Home Opini Sudah Efektifkah Komunikasi dalam Kuliah Online?

Sudah Efektifkah Komunikasi dalam Kuliah Online?

116
0
Geovanni Sekar Kinanti, Mahasiswa Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Seperti  yang kita ketahui, pada bulan Maret 2020 negara Indonesia dilanda Pandemi Covid-19 hingga kini. Pandemi ini memberikan dampak yang begitu besar di beberapa sektor, salah satunya adalah di sektor pendidikan. Banyak sekolah-sekolah harus melakukan sekolah online termasuk universitas atau perguruan tinggi yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Selama pandemi, pendidikan di Indonesia menerapkan sistem pembelajaran daring atau yang biasa kita sebut dengan sistem online. Sistem daring secara resmi dianjurkan oleh Menteri Pendidikan, Nadiem Makariem dalam konferensi video Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19, Senin (15/6/2020).

“Karena keselamatan adalah yang nomor satu, saat ini perguruan tinggi masih melakukan secara online sampai ke depannya mungkin kebijakan berubah. Tapi, sampai saat ini belum berubah, jadi masih melakukan secara daring. Itu adalah keputusan dari Kemendikbud saat ini,” demikian ujar Nadiem, yang dilansir oleh kompas.com (16/06/2020, 10:36).

Selama pembelajaran daring para dosen mengkomunikasikan pembelajaran melalui media online seperti whatsapp (WA), zoom, google meet, google classroom, dan media pembelajaran lainnya. Namun pertanyaannya, apakah komunikasi pembelajaran  yang disampaikan dosen sudah efektif? Apakah mahasiswa akan  paham dengan materi-materi  yang disampaikan?

Pembelajaran daring yang dilakukan memang memberikan sisi positif dan negatif bagi mahasiswa. Sisi positifnya adalah mahasiswa dapat menghindari kerumunan pada saat pandemi seperti ini, sedangkan sisi negatifnya  adalah  susah mendapatkan sinyal, peralatan  kurang memadai  yang pada akhirnya akan  memberikan dampak bagi  mahasiswa terkait kurangnya dan minimnya  pemahaan materi yang diberikan oleh dosen.

”Kalau online kaya gini ada beberapa anak yang mengalami kendala, misalkan teman aku saat kuliah online sedang berlangsung microfonnya bermasalah,” kata Salsa, mahasiswa Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, seperti yang dikutip dari jabar.idntimes.com (30/03/2020, 09:00).

Sejauh ini saya merasa bahwa  komunikasi pembelajaran  yang diberikan dosen masih belum efektif. Mengapa demikian? Tentunya  masih banyak kesalahpahaman antara dosen dengan  mahasiswa. Salah satu  contohnya adalah saat  dosen mengajak mahasiswanya untuk diskusi melalui google classroom, yang dimana pemakaian google classroom tersebut harus me-refresh sehingga apa yang kita diskusikan bisa muncul.

Pemakainan google classroom tidak bisa me-refresh dengan sendirinya, sehingga mau tidak mau kita harus me-refresh agar kita bisa mengetahui apa yang dosen tanyakan atau melakukan feedback atas diskusi yang dilakukan.  Selain itu, saat video call koneksi internet terkadang putus dengan sendirinya, mengakibatkan mahasiswa tertinggal materi yang dijelaskan oleh dosen.

Komunikasi yang disampaikan terkadang juga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh para dosen. Hal ini bisa disebabkan karena tingkat pemahaman setiap mahasiswa berbeda-beda, ada yang hanya membaca modul yang diberikan oleh dosen langsung paham, ada juga yang harus dijelaskan secara terperinci. Namun secara tidak sadar mahasiswa akan berusaha memahami apa yang disampaikan oleh dosen.

Melihat kondisi seperti ini dosen jelas sulit untuk memenuhi semua keinginan mahasiswanya. Solusinya agar mahasiswa mendapatkan pemahaman secara terperinci, dosen sebisa mungkin menjelaskan materi seperti kuliah tatap muka, agar seluruh mahasiswa dapat memahami materi yang dosen jelaskan. Dan jangan terburu-buru dalam menyampaikan materi karena daya paham mahasiswa berbeda, ditambah media yang digunakan tidak selalu bisa diandalkan. (Geovanni Sekar Kinanti, Mahasiswa Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here