Kisah Yatinem, Sosok Lansia Lestarikan Geblek Panganan Tradisional Kulon Progo

    519
    0
    Yatinem sedang melakukan proses pembentukan geblek ataungglintiri geblek, di rumahnya Tosari RT.38/ RW.19, Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo, DIY. (Foto: Luciani Berthin Aninda)

    BERNASNEWS.COM — Yatinem sosok seorang wanita usia lanjut (70 tahun) warga Tosari, Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo, yang telah mengolah dan menjual makanan tradisional geblek sejak tahun 1979. Kisahnya sangat inspiratif, meski usianya yang sudah tidak muda lagi, Yatinem tetap semangat menjalankan rutinitasnya mengolah dan menjual geblek yang ia lakukan seorang diri. Juga tetap mempertahankan proses pembuatan geblek dengan cara tradisional atau secara manual tanpa menggunakan alat bantu berupa mesin.

    Makanan tradisional geblek memang hanya membutuhkan bahan sederhana, sebagai bahan baku utamanya berupa singkong atau ketela pohon. Namun tidak demikian dengan proses pembuatannya yang membutuhkan banyak tahapan dan memakan waktu yang cukup lama. Proses pembuatan geblek dimulai dari mencuci dan mengupas singkong yang dilanjutkan dengan proses pemarutan. Kemudian mencuci kembali parutan singkong bersamaan dengan pengendapan sari pati berikut penjemuran pati hingga kering, kemudian proses pemipitan yang dilakukan selama satu malam.

    Setelah satu malam parutan singkong tersebut dikukus yang sebelumnya diberi bumbu bawang putih halus beserta garam. Parutan singkong atau trempos yang sudah matang kemudian dicampur dengan pati kering, yang dilanjutkan dengan proses penggilingan. Setelah proses penggilingan selesai tahapan berrikutnya adalah pembentukan geblek dan proses yang terakhir pengemasan.

    Yatinem mengungkapkan, bahwa dalam sekali produksi menghabiskan 15 kilogram singkong, dan dari 15 kilogram singkong tersebut dapat menghasilkan 15 bungkus geblek yang pada setiap bungkus berisi 12 biji geblek mentah. Untuk menikmati geblek harus digoreng terlebih dahulu.

    Yatinem sedang melakukan proses penumbukan tremos atau adonan geblek yang sudah dikukus dalam sebuah lumpang. (Foto: Luciani Berthin Aninda)

    Saat ditanyai mengenai omset penjualan dalam sekali jual Yatinem mengatakan, bahwa pendapatan yang diperoleh dalam sekali jual tidak menentu tergantung siapa yang membelinya kalau tetangga atau masih orang terdekat biasanya diberi bonus. “Untuk sekali jual biasanya saya bisa membawa pulang Rp.100.000 kadang kurang,” terangnya, saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/9/2021).

    Terkadang mendapatkan pesanan dari pelanggan, imbuh Yatinem, dalam satu kali pesanan biasanya menghabiskan 20 kilogram singkong, dengan pendapatan pasti sebesar Rp.120.000,- Geblek makanan khas Kulon Progo yang sudah selesai diolah dan dibentuk siap untuk dijual mentah maupun matang (goreng). Untuk menjual geblek yang dibuatnya, Yatinem biasa menjualnya di pasar tradisional Boro, Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo.

    Setiap hari pasaran Pon dan Kliwon, ia berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer dari rumahnya. Untuk hargan geblek sendiri sangatlah terjangkau mulai dari Rp.500,- untuk satu biji geblek matang dan Rp 6.000,- untuk satu bungkus geblek mentah. Kisah inspiratif dari Yatinem seorang penjual geblek yang telah menekuni pekerjaannya membuat dan menjual geblek selama lebih kurang 42 tahun lamanya dengan penuh semangat dan tak lelah.

    Secara tidak langsung kisahnya mengajarkan kepada kita sebagai generasi muda untuk tetap mencintai dan melestarikan makanan tradisional, yang telah melekat dan menjadi ciri khas daerah agar tetap bertahan di tengah maraknya modernisasi, supaya semakin bisa dikenal luas oleh masyarakat luar daerah. Yatinem juga menunjukkan, bahwa usia bukanlah suatu batasan untuk berhenti berkarya. Dan sebagai generasi muda Indonesia harusnya jangan sampai kalah dalam membangun semangat untuk menghasilkan suatu karya. (Luciani Berthin Aninda, Mahasiswa Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here