pandemi tentu tidak sekuat dampak sebelum pandemi. Namun demikian, sekecil apapun dampak Lebaranomics pada tahun ini tetap nyata. Kita berharap momentum Lebaran tahun ini tetap berkontribusi dalam pemulihan ekonomi. Selamat merayakan Raya Idul Fitri 1442 H bagi umat Muslim dan Kenaikan Yesus Kristus bagi umat Kristiani. (Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen FBE UAJY (Atma Jogja), Pengurus ISEI DIY & Pengurus KADIN DIY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here