Home Pendidikan Kompetensi Keahlian Desain Kreatif Kayu dan Rotan, SMK Marsudirini St.Fransiskus Semarang Kembangkan...

Kompetensi Keahlian Desain Kreatif Kayu dan Rotan, SMK Marsudirini St.Fransiskus Semarang Kembangkan dengan TEFA

140
0
Pembukaan Workshop Pengembangan Teaching Factory (TEFA) Bidang Seni dan Industri Kreatif yang dihadiri Dr. Wardani Sugiyanto, MPd, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan dan Dr Dra. Sarjilah,MPd selaku Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya. (Foto: Kiriman Fredeswinda)

BERNASNEWS.COM — SMK Marsudirini St.Fransiskus, Semarang berencana mengembangkan Kompetensi Desain Kreatif Kayu dan Rotan dengan model pembelajaran Teaching Factory, pada tahun pelajaran 2022/ 2023. Program ini dicanangkan setelah memengikuti Workshop Pengembangan Teaching Factory (TEFA) Bidang Seni dan Industri Kreatif yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pengenbangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, tanggal 17 – 20 November 2021, di SwissBel Hotel Rainforest, Kabupaten Badung, Bali.

Kegiatan workshop ini diikuti oleh 45 SMK Kelompok Bidang Seni dan Budaya yang terpilih  berasal dari seluruh Indonesia. Hadir dari SMK Marsudirini St.Fransiskus adalah Yohanes Sudarna, SPd, MM selaku Kepala Sekolah dan Fredeswinda Oktaria B, SE, SPd sebagai calon pengelola Teaching Factory (TEFA).

Workshop Pengembangan  Teaching Factory (TEFA) Bidang Seni dan Industri Kreatif dibuka oleh Dr. Wardani Sugiyanto, M Pd, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan dan dilanjutkan sambutan Dr Dra. Sarjilah, MPd selaku Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya.

Suasana workshop Pengembangan Teaching Factory (TEFA) Bidang Seni dan Industri Kreatif. (Foto: Kiriman Maredhy)

Dalam sambutannya, Dr. Wardani Sugiyanto, M Pd menyampaikan peran Kepala Sekolah yang sangat strategis dalam menangkap prospek dan tantangan  sekolah bidang seni dan industri kreatif.  “Mengacu pada UU No. 24 Tahun 2019, Ekonomi Kreatif adalah perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang  bersumber dari kreativitas manusia yang berbasis  warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan/atau teknologi,” jelasnya.

Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/ jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. “Pelaksanaan Teaching Factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK,” ujar Dr. Wardani.

Materi yang diterima dan dikerjakan oleh peserta selama workshop meliputi, Kebijakan BBPPMPV Seni dan Budaya, Gambaran Umum  Pengembangan  Teaching Factory (TEFA), Konsep dan Strategi Teaching Factory (TEFA), Best Practice TEFA, Penentuan Produk Teaching Factory (TEFA), Membuat Jadwal Blok, Penyusunan Draf Proposal, Rencana Anggaran, dan Rencana Tindak Lanjut.

Sharing tindak lanjut pengeembangan TEFA oleh Moch Harpan Nusitadhi, MPd, MEng dari SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta. (Foto: Kiriman Maredhy)

Sementara itu, dalam penentuan Produk Teaching Factory (TEFA), SMK Marsudirini St.Fransiskus mengangkat berbagai produk yang berorientasi diminati pasar dan didukung oleh DUDIKA. Semua produk yang akan dikembangkan dalam Rintisan Teaching Factory tersebut berbahan kayu dan dikerjakan dengan tangan maupun mesin, dan telah dikembangkan juga dalam Unit Produksi SMK Marsudirini St. Fransiskus.

Dengan model pembelajaran Teaching Factory (TEFA) ini diharapkan siswa semakin kompeten dan ketika lulus nanti siap memasuki dunia kerja dengan ketrampilan dan Attitude yang memenenuhi standar Dunia Kerja dan Dunia Industri. (Penulis Yohanes Sudarna, SMK St.Fransiskus Semarang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here