Home Pendidikan Kuliah Umum FBE UAJY: Sistem Pembayaran dan Akselerasi QRIS

Kuliah Umum FBE UAJY: Sistem Pembayaran dan Akselerasi QRIS

48
0
Dekan FBE UAJY Budi Suprapto membuka acara Kuliah Umum dengan topik“Sistem Pembayaran dan Akselerasi QRIS”, Rabu (11/3/2020), di kampus setempat. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atama Jaya Yogyakarta (FBE UAJY) menggelar Kuliah Umum dengan topik “Sistem Pembayaran dan Akselerasi QRIS”, Rabu (11/3/2020). Acara tersebut bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPwBI DIY) dan ISEI Cabang Yogyakarta dalam rangka “Pekan Nasional QRIS 2020”.

Kuliah umum dibuka oleh Dekan FBE UAJY Budi Suprapto, sebagai nara sumber Irmita Ngesti Handayani, Asisten Analis KPwBI DIY dan Y. Sri Susilo selaku Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY dan Humas FBE UAJY. Bertindak selaku moderator AM Rini Setyastuti dari ISEI Cabang Yogyakarta. Kuliah umum dihadiri 200 undangan yang merupakan mahasiswa FBE UAJY (Prodi Akuntansi, Prodi Ekonomi Pembangunan, dan Prodi Manajemen) dan dosen FBE UAJY.

Y. Sri Susilo selaku Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY dan Humas FBE UAJY sebagai nara sumber dalam acara Kuliah Umum, dengan topik “Sistem Pembayaran dan Akselerasi QRIS”. (Foto: Istimewa)

“Indonesia adalah pasar besar dan potensial untuk menyerap arus digitalisasi. Negara  dengan populasi besar (tahun 2019 jumlah penduduk 267 juta jiwa) dan dengan jumlah generasi milenials yang cukup dominan sekitar 60% dari jumlah penduduk,” uangkap Y. Sri Susilo.

Lebarnya digital gap Indonesia dibanding negara mitra menunjukkan peluang pasar yang besar. Berdasarkan data Bank Indonesia (2020), pengguna/pendaftar mobile phone sebanyak 355,5 juta (dengan penetrasi 133%; penetrasi dunia 67%, ). Selanjutnya pengguna internet sebanyak 150 juta (dengan penetrasi 56%; penetrasi dunia 57%). Pengguna aktif media sosial sebanyak 150 juta (dengan penetrasi 56%; penetrasi dunia 45%).

”Digitalisasi adalah keniscayaan dan Indonesia tergolong sebagai perekonomian yang berpotensi besar menyerap arus digitalisasi tersebut,” tegas Y. Sri Susilo. Fleksibilitas model bisnis digital, membuka lebar pintu peluang inklusivitas khususnya bagi perekonomian seperti Indonesia.

“Di sisi lain, digitalisasi juga membawa konsekuensi risiko yang tidak ringan shadow banking, cyber security, Anti Money Laundering and Counter Financing of Terrorism (AML CFT), proteksi data, dan risiko operasional sewaktu waktu dapat  mengancam keberlangsungan stabilitas ekonomi makro,” ujarnya.

Sementara Asisten Analis KPwBI DIY, Irmita Ngesti Handayani, menjelaskan, bahwa QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard ) adalah standar QR Code, pembayaran untuk sistem pembayaran Indonesia yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia.

“Standardisasi QRIS yang berbasis Merchant Presented Mode (MPM) diharapkan mampu mempercepat inklusi keuangan, khususnya penguatan efisiensi transaksi keuangan UMKM sampai dengan last mile (end-to-end),” beber Irmita.

Y. Sri Susilo, Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY memberikan cindera mata kepada narasumber Irmita Ngesti Handayani, KPwBI DIY. (Foto: Istimewa)

Irmita Ngesti Handayani selanjut menambahkan, ada beberapa manfaat penggunaan QRIS bagi merchant, termasuk merchant UMKM. Manfaatnya adalah, (1) Mengikuti trend pembayaran secara non-tunai-digital serta potensi perluasan penjualan karena  alternatif pembayaran selain kas. (2) Peningkatan traffic penjualan. (3) Penurunan biaya pengelolaan uang tunai/kecil: tidak memerlukan uangkembalian, sebagian uang penjualan langsung tersimpan di bank dan bisa dilihat setiap saat, dan risiko uang tunai hilang/dicuri menurun.

Manfaat berikutnya, (4) Penurunan risiko rugi karena menerima pembayaran dengan uang palsu. (5) Transaksi tercatat otomatis dan bisa dilihat history transaksi. (6) Building credit profile bagi bank, peluang untuk mendapat modal kerja menjadi lebih besar. (7) Kemudahan pembayaran tagihan, retribusi, pembelian barang secara non-tunai tanpa meninggalkan toko. (8) Mengikuti program pemerintah (BI, Kementerian dan Pemda).

Kuliah umum yang dihadiri lebih dari 200 peserta ini, ditutup dengan pemberian cindera mata bagi narasumber dan moderator oleh Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY. Juga foto bersama narasumber dan moderator dengan peserta kuliah umum. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here