Home News KPKC Lebih Sigap Menangani Berbagai Kasus Kekerasan

KPKC Lebih Sigap Menangani Berbagai Kasus Kekerasan

807
0
Para peserta Temu Pengurus dan Relawan Komisi KPKC Kevikepan se-KAS, foto bersama Ketua KPKC KAS Rm FX Endra Wijayanto Pr dan Ketua KPKC Kevikepan DIY Rm Adolfus Suratmo Pr. Pertemuan tersebut berlangsung di Muntilan, Sabtu (29/2/2020) dan Minggu (1/3/2020). Foto : Anton Sumarjana

BERNASNEWS.COM – Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang (KAS) saat ini lebih sigap dalam menangani kasus-kasus kekerasan, khususnya kekerasan yang menimpa umat Katolik, baik terkait masalah intoleransi antarumat beragama maupun yang berlatarbelakang masalah politis.

Beberapa peristiwa kekerasan yang pernah terjadi memberi pengalaman berharga bagi Gereja KAS untuk menyikapi kasus-kasus yang terjadi. Salah satu peristiwa kekerasan berlatarbelakang intoleransi dan radikal adalah penyerangan Gereja St Lidwina Bedog, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Peristiwa yang terjadi pada Minggu (11/2/2017) ini melukai lima orang, tiga umat, satu polisi dan satu pastor. Pastor Karl Edmund Prier SJ , yang tengah memimpin misa. Suliono, sang teroris pelaku penyerangan telah mendapat hukuman.

Suasana diskusi persoalan intoleransi/radikalisme, Narkotika dan HIV AIDSd dan Keutuhan Ciptaan dalam Temu Pengurus dan Relawan Komisi KPKC Kevikepan se-KAS di Muntilan. Foto : Anton Sumarjana

Gereja KAS mempercayakan Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) KAS untuk mengawal dan menyelesaikan kasus ini. KPKC KAS bekerja sama dengan beberapa pihak menangani para korban, dengan memberi advokasi dan pendampingan psikologis, serta mengawal proses persidangan sampai pelaku mendapat hukuman.                   

Kasus-kasus lain terjadi, sebelum dan setelah kasus Bedog. Awalnya, Gereja gamang menangani kasus-kasus yang terjadi. Gereja KAS lalu membentuk Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan yang disingkat Komisi KPKC. Komisi ini diumumkan secara resmi oleh Administrator Keuskupan Agung Semarang Rm FX Sukendar Pr pada 5 Oktober 2016.

Hadirnya komisi ini diharapkan dapat mencermati, mengadvokasi dan menjawab persoalan-persoalan sosial yang berkaitan dengan ketidakadilan dan tindakan negatif yang menyentuh hak asasi manusia. Ruang lingkupnya meliputi persoalan intoleransi/radikalisme, HIV Aids dan Narkotika, Kekerasan dalam Rumahtangga (KDRT) dan Keutuhan Ciptaan (Lingkungan Hidup).

Memberi rasa tenang

Ketua KPKC KAS Romo FX Endra Wijayanto Pr membagikan cerita, bagaimana mengadvokasi dan menangani berbagai peristiwa kekerasan, khususnya yang berkaitan dengan persoalan intoleransi dan radikalisme. Kepada sekitar 50 orang yang mengikuti Temu Pengurus dan Relawan KPKC Kevikepan se-KAS di Muntilan, akhir pekan ini, Rm Endra mengatakan, kehadiran Tim KPKC akan memberi rasa tenang kepada para korban, karena ada yang menemani. Rm Endra memberi beberapa contoh, satu di antaranya ketika ia hadir menemani seorang romo dan umat yang menjadi saksi di pengadilan.

RM Fx Endra Wijayanto Pr. Foto : Anton Sumarjana

Waktu itu, Rm Endra menghadiri persidangan di suatu pengadilan negeri. Di situ ada tentara, polisi dan orang-orang berbaju gamis. Yang berbaju gamis berteriak-teriak. Saat istirahat makan siang, dua orang saksi, satu bapak dan satu romo masuk ke ruangan lain.

“Saya datang mengantar makanan, saya melihat saksi ketakutan. Saya bilang kepada mereka, saya Rm Endra dari KPKC. Wajah romo dan bapak itu, yang tadinya pucat ketakutan menjadi lebih tenang. Mereka merasa ada teman,” ungkap Rm Endra.

Hadir di sisi korban kekerasan memberi rasa tenang. Itu menurut Rm Endra sudah sesuatu. Hal senada ditegaskan oleh Rm Adolfus Suratmo Pr, dalam khotbah misa penutupan acara. Rm Ratmo mengatakan, para korban berada dalam situasi batin yang tertekan. Mereka takut, khawatir dan cemas.

“Kita yang melayani dengan menemani dan menangani para korban, hendaknya tidak takut, tidak cemas dan tidak khawatir. Kita harus lebih tangguh dan percaya diri. Kita yakin bahwa Tuhan bersama-sama kita,” tutur Rm Ratmo, Ketua KPKC Kevikepan DIY.                

Dalam beberapa kasus lain, KPKC pun hadir memberi pendampingan. Di antaranya kasus gugatan terhadap keberadaan Gua Maria Giriwening, kasus penganiayaan di rumah seorang umat Katolik di Paroki Banteng, pemotongan salib di makam Albertus Slamet Sugihardi di Purbayan, Kotagede pada 17 Desember 2018, penganiayaan Ibu Yuni di Sewon, Bantul pada Desember 2018, penolakan pelukis Slamet di Dusun Karet pada 13 Maret 2019, intoleransi di SMP 3 Banguntapan, Bantul pada Jumat – Minggu 19-21 April 2019 dan lain-lain.

Pertemuan pengurus dan relawan KPKC Kevikepan se-KAS ini berlangsung dua hari. Dalam pertemuan ini KPKC Kevikepan memberi laporan kegiatan masing-masing. Peserta dikuatkan oleh penuturan Rm Endra dalam menangani kasus-kasus kekerasan.

Dipandu Sekretaris KPKC Cyprianus Lilik, juga dibahas Standard Operationing Procedure (SOP) penanganan kasus kekerasan. Di akhir sesi, ada diskusi kelompok yang membahas bidang-bidang yang menjadi ruang lingkup gerakan Komisi KPKC. (Anton Sumarjana, Staf Litbang KPKC Kevikepan DIY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here