Home News KPAI Imbau Warganet Stop Sebarkan Video Kekerasan pada Anak di Media Sosial

KPAI Imbau Warganet Stop Sebarkan Video Kekerasan pada Anak di Media Sosial

405
0
Ilustrasi kekerasan pada anak. (Foto: pixabay)

BERNASNEWS.COM – Beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan dengan video kekerasan terhadap anak, seperti video anak di hukum ayahnya dengan cara digantung di jendela, video seorang anak yang dipukul dan ditendang kawan-kawannya di belakang sekolah, hingga siswi yang ditampar orangtua siswa karena sapu yang digunakannya mengenai anak si pelaku penamparan.

Hal ini mendapat perhatian tersendiri dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI mengimbau warganet untuk tidak menyebarkan video kekerasan di media sosial. Menurutnya, jika seseorang menerima video seperti itu, maka yang harus dilakukan adalah melaporkannya pada pihak berwenang.

“Stop di kita. Hapus dan jangan share ke medsos kalau kita menerima kiriman video kekerasan terhadap anak, akan lebih  baik ditanyakan ke pihak berwenang, tapi jangan disebarkan, apalagi di grup,” ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan, dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (4/1/2020).

Ketika menerima video kekerasan terhadap anak, maka ada sejumlah lembaga yang bisa dituju untuk melakukan pelaporan seperti P2TP2A, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), crisis center kepolisian, atau ke pengaduan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

KPAI mengingatkan bahwa dengan menyebarkan video kekerasan, maka Alih-alih membantu si anak, orang-orang dewasa yang merekam dan menyebarkan video dengan menunjukkan anak itu malah jelas-jelas melanggar hak anak atas privasi sebagaimana tersirat di dalam UUD 1945.

“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi,” jelas Retno.

Pihaknya mengajak masyarakat untuk membangun kepekaan sebagai orang dewasa dan mencoba memposisikan diri jika menjadi sosok dalam video tersebut.

“Mari sejenak memikirkan perasaan si anak dan apa dampak jangka panjangnya bagi dia setelah Anda menekan tombol share,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here