Home Opini Koruptor dan Binatang Reptil

Koruptor dan Binatang Reptil

98
0
Ben Senang Galus, Umat Paroki St Paulus, Pringgolayana, Bantul, Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Sampai saat ini banyak penyelenggara negara yang terjerat kasus korupsi, mulai dari pusat sampai di desa. Pertama, di level nasional terjadi masivitas korupsi yang ditandai dengan banyaknya kepala daerah terkena OTT korupsi.

Kedua, di level desa juga banyak kades yang menjadi tersangka karena korupsi dana desa. Adanya dana desa justru melahirkan banyak koruptor di level desa. Ini terjadi karena lemahnya kepemimpinan nasional untuk mengelola dan mengontrol, mengawasi dan memastikan upaya pemberantasan korupsi lebih trengginas dan bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak.

Lalu apakah koruptor itu identik dengan binatang reptil? Tidak ada kata yang tepat untuk disematkan kepada koruptor selain disebut sebagai reptilian, sejenis binatang melata, seperti komodo, buaya, ular dan sejenisnya. Baik koruptor maupun reptil sama-sama makan daging. 

Bedanya kalau koruptor sebelum daging dimakan terlebih dahulu dimasak. Kalau binatang reptil tidak. Begitu daging di depan mata langsung disantap. Makannya cepat-cepat takut direbut temannya. Demikian juga koruptor, begitu dapat uang hasil korupsi, cepat-cepat disembunyikan. Mereka tidak peduli dengan teman di sampingya. Reptil termasuk jenis binatang rakus di dunia. Karena kalau makan tidak pernah kunyah, ditelan mentah-mentah, termasuk kotorannya sekalipun.

Mengapa koruptor disebut reptilian?  Karena salah satu organ tubuh koruptor terutama organ otaknya didominasi oleh sifat reptil. Otak reptil inilah yang memacu pada kebiasaan buruk pada manusia koruptor untuk berbuat jahat, melakukan korupsi. Jadi kebiasaan buruk manusia sebenarnya karena pada organ otaknya terdapat otak reptil.

Paul McLean (2009) dalam National Institut of Mental Health Amerika Serikat, membagi otak manusia ke dalam tiga bagian, yakni otak reptil, otak mamalia tua dan otak mamalia baru (neokorteks). Otak reptil, memiliki fungsi sensoris motorik dan mempertahankan kelangsungan hidup (makan, tempat tinggal, dan reproduksi). Otak inilah yang membuat setiap spesies dapat memiliki rutinitas dan membentuk kebiasaan, tapi juga sangat menyulitkan untuk berubah, apalagi kebiasaan yang dimiliki berupa kebiasaan buruk. Respons yang dinampakkan saat menghadapi bahaya adalah melawan atau lari atau disebut fight or flight.

Otak mamalia tua, berfungsi memproses perasaan dan emosi, memori, bioritme (denyut jantung, gairah seks, lapar, tidur dan tekanan darah) serta mengatur kekebalan tubuh. Bagian otak ini membuat manusia bisa merasakan kelembutan dan memiliki  sifat ingin memelihara atau merawat sesuai yang kita cintai. Di sisi lain otak ini juga menyebabkan kita melakukan agresi atau perlawanan untuk melindungi diri dan mendominasi. Emosi lain, seperti perasaan takut, juga diproses di bagian otak ini.

Adapun otak mamalia baru (neokorteks), memproses berpikir intelek, penalaran, analisis, logika, bahasa, intuisi dan spiritualitas yang dapat digunakan untuk mengarahkan kecenderungan  pada kedua otak lainnya.

Ketiga otak tersebut mempunyai wilayah kerja yang berbeda-beda, dan ketiganya tidak saling intervensi dan tidak bekerja dalam satu komando. Sehingga kalau manusia melakukan perbuatan jahat, korupsi misalnya, seluruh pikiran dan hati nuraninya dikendalikan oleh otak reptil.

Sifat-sifat seperti membunuh, mencuri, menipu (tidak jujur), berbohong, mengkorupsi, otoriter dan lain sebagainya semacam itu. Maka kalau ada manusia melakukan kejahatan termasuk korupsi uang rakyat, berarti otak reptilnya lebih dominan. Kalau otak reptilnya menguasai seluruh pikiran dan jiwa manusia, otak lainnya sulit melakukan intervensi. Jika otak reptil sudah atau mulai bekerja atau mendominasi pikiran manusia (koruptor), seluruh pikiran dan hati nuraninya tidak normal.

Demikian pula ketika para pejabat suatu pemerintahan tidak kreatif/inovatif, malas berpikir, menghalalkan segala cara (Thomas Hobes), merusak lingkungan, itu artinya otak reptilnya mendominasi hati dan pikirannya. Binatang reptil jika menemukan mangsanya, cenderung tanpa kompromi, tidak ada tawar menawar. Begitu ketemu mangsanya dan dia tahu menguntungkan dirinya langsung sikat.

Begitu pula koruptor, begitu mendapat uang korupsi langsung sikat. Dan binatang reptil sebelum makan terlebih dahulu   mengobrak abrik tubuh korban. Jika kondisi musuh dipastikan sudah mati, pelan-pelan ia menelannya.

Tidak demikian koruptor. Koruptor ketika makan uang rakyat, orangnya masih dalam keadaan hidup, karena yang dikorupsi adalah uang rakyat. Makanya mereka selalu memelihara rakyat miskin, supaya korupsi berjalan terus selama-lamanya. Contohnya korupsi Bansos oleh Juliari Batubara. Hasil jarahan koruptor tidak pernah membagi kepada temannya. Mungkin juga bagi-bagi, tapi bagi-bagi sesama koruptor. Koruptor dan reptil sama-sama tidak memiliki perasaan malu (kecuali memiliki kemaluan), tidak memiliki hati. Jadi antarkoruptor dan binatang reptil beda tipis saja. 

Kasus-kasus korupsi yang semakin mewabah selama ini, adalah gambaran otak koruptor dikendalikan oleh otak reptil. Artinya, otak reptil yang terlalu dominan akan membuat seorang koruptor sulit melepaskan  kebiasaan yang buruk, yakni berbohong. Ini artinya neokorteks seorang koruptor kurang mampu menuntun otak reptilnya untuk berjalan selaras dengan norma-norma yang ada. Alhasil, meskipun secara fisik seorang koruptor berwujud manusia tetapi otaknya masih berwujud otak reptil yang primitif.

Idealnya ketiga bagian otak tersebut berfungsi secara seimbang supaya manusia dapat meraih kesuksesan baik secara pribadi, sosial maupun spiritual. Di antara ketiga otak tadi, diharapkan neokorteks dapat menjadi penuntun kedua otak lainnya agar seluruhnya berjalan dengan harmonis. Bagian neokorteks inilah yang membedakan manusia dengan hewan, yang membuat manusia memiliki martabat tinggi.

 Bagi koruptor tiga bagian otak tidak berfungsi secara harmonis karena fungsi otak justeru lebih didominasi oleh otak reptilnya. Sifat utama koruptor adalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan norma-norma yang ada, baik norma agama maupun norma hukum. Hal ini sesuai dengan sifat otak reptile yang cenderung mempertahankan kelangsungan hidup (makan, tempat tinggal, dan reproduksi) secara membabi buta tanpa diimbangi aspek spiritualitas yang dimiliki oleh bagian neokorteks.

Apabila sang koruptor menghadapi bahaya, misalnya terendusnya kejahatan yang dilakukan, maka ia akan memberi repsons fight atau flight. Respon fight dapat berupa membela diri sekuat tenaga agar tidak terjerat hukuman, bisa dengan menyewa sejumlah pengacara maupun melakukan suap pada oknum yang bersedia meluluskan rencananya. Adapun respons fligt berupa menghilang atau melarikan diri, sekalipun harus ke luar negeri untuk jangka waktu yang tidak jelas.

Kalau ketiga organ otak tersebut berfungsi baik dan saling mengontrol, Indonesia pasti bebas dari korupsi. Namun karena otak koruptor sebagian besar dikendalikan otak reptil maka sulit bagi kita untuk memberantas korupsi. Maka beberapa solusi berikut mungkin perlu kita acu.        

Pertama, karena korupsi termasuk kejahatan luar biasa, maka solusinya harus luar biasa, yakni semua penegak hukum termasuk KPK harus mempelajari kebiasaan para koruptor. Untuk mengetahui itu para penegak hukum memanfaatkan fungsi otak reptilnya untuk mensensor gerak gerik para koruptor. Artinya penegak hukum atau KPK harus memaksimalkan fungsi kerja otak reptilnya juga. Ibaratnya menangkap penjahat harus tahu psikologi kejahatan (penjahat). 

Kedua, setiap politisi atau pejabat yang akan menduduki jabatan tertentu terlebih dahulu dites ketiga organ otaknya untuk memastikan apakah ketiga organ otaknya berfungsi baik atau tidak. Ataukah otak reptilnya lebih dominan. Jika hasil menunjukkan otak reptilnya lebih dominan maka tidak perlu dipertimbangkan untuk diusulkan atau diangkat menjadi politisi atau pejabat. Tentunya yang melakukan tes ini adalah para ahli yang berkompeten di bidangnya.

Ketiga, adalah perlunya partisipasi publik dalam seluruh proses upaya pemberatasan korupsi. Sedangkan yang keempat adalah pemenuhan hajat hidup orang banyak sehingga pemberantasan korupsi itu berasa bagi kepentingan orang banyak.

Hal penting untuk mewujudkannya adalah dengan membebaskan problem masyarakat di sektor yang berkaitan dengan infrastruktur dasar yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan. Dengan pemenuhan itu, masyarakat akan merasakan langsung dampak dari pemberantasan korupsi tersebut. Masyarakat akan merasakan, bukan euforia OTT-nya. Tapi merasa kesejahteraan akan meningkat karena sektor pertanian itu dibebaskan dari proses indikasi manipulasi dan korupsi misalnya. (Ben Senang Galus, pemerhati masalah sosial, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here