Thursday, August 18, 2022
spot_img
spot_img
HomeOpiniLagi-lagi Uang!

Lagi-lagi Uang!

bernasnews.com — Membaca judul artikel harian ibukota yang dikirimkan oleh Yang Mulia Duta Besar untuk China dalam group whattsapps, yang berjudul ‘Ekonomi Digital, Pintu Menuju Masa Depan’, saya jadi teringat peristiwa di akhir tahun 1971,  ketika saya berulang tahun yang ke 8. Sebuah peristiwa yang selalu saya ingat, yakni ketika tante/adik perempuan bungsu ibu saya di Solo menikah di Gedung Rahayu saat itu.

Ada acara udik-udik yang disebarkan oleh nenek saya dengan sebuah rantang yang penuh dengan uang logam recehan gambar burung :  Rp. 1, Rp. 2, dan Rp. 5 edisi tahun 1970. Uang logam recehan tersebut secara khusus dibawa oleh kakak ibu saya dari Jakarta. Pada waktu itu beliau  bekerja sebagai bendahara di PT. Pos Telekomunikasi dan Telegram (PTT) yang memungkinkan beliau bisa mudah mendapatkan penukaran uang recehan logam baru tersebut.  Namun karena masih kecil, saya kalah gesit dibanding kakak-kakak dan sepupu saya yang lebih besar dalam rebutan udik-udik tersebut. Saya hanya mendapatkannya sedikit, tapi seneng sekali karena punya uang logam baru.  Sebuah peristiwa yang menarik dan sulit saya lupakan, udik-udik uang.

Pertama kali saya membawa uang receh logam Rp. 2,- bergambar burung berekor panjang untuk  saya belanjakan jajan di sekolah, di kampung saya Jatirejo, Lendah Kulon Progo. Tetapi karena penjualnya baru pertama kali melihat dan merasa aneh, maka uang tersebut ditolak oleh penjual jajan, alasannya karena mereka belum pernah melihat uang tersebut bahkan dibilangnya bahwa uang itu uang palsu. Untung ada kakak kelas saya yang tahu dan bersedia menukarnya dengan dua lembar uang kertas serupiahan, maka saya mendapatkan tiga buah kedondong besar-besar dan saya bagi bersama dua teman saya. 

Memang, sebelumnya tak pernah pegang  uang logam recehan. Saya hanya mengenal lembaran-lembaran   uang kertas yang berlaku waktu itu, karena uang logam 5 sen (kelip) dan 10 sen (ketip) dianggap sudah terlalu kecil nilainya. Yang ada dan saya kenal hanya uang kertas 25 sen (setali), 50 sen (setengah), 1 rupiah (serupiah/segélo) warna merah, Rp. 2,5 (seringgit), Rp. 5 (mangpiah/manggelo) dan Rp. 10 (sepuluh gélo). Ternyata bersamaan dengan uang-uang logam yang saya punya tersebut dicetak  juga pada waktu itu uang logam recehan  Rp. 10,- (kecil dari nikel) Rp. 25,- ada juga Rp. 50,- dan Rp. 100,- (tebal dan berat), yang biasa masih saya gunakan untuk membayar ongkos kendaraan umum ketika saya sudah SMP dan SMA.

Pada waktu itu saya sudah sangat heran sekali,  kenapa orang mau saja dan percaya kepada kertas bergambar yang disebut uang. Orang-orang mau saja barangnya atau tenaganya ditukar dengan kertas atau logam bundar itu. Terutama uang kertas yang nilainya besar-besar, kertasnya memang istimewa yang dicetak oleh perusahaan Percetaan Uang Republik Indonesia (PT. Peruri), ada tanda tangannya Direktur dan Gubernur BI, konon ada jaminan emasnya.

Perjalanan sejarah uang ini berkembang terus,   ada uang  uang seratusan rupiah merah  gambar pak Dirman,  ada limaratusan gambar monyet, ada seribuan gambar pahlawan. Terus ada pula pecahan lima ribuan dan sepuluh ribuan tahun 1980-an sudah menjadi uang besar.  Belakangan ada dua ribuan yang masih berlaku hingga sekarang. Saya lebih heran lagi ketika di era Orde Baru ada uang Rp. 50 ribuan bergambar pak Harto tersenyum (kira-kira tahun 90-an)…. terus malah ada uang kertas Rp. 100 ribuan merah yang bikin banyak orang kemecer. Terakhir dicetak uang kertas monumental, recehan Rp. 75.000,- untuk memperingati HUT RI ke 75.

Sementara uang logam juga mengalami peningkatan angka, penurunan harga. Sudah sulit dijumpai uang lima puluhan rupiah. Sekarang uang logam seratusan, dua ratusan dan limaratusan sudah dianggap kurang berharga oleh anak-anak. Kalau seribuan yang tipis, kecil tapi cukup berat masih diminati. Semua terkait dengan nilai uang.

Saya juga takjub ada kartu ATM yang baru saya lihat ketika saya merantau ke Jakarta mulai tahun 1989. Sepupu saya kalau butuh uang malam-malam tak harus bertemu dengan kasir bank pada waktu siang, tapi bisa langsung ke mesin atm di mana saja sudah ada. ATM itu singkatan dari Automatic Teller Machine atau candaan kakak saya ambil  tendili money-nya. Semangkin hari semangkin banyak orang yang memilih menggunakan atm untuk berbagai transaksi uang yang tentu menambah saya bengong karena saya memang gagap teknologi.  Tetapi ada kelebihan dan kekurangan tentunya, karena tak jarang orang justru dirugikan karena penipuan berabagai transaksi yang berkedok ATM.

Belakangan ketika  ada pandemi malah lebih aneh lagi. Teknologi ATM yang masih saya pelajaripun malah sudah banyak ditinggalkan orang. Lebih 50 persen transaksi saat ini justru sudah menggunakan teknologi baru, yakni dengan istilah keris  yang terdengar oleh telinga saya,  yang ternyata adalah sistem Qris ya. Saya coba bertanya kepada Kakek Gugel apa itu Qris?

Qris itu singkatan dari  Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), adalah standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Teknologi ini karena memungkinkan orang bertransaksi agar tidak perlu saling bersentuhan, agar tidak mudah tertular covid19 yang memang ganas. Bisa menggunakan telepon yang pintar (smart phone), maka tak pelak saya semangkin nggumun dan ngungun. Ternyata cara ini semangkin disukai orang, karena berdasarkan catatan para pengamat hampir separuh orang Indonesia menuju kesana, sampai UMKM yang kecil-kecil pun telah tersentuh sistem ini.

Saya pikir nanti nasib ATM dan PT. Peruri bisa semangkin berkurang perannya. Hanya orang primitip seperti saya yang masih meminta ekonomi uang, tidak sekedar ekonomi barter seperti jaman dulu atau di tempat terpencil.  Nanti akan tak ada lagi istilah’ ambil tendili moneynya’ karenanya bagi ATM bisa saja kiamat semakin mendekat pada nasibnya. 

Kasir-kasir counter bank, supermarket, jalan tol, tempat parkir, stasiun kereta, kondektur, pos retribusi yang cakep-cakep dulu juga semangkin jarang saya temui. Semua diganti robot dengan teknologi digital, menuju era ekonomi digital,  menggunakan uang digital, untuk berbagai transaksi digital dan semua-muanya serba digital, termasuk siaran tivi juga diubah dengan sistem digital. Semua akan terpaksa move on pada uang murni beralih menggunakan uang elektornik/electronic money. Lagi-lagi uang! (Bakti Wibawa, Pereka Ahli Madya pada Badan Riset dan Inovasi Nasional)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments