Home News Lantik 3 Bupati dan Wakil Bupati, Sultan : Harus Cerdik Mengatur Skala...

Lantik 3 Bupati dan Wakil Bupati, Sultan : Harus Cerdik Mengatur Skala Prioritas

350
0
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (kiri) menyalami Bupati dan Wakil Bupati Sleman, Bantul dan Gunung Kidul usai pelantikan di Kepatihan Yogyakarta, Jumat 26 Februari 2021. Foto : Dwi Suyono

BERNASNEWS.COM – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwo X meminta Bupati dan Wakil Bupati agar cerdik mengatur skala prioritas agar program-program yang dijalankan agar bermanfaat bagi masyarakat.

Selain it, pada awal menjalankan pemerintahan para bupati wakil bupati segera membelanjakan APBD dan Danai tahun 2021 agar ekonomi masyarakat mulai pulih untuk segera bangkit pada pasca vaksinasi nasional. Hal ini merupakan program simultan penanganan Covid 19 dan pemulihan ekonomi daerah melalui kebijakan pemberdayaan UMKM dan penyusunan daftar prioritas investasi daerah dengan cara-cara yang extra-ordinary dalam situasi darurat covid-19 saat ini.

“Jika bermaksud memasukkan program untuk menepati janji kampanyepada Pilkada, maka setelah dipilah mana yang urgen bagi masyarakat silakan disisipkan pada anggaran perubahan dan pembahasan RKPD tahun anggaran 2022,” kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan pada pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Sleman, Bantul dan Gunung Kidul di Kepatihan Yogyakarta, hari Jumat 26 Februari 2021.

Para kepala daerah yang dilantik adalah Bupati dan Wakil Bupati Sleman Dra Hj Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa SE, Bupati dan Wakil Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih-Joko B Purnomo serta Bupati dan Wakil Bupati Gunung Kidul Sunaryanta-Heri Susanto.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas foto bersama Bupati dan Wakil Bupati Sleman, Bantul dan Gunung Kidu usai pelantikan di Kepatihan Yogyakarta, Jumat 26 Februari 2021. Foto : Dwi Suyono

Gubernur DIY juga mengingatkan agar Bupati menjadikan Forkopimda sebagai ikatan collective leadership yang berkualitas negarawan. Selain itu membuka dialog personal dengan kandidat lain untuk mengadopsi dan mengadaptasi program-program yang bermanfaat bagi rakyat.

“Penggunaan simbol-simbol budaya dan pendayagunaan simpul-simpul komunikasi secara kreatif perlu lebih dikembangkan. Dengan demikian sekaligus menghilangkan sekat-sekat sosial guna memperkuat kembali kohesi sosial dengan merapikan kursi-kursi yang berantakan dan sampah-sampah berserakan ba’da pesta demokrasi usai,” pesan Sultan Hamengku Buwono X.

Dalam konteks kekinian, lanjut Sultan, ada baiknya kita merefleksi pidato Bung Karno 17 Agustus 1954 yang mengingatkan bahwa : janganlah pemilihan umum menjadi arena pertempuran politik demikian rupa hingga membuat membahayakan kmkeutuhan bangsa.

“Saya juga berharap agar semua elemen pemerintahan dan masyarakat membantu bupati-wakil bupati dalam melaksanakan agenda-agenda pembangunan sehingga partisipasi dan kerjasama sinergis itu memberi jaminan rasa aman dan nyaman bagi seluruh rakyat,” kata Sultan.

Bupati dan Wakil Bupati Sleman Dra Hj Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa saat meninggalkan tempat pelantikan di Kepatihan, Jumat 26 Februari 2021. Foto : Dwi Suyono

Pada bagian lain Sultan mengatakan bahwa sesungguhnya masing-masing kabupaten memiliki kekayaan alam yang langka. Sleman dengan gunung api Merapi memicu minat dan keingintahuan ahli-ahli vulkanologi dunia untuk menguak misterinya. Selain itu, keberadaan UGM dan UI sebagai universitas negeri dan swasta tertua di Indonesia di samping banyaknya kampus yang lain.

Sedangkan Bantul, menurut Sultan, selain memiliki wisata Pantai Parangtritis yang terkenal, juga punya kekayaan alam gumuk pasir barchan di Parangkusumo yang luas menarik minat penggemar sand boarding leluasa memilih tempat dan menikmati setiap momen yang jarang bisa didapatkan di lokasi lain.

Adapun Gunungkidul terbayangkan sebagai daerah gersang berbatu dan nonproduktif, padahal kini menyuguhkan misteri pesona alam dengan panorama luar biasa indah bagaikan surga yang terabaikan. Dalam mendayagunakan potensi berupa kelangkaan dan kekayaan alam bukit karst serta sungai dan gua bawah tanah, selain keindahan pantai berpasir putih yang tiada duanya, pemanfaatannya pun harus mampu meningkatkan kesejahteraan karena geoparks juga membawa konsep menyejahterakan masyarakat berbasis konservasi geoheritage.

Selain konservasi, menurut Sultan, juga diperlukan dua unsur mutlak lainnya yakni edukasi dan ekonomi sebagai syarat keberlanjutan status UNESCO global geopark. Kawasan Gunung Sewu menjadi objek penelitian berbagai ilmu yang langka seperti paleontologi yakni studi fosil tentang manusia, tanaman dan hewan purba serta speleologi yakni ilmu penyebab misteri gua bukan hanya untuk kabupaten yang berbatasan dengan laut selatan saja.

“Saya berharap agar ketiganya mampu meresapkan budaya dagang layar. Dalam arti mengambil spiritnya yakni menjadikan budaya kerja dinamis bagi aparat maupun masyarakatnya,” kata Sultan.

Sementara dalam konteks DIY lebih pada penegakan keistimewaan DIY menuju kesejahteraan rakyat yang berkualitas dengan pesan seperti itu agar para bupati dan wakil cerdik mengatur skala prioritas program-programnya bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut Gubernur DIY, berdasarkan pasal 164 UU nomor 8 tahun 2015 tentang Pilkada maka bupati atau walikota dilantik oleh Gubernur di ibukota provinsi. Maka pelantikan atau sumpah jabatan dan pakta integritas ini dinyatakan sah, yang juga bermakna pemerintah bahwakabupaten harus mengikuti kebijakan Presiden melalui Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.

“Terlebih lagi dengan status keistimewaan DIY secara lex specialis selayaknya lebih mengukuhkan koordinasi kebijakan dengan Pemda DIY. Koordinasi dan sinergi bukan berorientasi kekuasaan, tapi pada keterpaduan program agar pelaksanaannya memiliki daya guna dan hasil guna yang optimal bagi masyarakat,” kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here