Home Ekonomi Komentari Said Didu Soal Utang, Yustinus Prastowo: Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar

Komentari Said Didu Soal Utang, Yustinus Prastowo: Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar

30
0
Staf Khusus Menteri Keuangan RI Yustinus Prastowo. Foto : Anton Sumarjana

BERNASNEWS.COM – Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo mengatakan, meski utang negara terus bertambah namun Indonesia tidak pernah gagal bayar. Sementara utang yang diperoleh Indonesia selain untuk bantuan sosial juga untuk membangun infrastruktur seperti jalan-tol dan non tol, bandara, pelabuhan, sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

Hal itu disampaikan Yustinus Prastowo dalam akun twitternya @Prastow menanggapi cuitan Said Didu di akun twitter @msaid_didu yang menyebut prosentasi utang Indonesia terhadap PDB tidak linear dengan kemampuan membayar karen terkait dengan tax ratio. Said Didu pun meminta penjelasan Yustinus Prastowo perihal data ratio pendapatan dengan utang-ratio yang realistis serta cara membayar utang.

Menurut Prastowo, tidak sulit memahami hal tersebut apabila tidak sekadar main rasio tanpa melihat konteksnya. Meski penambahan debt ratio di atas tax ratio, namun saat kondisi global/domestik tidak sebagus periode sebelmnya dan kita butuh ekspansif, maka utang dan kita tidak pernah gagal bayar.

“Anda mainnya rasio tanpa melihat konteks dan dinamika. Penambahan debt ratio memang di atas tax ratio dan ini bisa dijelaskan. Saat kondisi global/domestik tdk sebagus periode sblmnya dan kita butuh ekspansif, maka utang. Dan kita tdk pernah gagal bayar,” kata Prastowo.

Menanggapi cuitan lain Said Didu yang menyebut Jokowi pamer sudah bangun 1.640 KM jalan tol dalam 6 tahun dan biar rakyat paham, seharusnya ditambahkan penjelasan bahwa dana untukk pembangunan tersebut bersumber dari peningkatan utang pemerintah pusat sebesar 152 persen dan peningkatan utang BUMN Non-Keuangan sebesar 126 persen, Yustinus pun memberikan penjelasan.

Menurut Yustinis, Said Didu hanya hanya menakut-nakuti publik dan menebar keresahan karena seolah utang naik dalam kondisi statis dan normal. Yustinus menjelaskan bahwa pada periode I Jokowi proporsi utang naik 6 persen dengan belanja publik dan hasil yang luar biasa.

Kemudian pada periode kedua mulai 2020-2021 proporsi naik 8 persen untuk menghadapi dampak pandemi. “Dan perlu perjelas juga, dari utang itu kita bisa membangun jalan non-tol, bandara, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dll. Wabil khusus: menangani pandemi, termasuk utk bansos, obat2an dan nakes, dan vaksin yang telah dinikmati paling awal oleh Pak @msaid_didu dkk,” kata Yustinus Prastowo. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here