Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniKlithih, Fenomena Menumpuknya Generasi Konvergen yang Tidak Mengenyam Masa Konsentris

Klithih, Fenomena Menumpuknya Generasi Konvergen yang Tidak Mengenyam Masa Konsentris

bernasnews.com – Fenomena pelajar yang berkelompok mudah tersinggung dengan aksi ‘nggaya’ kelompok lainnya sudah lama dideteksi oleh Ki Hadjar Dewantara. Mencermati dari senjata yang dipergunakan dalam aksinya, sangat terlihat style ‘duplikasi’ dr tontonan di media. Bahkan sampai dengan style watak ‘keji bin dingin’ nya pun seolah meniru tokoh tokoh dalam tayangan kekerasan (komik, film, anime) para remaja sekarang. Mereka meniru begitu saja, copypaste, follower sejati. Seperti kehilangan jati dirinya dan mudah dirasuki pengaruh luar. Ini pernah dibahas dalam topik ‘konsluiting jiwa’ dalam tulisan eyang Ki Hadjar terkait watak vandalisme dan terorisme.

Inilah yang juga dikhawatirkan ketika di usia dini (3,5-7/9 tahun) anak-anak kita melewatkan masa penyiapan wadah, masa KONSENTRIS. Di mana di masa ini anak digembleng dengan aneka isian kearifan lokal bangsa sekitarnya/ bangsa sendiri. Bahkan Ki Hadjar mewanti wanti di sisi bahasa pun di usia ini full bahasa ibu daerahnya. Karena di usia inilah pertama kalinya jiwa terbuka dan merekam segala sesuatunya hingga kelak dewasa. Ki Hadjar mengambil teori ini dari dr Maria Montessori dan Prof Hugo de Vries dengan sangat detil plus Sastra Gendingnya Sultan Agung.

Karena di usia berikutnya, masa intelektual dan masa puber, badai budaya luar akan demikian kuat menerpa jiwa anak-anak kita. Inilah masa KONVERGEN. Agar proses konvergensi berlangsung dg baik, masa KONSENTRIS harus benar-benar disiapkan isiannya. Agar anak mampu menghadapi badai budaya luar dengan tetap berpijak secara instingtif melalui rekaman masa KONSENTRIS nya secara otomatis. Walau dia menyerap bahasa asing, namun tidak lupa dengan bahasa ibunya. Pun demikian dengan perubahan budaya di sekelilingnya. Tidak hanya menyerap budaya luar, namun juga mengKONVERGENsinya dengan watak KONSENTRIS yang sudah melekat dalam jiwanya.

Fenomena yang dikatakan dengan KLITHIH saat ini, akibat kita melewatkan masa KONSENTRIS anak begitu saja. Anak susah sekali dengan pelajaran bahasa Jawa dibanding matematika. Pun lupa dengan unggah ungguh tepa slira jawanya. Generasi yg melewatkan masa KONSENTRIS seperti yang seharusnya konsep materi pendidikannya seperti yang ditulis Ki Hadjar Dewantara, saat ini sudah menumpuk dari generasi ke generasi. Bahkan mungkin generasi yang sekarang sudah menjadi orangtua pun merupakan generasi yg melewatkan masa KONSENTRIS itu. Tumpukan generasi inilah yang membutuhkan penanganan khusus.

Sementara sebelum semakin bertumpuk generasi yang berpotensi memunculkan kasus KLITHIH lagi, maka Jogja yang Istimewa ini harus mencermati dan segera mempraktekkan lagi tulisan Ki Hadjar Dewantara terkait pendidikan berbasis Tri KON ini. Konsep yang utuh bukan sepenggal penggal sesuka yang dimaui saja. (Ki Listyo HK, Ketua Lembaga Sariswara Tamansiswa)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments